----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 12 September 2000

Pemerintah Merespons Resolusi DK PBB

JAKARTA (Media): Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono
mengatakan pemerintah memahami dan akan merespons dengan tepat
Resolusi Dewan Keamanan PBB No 1319 Tahun 2000. Resolusi DK PBB
itu keluar berkaitan dengan insiden 6 September 2000 di Atambua,
Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam peristiwa itu tiga anggota
UNHCR yang sedang menangani kaum pengungsi eks Timtim, tewas
mengenaskan.

"Sebelum ada Resolusi 1319 pun, pemerintah Indonesia sudah
melakukan sejumlah aksi, baik yang bersifat keamanan, hukum,
maupun sosial," katanya di Istana Merdeka, kemarin, usai
mengikuti rapat koordinasi terbatas yang dihadiri langsung
Presiden Abdurrahman Wahid, dua jam setelah kepulangannya ke
Tanah Air. Juga hadir Wapres Megawati Soekarnoputri, Menko
Perekonomian Rizal Ramli, Panglima TNI Jenderal Widodo AS, dan
Kapolri Jenderal Rusdihardjo.

Pada pertemuan itu, Presiden dan Wapres menekankan, permasalahan
yang berkaitan dengan pengungsi di NTT maupun soal milisi bukan
hanya masalah Indonesia. Karena akar masalahnya berada di dua
wilayah, di Timtim dan NTT. "Indonesia terus berupaya memulihkan
keamanan di NTT, yang sebenarnya sudah relatif pulih sejak 7
September," kata Susilo.

Indonesia, kata Susilo Bambang, menganggap perlu mengklarifikasi
beberapa poin dalam Resolusi 1319. Salah satunya, isu adanya
insiden baru di Betun, NTT yang menyebutkan sejumlah pengungsi
tewas. "Setelah dicek di lapangan berulang kali, berita tersebut
tidak benar," katanya.

Sementara itu kalangan DPR meminta pemerintah tidak menunggu
sampai DK PBB melucuti senjata milisi di daerah kedaulatan
Republik Indonesia. Pemerintah harus secepatnya mengantisipasi
langkah-langkah yang diperlukan, untuk mendapatkan kepercayaan
internasional.

Demikian rangkuman pernyataan Wakil Ketua DPR AM Fatwa dan Ketua
Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) Sabam Sirait kepada pers
menanggapi ancaman DK PBB yang akan melucuti senjata milisi di
Timor Barat.

"Sepatutnya pemerintah jangan sampai dilangkahi pihak luar dalam
menanggulangi permasalahan di negara sendiri," ujar Fatwa.

Dari penyidikan polisi, kata Kadispen Polri Brigjen Dadang
Garnida, telah diidentifikasi lima tersangka kasus Atambua.
Mereka, diduga dari kelompok milisi yang kini masih dalam
pengejaran. "Identitasnya kita peroleh dari 18 saksi yang kita
periksa," katanya.

Mengenai korban meninggal dalam tragedi Atambua, Kadispen
mengatakan Ketua UNHCR asal Malaysia, Elias Ahmad, yang semula
dikira meninggal dunia akibat kerusuhan itu, ternyata masih
hidup. Yang tewas masing-masing Terosimuna (26) warga Kroasia,
Samson (40) dari Ethiopia, dan Carlos Capes asal Puerto Riko,
Amerika Latin.

Dalam pandangan aktivis HAM Munir, insiden di Atambua tak perlu
terjadi seandainya pemerintah bersikap tegas dalam menangani
berbagai kasus pelanggaran HAM di Timtim. Termasuk jika
pemerintah serius mengurus soal pengungsi di perbatasan.
(Dex/San/LP-2/Hot/CR-6/P-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Sep 2000 jam 08:47:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke