---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http: under construction Xpos, No 28/III/16-23 September 2000 ================================================ BURSA EFEK JAKARTA, TAK PENTING LAGI? (PERISTIWA): Bursa saham bukan lagi indikator penting ekonomi. Naik-turunnya saham, toh tak berpengaruh bagi rakyat. Ledakan bom di Bursa Efek Jakarta hari Rabu lalu (13/9), sungguh dahyat. Kepanikan melanda sejumlah pelaku bisnis yang sehari-harinya beraktivitas di sekitar kawasan Segitiga Emas, Jakarta. Pemasang bom memang cermat memilih sasaran. Di gedung BEJ saja, terdapat puluhan kantor lembaga keuangan penting yang ikut merasakan langsung guncangan keras bom. Antara lain, Kantor Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, ABN Amro, Ludlow Sekuritas dan ING Baring. Akibatnya, perdagangan saham BEJ ditutup selama beberapa hari, setelah menyentuh titik terendah IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) tahun ini, yaitu di level 442,091. Entah apa persisnya, tujuan peledakan bom yang dilakukan sehari menjelang persidangan mantan presiden Soeharto ini. Yang jelas, dengan memilih sasaran BEJ, si pelaku peledakan tidak saja bermaksud mengguncang kawasan bisnis Jakarta, tapi juga perekonomian Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, selama ini, memang dianggap salah satu indikator penting perekonomian nasional. Kendati sudah memilih sasaran secara cermat, sulit mengatakan peledakan bom ini telah sepenuhnya berhasil. Pasalnya, perekonomian Indonesia dianggap sudah berada di dasar jurang, sehingga tak ada lagi titik terendah yang bisa membuatnya jatuh. Dan yang terpenting, IHSG sudah lama tidak lagi menjadi indikator utama perekonomian nasional. Hal paling mudah untuk melihatnya adalah maraknya investasi besar-besaran Cina di Indonesia --khususnya lewat penjualan sepeda motor bebek murah yang kini menguasai 20 persen pasar domestik. Di samping, membanjirnya mobil-mobil impor di Jakarta. Meskipun, IHSG terpuruk, perekonomian tak bisa disimpulkan sama. Seorang pialang saham yang ditemui Xpos baru-baru ini, juga mengakui hal ini. "Bagi rakyat banyak, turunnya IHSG sebetulnya boleh dibilang tak mempunyai pengaruh yang signifikan," ujarnya. Yang menderita kerugian, menurutnya, hanyalah para pemilik perusahaan serta para investor jangka pendek yang berharap mendapatkan selisih keuntungan dari pembelian dan penjualan saham. "Saya kira, yang banyak merugi justru para pelaku ekonomi yang terkait dengan Orde Baru. Sebab, selama bertahun-tahun mereka yang menguasai perputaran uang di BEJ." Dugaan yang cukup masuk akal. Malah, dalam suatu kesempatan, Gus Dur juga pernah mengungkapkan kecurigaan bahwa naik-turunnya sebagian besar harga saham, disebabkan permainan para kroni Cendana. Sulitnya menjadikan IHSG sebagai indikator penting saat ini, menurutnya, ditambah lagi dengan sikap apatis para pemain saham melihat perpolitikan nasional selama beberapa bulan terakhir. "Kalaupun ekonomi membaik, IHSG cuma begitu-begitu saja. Paling-paling naik sedikit sekali. Tapi, kalau memburuk, IHSG akan turun." Bursa efek di dalam negeri, menurutnya sudah lama tidak diminati para pencari keuntungan jangka pendek. Dengan begitu, sulit menganggapnya sebagai alat ukur yang obyektif. Anggapan bahwa IHSG merupakan indikator penting ekonomi, sebetulnya mulai muncul pada akhir pemerintahan Soeharto dan sepanjang pemerintahan Habibie, berbarengan dengan dimulainya krisis ekonomi. Persamaan antara terpuruknya perekonomian dan merosotnya IHSG membuat banyak orang mengambil kesimpulan bahwa bursa saham bisa dijadikan indikator penting untuk menilai perekonomian. Padahal, ketika ekonomi membaik, IHSG tidak serta-merta membaik. Ledakan bom di BEJ pun tidak serta merta bisa menghancurkan ekonomi - --yang memang masih berada di titik terendah. Menurut sosiolog Sardjono Djatiman, ledakan itu akan berbahaya, bila menimbulkan kepanikan berkepanjangan. Sebab, ini bisa memicu pelarian modal besar-besaran. Sekarang, tergantung keseriusan pemerintah mengusut tuntas pelaku peristiwa ini. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------------------------- SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 05:01:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
