---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Arbi: Polri Takut Bongkar Otak Pemboman Mataram, LippoStar Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengakui ada ketakutan pihak Polri untuk membongkar otak pemboman yang kian marak akhir-akhir ini, karena akan berhadapan dengan institusi TNI. "Namun Presiden KH Abdurrahman Wahid telah menginstruksikan dan menekan Polri agar membongkar kasus tersebut, jika tidak Polri akan terus direformasi, artinya pimpinan Polri yang tidak berhasil akan terus diganti," katanya kepada wartawan di Mataram, Rabu (27/9). Arbi Sanit berada di Mataram untuk menyampaikan makalah pada 'Halqah' (Seminar,Red) Ulama dan Demokratisasi Lapis Bawah yang digelar Pimpinan Wilayah Remaja Masjid Indonesia (PW-RMI) NTB bekerja sama dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta di Pondok Pesantren Al Islahuddiny, Kediri (Lombok Barat). Pengamat politik ini juga mengakui pihak penyidik Polri mengalami kesulitan dalam melakukan penyidikan, karena 25 tersangka pelaku yang berhasil ditagkap kini melakukan gerakan tutup mulut. "Kalau para tersangka pemboman ini terus tutup mulut, maka pihak Polri akan mengalami kesulitan dalam melakukan penyidikan terutama untuk membongkar otak pemboman yang cukup banyak menelan korban khususnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ)," katanya. Karena itu, kata Arbi, Polri harus memiliki teknik penyidikan yang jitu agar bisa mengorek keterangan dari para tersangka atau saksi apakah dengan menggunakan teknologi canggih, bahkan jika perlu melibatkan dukun. Pengamat Politik UI ini mengatakan, untuk bisa membongkar gembong pemboman tersebut tergantung dari apakah tersangka atau saksi-saksi bersedia memberikan keterangan secara rinci. Kalau mereka tidak mau terbuka Polri akan mengalami kesulitan untuk mengorek keterangan. "Untuk itu Polri harus memiliki teknik penyidikan jika perlu melibatkan psikolog dan menggunakan teknologi canggih atau menggunakan dukun. Jadi Polri perlu mengembangkan teknik penyidikan agar bisa membongkar otak pemboman tersebut," katanya. Arbi mengatakan, melihat konstelasi politik akhir-akhir ini tidak mungkin militer tidak terlibat dalam kasus pemboman yang hingga kini telah belasan kali terjadi, namun belum berhasil dibongkar otak yang bermain di balik kasus tersebut. "Berkaitan dengan kasus pemboman tersebut, menurut hemat saya kekuatan pembela mantan Presiden Soeharto, karena otaknya ada di sekitar mantan penguasa Orde Baru tersebut. Ini terlihat setiap peristiwa peledakan bom selalu berkonstelasi dengan persidangan perkara Soeharto," katanya. Oknum TNI Karena itu, dapat dipahami keluarga Cendana ada di balik kasus peledakan bom tersebut termasuk oknum TNI. "Pendukung Soeharto ada oknum TNI yang masih aktif maupun yang desersi, karena itu wajar saja kalau tersangka yang berhasil ditangkap ada yang dari sipil dan militer. Arbi mengakui untuk sampai pada tahap menangkap dalang pemboman tersebut relatif sulit dan membutuhkan waktu lama, karena dari 14 kali peledakan bom baru satu yang berhasil diungkap, itu pun baru terbatas pada tersangka pelaku. Mengenai kemungkinan penggantian Kapolri ada kaitannya dengan kasus pemboman tersebut, Arbi mengatakan, memang ada kaitannya, karena mantan Kapolri Jenderal Rusdihardjo dinilai tidak berhasil. "Manajerial keamanannya tidak efektif, sehingga belasan kasus peledakan bom tidak berhasil diungkap padahal Jenderal Pol Rusdihardjo adalah mantan intelijen," katanya. Dia menilai pengangkatan Komisaris Jenderal S Bimantoro menjadi Kapolri merupakan pilihan tepat, karena sebagai seorang bekas ajudan mantan Presiden Soeharto akan bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sebagai pendukung mantan penguasa Orde Baru tersebut. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Sep 2000 jam 04:35:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
