---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- AS Diduga Rekayasa Kerusuhan Atambua Jakarta (Bali Post) - Pendapat Presiden Abdurrahman Wahid bahwa kerusuhan Atambua merupakan rangkaian sistematis untuk menjatuhkan dirinya, ternyata diamini Ketua DPR Akbar Tandjung. Akbar menilai kerusuhan di Atambua yang menewaskan tiga orang staf UNHCR, bisa saja rekayasa internasional untuk menjatuhkan kredibilitas Indonesia di mata dunia. Selain Akbar, pendapat serupa juga dinyatakan Ketua Komisi I DPR Yasril Ananta Baharudin dan Permadi, S.H. Bahkan, Yasril mengatakan Amerika Serikat (AS) terlibat dalam kasus ini. Menurut Akbar Tanjung, pernyataan Gus Dur di New York yang mengaku ingin dipermalukan dengan kejadian di Atambua itu, kemungkinan ada benarnya. Hanya untuk membuktikan kebenaran itu, masih perlu penyelidikan lebih jauh. ''Untuk saat ini, kita jangan berpretensi buruk seperti itu dulu,'' ujarnya di gedung DPR/MPR Jakarta, Jumat (8/9) kemarin. Peristiwa penyerangan kantor PBB dan pembunuhan tiga orang staf UNHCR di Atambua dua hari lalu adalah sesuatu yang sangat disesalkan. Atas nama DPR, Akbar menyatakan rasa duka cita mendalam bagi para korban. Ia mengatakan, peristiwa Atambua itu sangat mempengaruhi citra Indonesia yang sudah terpuruk di dunia internasional. Presiden Abdurrahman Wahid pun pasti akan kerepotan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari para pemimpin bangsa lainnya yang kini sedang melakukan pertemuan KTT Milenium. Akbar juga mendesak aparat mengambil langkah yang jelas dan tegas dalam menangani kasus ini. Aparat juga harus membantu proses evakuasi staf PBB dari Atambua yang dilakukan PBB. Ketika ditanyakan apakah perlu memberlakukan darurat militer di sana, Akbar menampik kemungkinan itu. Menurutnya, aparat keamanan cukup mengawasi secara intensif para pengungsi. ''Aparat intelijen harus dapat mencegah kejadian ini, agar tak terulang lagi.'' Ia tak sependapat dengan anggapan bahwa peristiwa itu akan mempengaruhi hubungan baik antara Indonesia dan PBB. Menurut Akbar, bagi Indonesia masalah Timor Timur sudah merupakan masa lalu, yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Akbar juga mendesak pemerintah segera menyelesaikan masalah pengungsi Timor Timur ini secepatnya. Menlu Alwi Shihab harus segera melaksanakan janjinya untuk menutup kamp pengungsi Timor Timur, karena terbukti menimbulkan masalah. Mengenai nasib para pengungsi, Akbar mengimbau para pengungsi untuk memilih. ''Jika para pengungsi itu memilih menjadi warga negara Indonesia, pemerintah harus segera merelokasi mereka dan segera memberikan penghidupan baru. Sementara kepada pengungsi yang memilih kembali ke Timor Timur, silahkan saja,'' katanya. Di tempat terpisah, Ketua Komisi I DPR yang membidangi masalah hubungan luar negeri Yasril Ananta Baharuddin juga menyatakan prihatin atas peristiwa itu. Yasril yang juga mantan diplomat ini percaya, peristiwa Atambua memang disengaja dan cenderung berbau rekayasa. Menurutnya, rekayasa itu dapat dibuat siapa pun, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. ''Siapa pun pelakunya, yang jelas tujuannya sama, yakni mendiskreditkan nama pemerintah dan bangsa Indonesia,'' ujarnya. Menurutnya, indikasi rekayasa ini utamanya datang dari luar negeri. Terbukti dengan cepatnya komentar yang keluar dari Sekjen PBB dan Presiden AS Bill Clinton, dengan buru-buru mengatakan pelaku kerusuhan Atambua adalah sisa-sisa anggota milisi pro-Jakarta, tanpa terlebih dahulu melakukan penyelidikan. Yasril mengatakan, sejak dulu sudah meminta pemerintah untuk jangan terlalu dekat berhubungan dengan AS, karena akan membuat kita menjadi sangat tergantung dan mudah diatur-atur oleh mereka. Ia berpendapat, banyaknya kekacauan yang terjadi di Indonesia, sebagian juga didalangi AS. ''Kita harus melawan hal itu,'' ujarnya. ''Kalau perlu, usir saja Dubes AS Robert Gelbard dari Indonesia.'' Sementara itu Permadi, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan yang selama ini dikenal sangat nasionalis mengatakan, peristiwa Atambua membuktikan bahwa Timor Timur memang belum siap merdeka. Indikasinya dapat terlihat dari ucapan Uskup Bello yang merasa tidak mampu memberi makan rakyat banyak. ''Bahkan, Xanana Gusmao pun sekarang mundur sebagai presiden CNRT,'' katanya. ''Itu kan membuktikan bahwa mereka memang tidak siap untuk berdiri sendiri. Cepat atau lambat, Timor Timur pasti akan kembali ke tangan kita lagi.''-*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Sep 2000 jam 05:19:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
