----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

September Hitam
    (oleh Mirah)         bg.1

Waktu sudah berjalan selama tiga puluh tahun sejak terjadi peristiwa
G.30,S.Sebuah peristiwa yang mengantarkan bangsa Indonesia ke suatu masa
suram, penuh malapetaka. Pembunuhan terhadap 6 jendral dan seorang perwira
tanpa melalui proses hukum dalam sebuah negara hukum, sudah tentu tak dapat
dibenarkan.Dan mengapa terjadi?
Bertahun-tahun masalah ini menjadi pertanyaan, sampai sekarang belum ada
jawaban yang gamblang (jelas). Berbagai kalangan sudah mencoba untuk
menganalisa dan menjawab menurut versi masing-masing, tetapi semakin banyak
jawaban pertanyaanpun semakin menggudang. Sebagaimana sering kita dengar dan
ketahui, bahwa makin banyak orang yang tak percaya lagi pada vonis klik
militer/Suharto dan para pendukungnya , yang menyatakan bahwa G.30,S adalah
bikinan PKI. Maka pertanyaanpun muncul; mengapa pimpinan-pimpinan utama PKI
tidak diadili, dan bahkan dibunuh begitu saja? Apakah betul sebagaimana
dikatakan oleh Ny. Dewi, bahwa Bung Karno pernah menanya Jendral Yani .....
" Saya mendapat informasi tentang Dewan Jendral yang mau bikin kudeta pada
tgl 5 Oktober.Apakah kamu tahu? Jendral Yani bilang ''Saya tahu .Mereka
sudah ditangan saya. Bapak enggak usah khawatir'' (liputan wawancara D&R
dengan Ny Ratna Sari Dewi, D&R 10 Okt' 98) Dan kalau betul Doktrin TNI/AD
hasil seminar 1965 menyatakan, untuk mengamalkan darma bakti prajurit
bersama seluruh kekuatan Nasakom. Mengapa jendral Yani sebagai pimpinan
TNI/AD harus dibunuh demi menyelamatkan politik Bung Karno? Mengapa Suharto
begitu cepat mengerahkan kekuatan militer dalam waktu yg singkat untuk
menumpas G.30.S. Apa memang sudah tahu dan siap sebelumnya?
Pertanyaan-pertanyaan serupa akan terus mengalir tak henti-hentinya. Dan
mungkin tak bakal ada jawaban yang jelas. Karena  masalahnya masih banyak
diliputi oleh mesteri. Dan lagi banyak saksi atau dokumen yang sudah
terbasmi.
Terlepas apakah persoalan tsb bisa diungkap atau tidak, nampak ada petunjuk
yang menjelaskan bahwa G.30,S merupakan puncak dari konflik-konflik yang ada
di Indonesia yg sudah tertimbun sejak berdirinya RI, dalam mana
pergolakan-pergolakan terus terjadi. Mungkin perlu ada penelitian sejarah
secara ilmiah dan netral untuk mengungkap peristiwa-peristiwa penting agar
kita bisa belajar dari pengalaman.
Konflik yang memuncak di tahun 60-an , juga tak akan terlepas dari
konflik-konflik yang ada sebelumnya. Adalah suatu kenyataan bahwa  di
kalangan militer ada konflik antara yang mendukung RI dibawah pimpinan Bung
Karno dengan yang menentangnya. Ada konflik dalam masalah bentuk negara. Mau
membangun negara sekuler atau negara islam, negara kesatuan atau federasi.
Pertentangan -pertentangan tsb telah melahirkan pemberontakan-pemberontakan.
Juga ada konflik di antara partai-partai politik yang berhalauan kanan
dengan yg kiri termasuk dengan PKI yg hendak membangun sosialisme di
Indonesia. Belum lagi tercampurnya konflik politik dan sosial seperti dalam
masalah tanah dll.
Dalam sebuah masyarakat, terjadinya konflik sebenarnya merupakan hal yg
biasa. Dan bagi suatu bangsa yg sudah dewasa , dengan alam pemikirannya yg
demokratis, konflik-konflik itu malah bisa diolah menjadi tenaga pendorong
pembangunan atau pendinamika masyarakat., selama konflik itu berada dalam
sebuah jalur untuk menuju cita-cita bersama. Para pemimpin kita yg berjiwa
besar,telah memberi arah untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai- Bhineka
Tunggal Eka-- Ini merupakan arah yg tepat, yg berarti walaupun di dalam
bangsa Indonesia terdapat berbagai aliran agama/kepercayaan, aliran
idiologi-politik, berbagai tradisi kedaerahan, tapi semua bisa berjalan
berdampingan untuk mencapai tujuan yg sama di atas dasar UUD.45. Kalau Bung
Karno merumuskan -Nasakom_ sebagai kukuatan penting dalam masyarakat
Indonesia, juga tidak bertentangan dengan Bhineka Tunggal Eka.Tapi
masalahnya belum semua orang memahami masalah ini. Dan masih banyak
''pemimpin'' yg berfikir kerdil, yg hanya mengejar nama, kedudukan dan
kekuasaan sendiri.
Masalah lain lagi ialah, bahwa Indonesia bukan suatu negeri yang terisolir
dari keadaan Internasional. Konflik antara negara-negara Barat dengan Timur-
Kapitalisme dengan Sosialisme , negeri-negeri yang ingin bebas dengan
kekuatan Imperialisme. Konflik-konflik ini telah menimbulkan perang-perang
lokal khususnya di Asia Tenggara. Maka konflik internasional ini terpadu
dengan konflik yg sudah ada di Indonesia secara inheren, Ofensif perang AS
khususnya di Indocina, dan bantuan AS pada pemberontakan di Indonesia yg
anti RI, makin mendorong politik konfrontasi Bung Karno menghadapi
imperialis, terutama AS. Politik Bung Karno makin ke Timur, memperkuat
hubungan dengan negeri-negeri Sosialis dan semua negeri yg anti imperialis.
Bahkan mau membentuk Poros Jakarta-Peking,-Pnompen-, Pyongyang. Bung Karno
mendapat dukungan dari negeri-negeri yg berjuang melawan imperialisme. Hal
ini dapat dilihat kembali catatan sejarah konferensi AAA.di Bandung.
Demikian pula politik dalam negeri RI dibawah pimpinan Presiden Sukarno
nampak makin ke kiri. Dengan merumuskan MANIPOL USDEK (Manifesto Politik,
UUD.45, Sosialis Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan
Kepribadian Indonesia) ke dalam GBHN (Garis-garis Besar Halauan Negara).
Garis-garis Bung Karno tsb sudah tentu bertentangan dengan kepentingan
imperialis dan kepentingan modal-modal monopoli asing yg ingin tetap
mengendalikan Indonesia.Dan juga bertentangan dengan kekuatan dalam negeri
yg hendak mengabdi pada modal-modal monopoli asing untuk kepentingan
golongannya sendiri. Maka konflik-konflik yang ada di Indonesia
terkristalisasi menjadi dua kekuatan yang saling bertentangan yaitu antara
yang menentang garis-garis politik Bung Karno yg menjadi GBHN dengan
kekuatan yg mendukung. Peristiwa G.30,S. merupakan kesempatan atau peluang
bagi yang menentang GBHN RI watu itu untuk menjatuhkan Bung Karno dan
seluruh kekuatan pendukungnya. Masalah ini bisa kita lihat dalam
tindakan-tindakan klik militer/Suharto dan para pendukungnya.
Setelah G.30''S terjadi, klik militer/Suharto dan kekuatan pendukungnya,
membuat opini besar-besaran, menamakan gerakan tsb sebagai G.30 S.PKI atau
Gestapu.
Dengan penyebutan tsb. dimaksudkan untuk mengarahkan pandangan umum bahwa
PKI sama denga Gestapu (polisi di jaman Nazi/Hitler) dan telah mendalangi
G.30 s. Koran-koran militer dipenuhi dengan berita-berita bohong dan fitnah,
yg menggambarkan orang-orang Gerwani, Pemuda Rakyat, atau anggota-anggota
PKI sebagai manusia-manusia yg tak bermoral, yg melakukan siksaan sadis
terhadap jendral-jendral korban G.30 s.(bisa dibaca di koran-koran Angkatan
Bersenjata, Berita Yudha dan Api Pancasila). Visum et repartum dari para
dokter yg memeriksa jenasah para korban tak pernah diumumkan karena
bertentangan dengan kemauan klik militer/Suharto dan para pendukungnya untuk
menghasut massa.Dengan membakar dendam dan kebencian pada PKI, atau
orang-orang yg dianggap terlibat G.30 s, mereka berhasil mengorganisasi
massa terutama KAPPI/KAMI, menyerukan Tri Tura - Bubarkan PKI, Rubah
Kabinet, Turunkan harga.
Demonstrasi-demonstrasi yg diorganisasi oleh klik militer/Suharto tsb telah
menjadi dasar untuk melakukan pembunuhan terhadap ratusan ribu orang yg
dianggap PKI atau terlibat G.30.s, Dengan cara-cara yg amat kejam, sadis,
diluar perilaku manusia yang normal. Bahkan ada yang menafsirkan korban
mencapai sekitar dua juta. Keprihatinan bung Karno yg di kutip di buku putih
terbitan Sekretariat Negara RI 1994, menyatakan :
''.......Jenasah-jenasah dari Pemuda Rakyat, BTI, orang-orang PKI atau
simpatisan PKI disembelih, dibunuh, kemudian dibiarkan saja di pinggir jalan
di bawah pohon, dihanyutkan dan tidak ada yang mengurusnya....''
Dan entah berapa yang dijebloskan kedalam penjara tanpa melalui proses hukum
, mendapaat siksaan-siksaan yang kejam. Represif yang tak ada taranya dalam
sejarah Indonesia itu, telah membuat semua orang terpaksa ''tiarap'' (pinjam
istilah Pramoedya Ananta Toer). Sesudah PKI dan kekuatan kiri dilumpuhkan
dan sesudah semua orang ''tiarap'' , pengambil-alihan kekuasaan dari Bung
Karno dapat dengan mudah dilaksanakan, karena tiang -tiang penyangganya
sudah hancur. Kabinet Sudah dibersihkan dan dikuasai oleh klik
militer/Suharto dan kekuatan pendukungnya. Lalu menjadikan Super Semar
sebagai pengesahan untuk bisa berbuat apa saja. Peraturan-peraturan untuk
mengkonsolidasi kekuasaan terus dibikin..............
                                     bersambung

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Sep 2000 jam 05:15:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke