----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Tabloid Kontras No. 103 Tahun II  20 - 27 September 2000
Membunuh Ulama, Menuai Bencana?

Pembunuhan terhadap ulama Aceh kembali terulang. Setelah Tgk Nashiruddin
Daud (anggota DPR-RI Fraksi PPP asal Aceh) yang ditemukan
tewas di Sibolangit, Sumatera Utara 31 Januari 2000 dan Tgk Ilyas Ibrahim
(ketua Fraksi PPP DPRD Aceh Utara) 12 September lalu di
Syamtalira Aron, kini giliran Prof Dr Safwan Idris, Rektor IAIN Ar-Raniry,
yang dihabisi. Tidakkah mereka takut pada azab Allah?

Pagi itu, Sabtu (16/9), cuaca mendung menyelimuti Banda Aceh. Masyarakat
bagai tak percaya ketika mendapat kabar duka bahwa Prof Dr
Tgk Safwan Idris MA telah meninggal dunia. Memang, berita tertembaknya
Safwan di rumah dinasnya, Sabtu pagi itu sangat menggetarkan
seluruh Aceh, bahkan tak lama kemudian menyebar ke seantero Tanah Air dan
mancanegara.
Mendapat kabar putra kesayangannya itu ditembak, ayahanda Tgk Idris Mahmud,
yang menetap di Desa Meunasah Papeun segera meluncur ke
rumah dinas Rektor IAIN dengan mengendarai sepeda dan sebilah pisau, kata
seorang mahasiswa yang tinggal di kawasan Darussalam.
Mahasiswa mengenal Tgk Idris karena pada saat demonstrasi mahasiswa yang
bentrok dengan aparat di jembatan Lamnyong menjelang
jatuhnya rezim Soeharto, pernah tiba-tiba tampil di sana untuk meredakan
suasana dengan mengemakan azan. Sementara Pak Safwan, kala
itu berada diantara mahasiswa mencegah bentrokan dengan aparat.
Tapi, begitu Tgk Idris pada Sabtu pagi itu tiba di tempat kejadian, Safwan
Idris yang berpeluhkan darah segar dikabarkan telah
dibawa ke UGD RSUZA Banda Aceh. Dia bersama tetangga dekat almarhum secepat
kilat menuju UGD. Namun, Tuhan berkehendak lain. Safwan
Idris tak mampu tertolong lagi.
Inna lillahi wainna ilaihi raji'un. Dia kembali menghadap Sang Pencipta.
Wajah tegar Idris Mahmud tetap terlihat, meskipun
sebetulnya kepergiaan si anak yang dicintainya itu sangat pahit.
Kelihatannya, ketegarannya inilah yang mampu ia tunjukkan menyikapi
kepergiaan Safwan. Ketika jenazah dikubur pun, Tgk Idris tetap mengikuti
setiap prosesi pemakaman dengan tekun dan sekali-kali
matanya berkedip tak kuasa menahan keharuan.
Masyarakat hampir tak percaya ketika diberitahu Prof Safwan telah pergi
untuk selamanya. Pasalnya, tak ada firasat apapun yang
dirasakan pihak keluarga, tetangga, dan kerabat terdekat. Bahkan, Jumat pagi
(15/9) alumnus Dayah Lueng Ie, Aceh Besar ini masih
sempat menghadiri dan menyampaikan makalah dalam seminar yang diadakan
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama bertemakan Konstruksi Dakwah
dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat.
Sedangkan Kamis, Safwan juga membuka seminar dalam rangka peringatan HUT
Fakultas Syariah. Sehari sebelumnya, giliran kehadirannya
terakhir kali ke markas Badan Eksekutif Mahasiswa. Selain membuka acara
keislaman yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus, rektor
yang akhir Agustus lalu menyelesaikan pendidikan di Lemhanas ini juga sempat
menyampaikan nasihat dan motivasi untuk kemajuan Islam.
Dia juga memandang penting umat Islam melakukan hijrah ke arah yang lebih
punya prospek.
Sejumlah kalangan keluarga dan kerabat dekat almarhum yang ditanyai Kontras
mengaku sangat terpukul dengan musibah yang dialami
Safwan Idris. Kesedihan mendalam sepertinya juga sangat membekas di hati
istri dan anak-anak almarhum.
Bahkan, di saat-saat menjelang prosesi pemakaman di Desa Meunasah Papeun
Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu siang, suasana
berkabung terlihat sangat kental. Wajah-wajah murung tak saja tampak di
wajah keluarga terdekat, tapi juga dirasakan ribuan pelayat
yang berdatangan dari berbagai pelosok Banda Aceh dan Aceh Besar.
Para anggota DPR RI dan tokoh-tokoh Aceh di Jakarta yang baru saja mendarat
di bandara Sultan Iskandar Muda, juga terlihat
berkabung. Tak ada yang banyak berkomentar, sebab semuanya larut dalam
suasana sedih. Yang terdengar hanyalah lantunan kalam Ilahi,
shalawat dan ucapan berdukacita.
Dalam waktu singkat, Desa Meunasah Papeun tempat orangtua Safwan menetap
yang berjarak tak lebih dari 2,5 Km dari Kampus Darussalam
itu penuh dengan lautan manusia. Puluhan mobil mewah berjejeran ratusan
meter. Suasana berkabung tak mampu dibendung.
Sehari sebelum meninggalnya Safwan, putrinya Kausari dirawat di RSU
mengingat masa persalinannya sudah dekat. Suasana rumah duka
bertambah menjadi-jadi ketika masyarakat tahu bahwa sang putri kembali ke
rumah untuk melihat wajah sang ayah untuk terakhir
kalinya.
Alhamdulillah, beberapa jam setelah itu, seorang bayi laki pun lahir dengan
selamat mengobati kesedihan yang dirasakan keluarga
besar Tgk Idris. Inilah cucu pertama Prof Safwan, yang lahir tepat di hari
gugurnya sang kakek tercinta.
Hingga tulisan ini dirampungkan, informasi dari salah seorang keluarganya
belum memastikan siapa namanya kelak. Ada yang mengusulkan
nama Safwan, dan ada pula tawaran Muhammad Safwan. Tapi, hingga kini Kontras
belum tahu nama mana yang dipilih untuk sang bayi itu.
Menjelang pukul 11.50 WIB, jenazah Safwan diusung menuju ke tempat
peristirahatan terakhir persis di belakang rumah. Ikut
menyampaikan sambutan penglepasan abang Drs Jailani Mahmud (abang kandung
almarhum), Dr H Alyasa' Abubakar (mewakili civitas
akademika Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry), dan Ramli Ridwan SH (Pemda). Setelah
itu, shalat jenazah pun dilakukan. Ayahanda Prof Safwan
Idris bertindak selaku imam.
Salah seorang kerabat terdekat yang tak mau ditulis identitasnya menyatakan,
musibah yang menimpa keluarga besar Tgk Idris merupakan
cobaan dan ujian yang diberikan Allah SWT. "Kami sedang diuji Tuhan. Doakan
agar kami tetap tegar," ungkapnya penuh haru. Menurut
dia, peristiwa penembakan itu terjadi begitu cepat. Tak dibayangkan oleh
siapapun sebelumnya. "Semoga, Tuhan menganugerahinya Surga
yang penuh kedamaian dan kenikmatan," ujarnya.
Sejumlah tokoh pendidik dan ulama yang ditemui di sela-sela prosesi
pemakaman menyatakan kepergian Safwan adalah musibah besar bagi
dunia pendidikan dan Islam di daerah ini. Karena, selain selain akademisi,
Safwan juga salah seorang unsur pengurus Organisasi Ulama
Inshafuddin Aceh, Ketua MUI Aceh, ICMI dan Majelis Pendidikan Daerah.
Di balik peristiwa yang sangat tragis itu, masyarakat jadi bertanya-tanya
apakah kesalahan Safwan sehingga harus dihabisi? Padahal,
selama ini masyarakat menilai dalam beraktivitas Safwan tetap bersikap
netral. Sehingga, agak naif bila penembakan Safwan
dikait-kaitkan dengan kesalahan yang dilakukannya. "Saya kira Pak Safwan
sangat merakyat dan disukai rakyat," tandasnya.
Terbukti, kabar tewasnya almarhum segera saja menyebar luas di kalangan
masyarakat, tak saja di kalangan elite, tapi juga masyarakat
awam. Sejumlah kalangan pedagang dan konsumen di Pasar Aceh menyatakan
sangat masygul atas kehilangan sosok sekaliber Safwan Idris.
Mereka bertanya-tanya, apa sebetulnya kesalahan yang diperbuatnya sehingga
menjadi sasaran yang mesti dihabisi.
Selain jadi perbincangan hangat di kantoran, berita dan analisis
meninggalnya Rektor IAIN Ar-Raniry itu juga diperbincangan, mulai
di warung kopi, angkutan umum, dan kampus. "Kami seakan tak percaya atas
meninggalnya Pak Safwan. Setahu saya, dia itu tokoh ulama
yang sangat baik," kata seorang masyarakat ketika berlangsung perbincangan
di sebuah angkutan kota, Sabtu.
Masyarakat berpendapat, kepergian Prof H Tgk Safwan Idris bukan saja
kesedihan keluarganya, tapi juga duka rakyat Aceh. Sebab, H
Safwan juga merupakan salah seorang tokoh yang telah mengabdi untuk
kepentingan dan kemajuan rakyat di Tanah Serambi Mekkah ini,
termasuk pikiran-pikiran tentang Perda Syariat Islam dan Undang- undang
Nanggroe Aceh Darussalam.
Mereka tampak baru merasa ikhlas mengantar kepergian Prof Safwan setelah
abang kandungnya, Tgk Jailani Idris, ikut bicara. Bahwa
kematian adiknya adalah hal biasa yang mesti dialami oleh para pejuang dalam
menegakkan keadilan dan kemungkaran. "Pembunuhan serupa
telah dialami oleh ulama-ulama sebelumnya, seperti Tgk Chik di Tiro,"
paparnya, dengan suara gemetar.
Dikenang
Kematiannya memang begitu cepat. Beberapa keluarga dekat yag dihubungi
Kontras mengakui mereka tak melihat perubahan atau firasat
apapun pada diri Safwan menjelang ajalnya. Rektor IAIN Ar- Raniry itu tak
pernah menitip pesan apapun pada keluarganya. Apalagi
selama pulang dari Lemhamnas (Lembaga Pertahanan dan Keamanan Nasional),
akhir Agustus lalu, Safwan begitu sibuk mengikuti berbagai
kegiatan. "Sejak pulang mengikuti pendidikan di Lemhamnas, dia jarang ketemu
dengan saya. Kelihatannya, beliau sibuk sekali
mengikuti berbagai acara," jelas Armia, adik kandung almarhum.
Tapi, Kontras punya kenangan tersendiri terhadap Safwan Idris. Dua minggu
lalu, tepatnya Jumat (8/9), sebelum ajal menjemputnya,
Safwan pernah berujar pada Kontras dalam sebuah wawancara khusus di
rumahnya. "Lebih terhormat menjadi ratu di hati rakyat, meski
tak pernah menjadi ratu secara formil," paparnya, ketika menjawab pertanyaan
Kontras apakah dirinya bersedia jadi Gubernur Aceh.
Sebagai manusia, Safwan juga mengisyaratkan tak menolak kalau resmi
dicalonkan. Di sisi lain, dirinya juga tak mau jadi pejabat,
kalau harus dengan cara-cara yang kotor. Berkali-kali dia bertanya, apakah
pantas untuk jabatan itu? "Kalaupun pantas siapa yang
mencalonkan?," tanyanya lagi. Safwan agaknya cukup memahami situasi politik
sekarang, yang masih sarat dengan cara-cara lama. Di
lain pihak, ia ingin menjadikan dirinya pemimpin rakyat yang sebenarnya.
Kalau demikian, tentunya tak harus memegang sebuah jabatan
resmi seperti gubernur. Yang penting bisa berbuat banyak untuk masyarakat,
begitulah mungkin alur logika pemikirannya. Karenanya,
tak salah dalam hal tertentu Safwan ingin berkaca pada sosok Lady Diana.
Ibunda pangeran William itu tak pernah jadi ratu secara
formil sampai tewas mengenaskan.
Almarhumah Lady Diana, mantan istri Pangeran Charles itu tewas secara tragis
di sebuah terowongan Paris, 3 tahun lalu. Hingga kini,
kematian Diana masih menyimpan sejumlah misteri. Laporan resmi menjelaskan
bahwa Diana dan Dody Al Fayed tewas akibat kecelakaan
biasa. Tapi, keluarga Alfayed justru berpandangan lain. Sampai kini, mereka
menduga kematian Diana-Dody tak lebih dari sebuah
rekayasa. Mereka yakin, putranya tewas lewat sebuah operasi khusus yang
dibekengi intelijen. Bagaimana dengan Safwan Idris?
Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dia tewas di saat rakyat Aceh sangat
membutuhkan pandangan dan buah pikirnya. Kepergiannya
meninggalkan kesan dan sejumlah kenangan bagi masyarakat daerah ini.
Sayang nian nasib Prof Safwan, dia yang selama ini getol memperjuangkan
aspirasi rakyat Aceh, ternyata telah menghadap Tuhannya.
Keluarganya boleh saja bersedih, tapi di samping kesedihan panjang itu,
hendaknya pihak keluarga Safwan juga harus bangga, sebab
almarhum adalah figur idola, yang tetap dikenang masyarakat Aceh.
Bencana bagi Aceh
Dari berbagai takziyah dan pernyataan dukacita yang disampaikan kepada
pembunuhan Prof Safwan, hampir semuanya menyatakan
keprihatinan yang sangat mendalam. Keprihatinan terhadap kemungkinan bencana
yang bakal menimpa masa depan Aceh karena pembantaian
tokoh ulama dan intelektual.
Prof Safwan dikenal sebagai konseptor dan boleh dibilang sebagai lokomotif
pemberlakuan syariat Islam di Aceh. Oleh karena itu pula,
banyak yang menilai pembunuhan terhadap Safwan sebagai pihak yang tidak rela
melihat tegaknya hukum Islam di Aceh.
"Safwan adalah seorang ulama untuk waktu sekarang ini. Beliau juga seorang
pejuang dan mujahid serta mujaddid. Ia ilmuan yang terus
memperjuangkan syariat Islam di atas permukaan bumi ini, khususnya Aceh.
Memang musuh-musuh Allah tidaka menginginkan hal tersebut,"
ungkap Drs Tgk Jailani Idris, abang kandung Safwan.
Yang pasti, dengan membunuh ulama Aceh sama dengan menciptakan pembodohan di
bumi Aceh. Namun entah siapa yang menginginkan itu
semua, hanya Allah yang Maha Tahu. Yang pasti, Allah akan menimpakan azab
kepada siapa saja yang berusaha menjahiliyahkan umat
Islam.
"Anda Bantai Ulama, Tunggu Azab Allah". Demikian isi pesan sebuah baner yang
terpampang di sebuah sudut lapangan Kampus Darussalam,
Banda Aceh. Baner itu terlihat jelas dari Simpang Galon, jalan masuk ke arah
utara Kampus Darussalam, di mana rumah kediaman
Almarhum Prof Dr Tgk Safwan Idris MA, Rektor IAIN Ar-Raniry, yang ditembak
dua pria belum dikenal pada Sabtu (16/9) pagi.
Akan tetapi, baner tersebut baru terlihat di sana setelah Pak Safwan
terbunuh. Boleh jadi, sang pembunuh Pak Safwan tidak akan pergi
lagi ke sana untuk melihat baner itu. Akan tetapi BEM-Unsyiah yang
memajangan baner itu di sana tentu berharap sang pembunuh atau
yang mengordernya suatu saat akan menyaksikan dan membaca peringatan dalam
baner tersebut.
Siapapun manusia yang masih punya hatinurani dan menyadari akan menerima
azab maha dahsyat oleh Allah SWT, pasti tidak akan membunuh
manusia lain, apalagi terhadap seorang ulama. Kecuali mereka adalah golongan
manusia yang lebih rendah martabatnya daripada binatang
buas sekalipun.
"Mudah-mudahan pembunuh Pak Safwan serta yang menyuruhnya mau dengan
sukarela mengakui kekhilafannya dan minta maaf pada keluarga
korban serta pada seluruh rakyat Aceh, dilanjutkan dengan bertaubat kepada
Allah SWT. Hanya dengan cara demikian, ada kemungkinan
mereka terhindar dari kutukan," kata seorang mahasiswa kepada Kontras saat
memotret baner tersebut, Senin (18/9).
Kendati pelakunya tak mungkin menghindari hukuman dari Allah kelak di
akhirat, namun adalah tugas polisi, dalam hal ini Polri
sebagai aparat negara RI yang memiliki otoritas untuk mengungkapkan semua
itu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh dan MUI Pusat
telah mendesak Polri harus serius mengungkapkannya.
"Adalah tanggung jawab Polri untuk mengungkapkan kasus-kasus pembunuhan yang
terjadi dalam wilayah hukum RI. Bukan hanya pembunuhan
Prof Safwan Idris, tapi juga pembunuhan Tgk Nashiruddin Daud, pembunuhan
Jafar Siddiq Hamzah (keduanya di Sumatera Utara), serta
pembunuhan Tgk Ilyas Ibrahim, dan pembunuhan-pembunuhan lainnya yang yang
belum terungkap," kata Maimul Fidar, direktur Eksekutif
Koalisi NGO HAM Aceh.
Kalau Polri tak mampu mengungkapkan semua kasus itu, menurut para praktisi
hukum dan pembela HAM dalam beberapa kesempatan dialog di
Banda Aceh, baru-baru ini, pasti masyarakat akan resah dan tak merasa aman
dalam kehidupan. "Kalau aparat negara tak mampu
memberikan rasa aman kepada rakyatnya, maka itu juga termasuk pelanggaran
HAM," tukas Abdul Rahman Yacob, tokoh pejuang HAM di Aceh.
kontras

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Sep 2000 jam 05:13:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke