---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http: under construction Xpos, No 28/III/16-23 September 2000 ================================================ IMF SETENGAH HATI CAIRKAN UTANG (POLITIK): Ledakan bom di BEJ membuat kecut IMF. Gus Dur dan Rizal Ramli sampai harus mengemis agar hutang itu tidak ditunda lagi. Memang enak jadi lembaga pengutang yang punya uang, apalagi kalau berhadapan dengan suatu negeri yang sedang kembang kempis karena krisis. Begitulah IMF memperlakukan Indonesia. Rencananya, Indonesia memang bakal dapat kucuran dana US$400 juta pekan depan. Tapi pertemuan Dewan Direktur IMF yang berlangsung Kamis (14/9), penuh kegusaran apakah Indonesia mampu keluar dari krisis meski dibantu utangan IMF. Maklum, ledakan bom di BEJ yang beberapa hari lalu menyentakkan para investor asing yang berkolaborasi dengan IMF. Bisa dipahami kemudian bila IMF ragu-ragu apakah Indonesia bisa mengembalikan utangnya di masa depan. Menko Ekuin Rizal Ramli tampaknya tahu betul kegelisahan para donor ini. Bahkan sehari sebelum pertemuan dewan direksi IMF itu digelar, pak menteri yang kabarnya baru kawin lagi ini menghimbau dunia internasional agar jangan cuma mengkritik pemerintah tentang bagaimana menyelesaikan krisis tapi juga mestinya sepenuh hati memberikan bantuan. Pernyataan ini merupakan respon setelah Kepala Perwakilan IMF di Jakarta, John Dodsworth, menelpon Gus Dur dan Rizal Ramli tentang apa yang akan dilakukan pemerintah sesudah bom meledak di BEJ. Menurut laporan John ke dewan direktur IMF, Gus Dur dan Rizal Ramli tetap meminta dengan sangat agar pinjaman IMF tetap dicairkan minggu depan. Meskipun dengan catatan yang menandakan setengah hati keputusannya, dewan direktur IMF akhirnya sepakat akan mencairkan hutang sekitar US$400 juta pekan depan sesuai Letter of Intent (LoI) terbaru yang telah ditanda-tangani pemerintah Indonesia dan Deputi Direktur Pelaksana IMF Stanley Fischer (7/9). Keputusan itu diumumkan oleh Kepala Perwakilan IMF di Jakarta, John Dodsworth. "Pinjaman tersebut akan dicairkan segera, kemungkinan Senin atau Selasa pekan depan (18/19 September, red)," ujar Dodsworth. Kesanggupan setengah hati ini bukannya yang pertama kali. Kolaborasi lembaga donor internasional seperti IMF dan Bank Dunia tampak sengaja menarik ulur bantuannya tergantung kepentingan politik. Tarik ulur ini pula yang mendorong Soeharto makin cepat jatuh, Habibie tak berkutik, dan kini Gus Dur, tak punya pilihan lain selain menggunakan resep IMF untuk mengatur ekonomi politiknya. Kasus hangat sebelum bom yang juga belum tuntas diusik IMF adalah kasus pembantaian relawan UNHCR di Atambua. Suratkabar Washington Post memberitakan bahwa Presiden Bank Dunia James Wolfensohn memperingatkan Gus Dur bahwa akan ada resiko besar Indonesia bakal kehilangan dukungan keuangan internasional bilamana pemerintah Indonesia gagal menghentikan kekerasan di Atambua NTT. Kabarnya, Gus Dur iya-iya saja. Kyai mantan Ketua Umum PB NU ini langsung mengkontak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono agar menindak-lanjuti penyelesaian ini. Susilo sendiri punya rencana untuk memberikan opsi kepada 130.000 pengungsi dari Timor Leste apakah mereka akan tetap tinggal di wilayah Indonesia atau kembali ke tanah Loro Sae yang kini telah merdeka. Rizal menanggapi usulan Susilo ini dengan kemungkinan besarnya dana yang dibutuhkan untuk menjalankan konsekuensi pemberian opsi ini. "Untuk me-realokasi 130.000 pengungsi itu biayanya mahal sekali, sedangkan sumber keuangan pemerintah sangat terbatas," kata mantan Direktur Econit ini. Ancaman Presiden Bank Dunia James Wolfensohn pun rupanya hangat-hangat tai ayam. Memang dalam siaran persnya, mereka menyarankan agar pemerintah Indonesia mengambil langkah konkret untuk secepatnya mengakhiri kekerasan di NTT. Tapi Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta, Mark Baird mengungkapkan bahwa Bank Dunia tak berencana membatalkan utangan untuk Indonesia dan tidak juga menunda pertemuan Consultative Group on Indonesia (CGI) di Tokyo bulan depan, meski mereka amat memprihatinkan dampak negatif pembantaian di Atambua. Jadi pelajaran apa yang bisa ditarik ulur dari keraguan IMF dan Bank Dunia ini? Jelas sudah, kita sebetulnya tak bisa menggantungkan perekonomian kita pada IMF dan Bank Dunia. Meskipun ada pinjaman mengucur dari lembaga-lembaga donor internasional tersebut, kunci utama pemulihan krisis adalah kesungguhan masyarakat Indonesia sendiri untuk berswadaya secara ekonomi. Karena nasib kita di masa depan, pada akhirnya tergantung pada jerih payah kita di hari ini. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------------------------- SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 06:02:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
