----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 28/III/16-23 September 2000
================================================

KEMISKINAN TURUN? OMONG KOSONG

(POLITIK): BPS melansir data turunnya angka kemiskinan di Indonesia.
Bagaimana mungkin? Kenyataan menunjukkan masyarakat kian gelisah
berketat pinggang.

Agak sulit diterima akal sehat, Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan
data bahwa hingga Februari 2000, jumlah penduduk miskin di Indonesia
tinggal 33,2 juta orang. Mencengangkan bila ditengok setahun ke
belakang, pada Agustus 1999, angka kemiskinan di Indonesia masih 37,5
juta orang. Itu berarti jumlah orang miskin turun sebesar 4,3 juta.
Meragukan.

Tahun 1996, kala krisis belum datang, angka kemiskinan mencapai 34,5
juta atau 17,65% dari total keseluruhan penduduk Indonesia waktu itu.
Kala krisis mendera 1997-1998, angka kemiskinan melonjak menjangkau
jumlah 49,5 juta atau 24,23% dari total penduduk.

Pengumuman BPS ini memperteguh perkiraan Gus Dur sebagaimana
disampaikan dalam pidato di MPR beberapa waktu lalu. Dalam pidatonya
itu, Gus Dur menyatakan, pada tahun anggaran 1999/2000 kebijakan
penanggulangan kemiskinan dilakukan secara khusus dengan program
perluasan JPS yang terdiri dari berbagai komponen. Seperti, Program
Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Program
Pemgembangan Kecamatan (PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP), Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis
Ekonomi (PDM-DKE), Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS),
Dana Bantuan Operasional Pemeliharaan SD/MI, Bantuan Beasiswa Sekolah
dan Dana Bantuan Operasional Pemeliharaan Puskesmas.

Menurut pemerintah, program-program itu beserta dengan program lain
yang digalakkan di daerah, bisa mengurangi kemiskinan dari 49,5 juta
(1998) jadi 37,5 juta (1999). Perinciannya, penduduk miskin di
perkotaan turun jadi 12,4 juta dan di desa jadi 25,1 juta. Data inilah
yang lantas diperkuat oleh BPS.

Tapi menurut pakar kemiskinan perkotaan, Dr. Parsudi Suparlan, data
itu memang meragukan untuk dipercaya. "Lebih banyak muatan politisnya
ketimbang akurasinya," katanya. Data kemiskinan tersebut bisa
dinaikkan atau diturunkan sesuai kepentingan politik. Misalnya saja
angka kemiskinan membengkak bersamaan dengan akan masuknya bantuan
dari UNDP dan lembaga donor lainnya untuk Indonesia. "Nah, angka itu
bisa jadi berkurang drastis tanpa ada indikator yang jelas di saat
pemerintah berbicara soal subsidi dan kredit terhadap orang miskin
seperti sekarang ini," ujar pengajar sosiologi UI itu. Bukan hanya
oleh para ahli di luar pemerintahan, Menko Ekuin Rizal Ramli sendiri
meragukan kebenaran data tersebut. Dia lebih percaya dengan angka yang
dilansir oleh BKKBN. Ini dikatakannya di hadapan 26 wakil organisasi
buruh saat santap makan di Restoran Nusa Dua, Senayan Jakarta, Senin
(11/9) lalu. "Anda cari saja data yang lebih baik di BKKBN," kata
Rizal. Di sampingnya, Menteri Tenaga Kerja Alhilal Hamdi
mengangguk-angguk. Hadir dalam pertemuan itu antara lain aktivis yang
pernah ditahan, Muchtar Pakpahan dari SBSI dan Dita Indahsari dari
FNPBI.

Data di BKKBN tentang kemiskinan merujuk pada jumlah keluarga di
lapangan. Hingga 31 Mei 2000, BKKBN mencatat ada 11,6 juta keluarga
miskin. Satu keluarga bisa saja terdiri dari tiga hingga sepuluh
anggota. Uniknya, mantan ketua BKKBN yang sekarang jadi Menko Kesra
dan Taskin, Haryono Soeyono percaya data BPS. "Kita harus
memperhatikan definisi yang dipakai oleh BPS dan saya meyakini itu
hasil penilaian murni. Oleh karena itulah, sejak saya di BKKBN atau di
Menko Kesra saya tak memakai data departemen sendiri, tapi mengacu
pada data BPS."

Menarik bila kita telusur ke BPS sendiri. Menurut Kepala Biro Analisis
dan Pengembangan BPS, Dr. Agus Sutanto, "Miskin itu tergantung
kesepakatan. Yang kita survei, konotasinya tak sangat melarat, hanya
tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Dalam arti income-nya tak
memenuhi kebutuhan dasar." Memang dalam data BPS itu tak ditanyakan
berapa income responden. "Kalau bicara penduduk paling miskin,
income-nya semua untuk pengeluaran. Nah, data pengeluaran miskin itu
yang Rp30.000,- per orang per bulan," kata Agus Sutanto.

Oo, ya pantas saja. Tiga puluh ribu per bulan berarti satu hari hanya
punya seribu perak untuk hidup. Dan jumlahnya tigapuluhan juta orang.
Duh, mereka bukan orang miskin mestinya. Tapi sudah terancam kematian!
(*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -------------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 06:18:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke