----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
---------------------------
17 September 2000

SUATU �WEEKEND� YANG MENGANDUNG HARAPAN!
<Langkah awal �Rekonsiliasi� dalam kehidupan yang nyata?>
Apakah pertemuan silaturahmi yang terjadi kemarin tanggal 16 September 2000
itu, antara jam 11.oo - 16.oo, di rumah Dr. T.M. Siregar, Elisabeth
Sanderstraat 55, Amsterdam Zuidoost, Holland, bisa menjadi salah satu
permulaan dari usaha �rekonsiliasi nasional� yang didasarkan atas
�kebenaran�?  Bisakah itu menjadi salah satu titik awal yang berarti dari
berakhirnya keadaan terpecah-belahnya hati nurani, serta merupakan permulaan
dirintisnya kembali, persatuan dan kesatuan bangsa?

Ataukah penilaian tsb, semata-mata  bertolak dari suatu impian indah semata,
suatu angan-angan belaka yang lepas dari realita? Mudah-mudahan itu bukan
impian ataupun angan-angan belaka.  Meskipun ramah-tamah kemarin itu
nampaknya seperti hal yang biasa-biasa saja, tokh saya merasa amat perlu
mengabadikannya hitam di atas putih. Karena saya percaya hal tsb merupakan
peristiwa yang bukan �biasa-biasa saja�. Saya menulisnya  agar  khalayak
masyarakat Indonesia di luar dan di dalam negeri tahu, bahwa syukur
alhmadulillah, masih terdapat beberapa insan Indonesia, yang  meskipun
jumlahnya kecil sekali, berdomisili sementara ini jauh dari tanah air, telah
bertemu dan beribicara mengenai masalah besar, yang menyangkut kepentingan
bersama nasion kita.

Ditengah-tengah kejadian bertubi-tubi belakangan ini yang merisaukan,
seperti pembunuhan  di Atambua, Timor barat wilayah Indonesia, terhadap tiga
orang petugas PBB yang terlibat dengan bantuan kemanusiaan kepada para
pengungsi dari Timor Timur; disusul pula  dengan peledakan bom di gedung
Bursa Efek Jakarta, dimana telah jatuh korban 15 orang  tewas dan sejumlah
lagi luka-luka berat; maka bolehlah kiranya  dipublikasikan sedikit ceritera
mengenai sesuatu yang membikin orang bisa menarik nafas lega serta
memperoleh sedikit  harapan baik, mendapatkan sekelumit optimisme mengenai
nasib dan haridepan bangsa kita.

Prakarsa SAS yang disambut KBRI
Apa yang terjadi kemarin itu adalah suatu pertemuan persaudaraan yang
diselenggarakan atas prakarsa Stichting Azie Studies, SAS. Hadir disitu
Dutabesar Abdul Irsan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk  Kerajaan
Belanda, Kepala Bidang Politik KBRI Fahmi Pasaribu, Atase Pertahanan Kolonel
Laut Wahyudi, dan Sekretaris Bagian Politik KBRI Abdulkadir Jaelani. Dari
Stichting Azie Studies tampak a.l.  Dr. T.M. Siregar, ketua; A.S. Munandar,
wakil ketua; Francisca Fanggidaej, wakil ketua, bendahari S.K. Supangat.
Dari Vereeniging Pesaudaraan nampak  ketuanya Sungkono, Farida Rakhmat,
wakil ketua. Juga hadir Wiyanto SH, Djumaeni dan Siswa Santoso dari
Indonesian Legal Reformation Working Group di Belanda;  Darmini, dari Aksi
Setiakawan, F. Pattipilohy  dan Mintarjo dari SAS, dan saya sendiri sebagai
salah seorang pendiri dari Stichting Azie Studies, Onderzoek en Informatie.

Mengapa kok nama-nama dan organisasinya, disebut semua serta �jabatnnya�
dijejer begitu rupa? Masalahnya, ialah, karena teman-teman tsb adalah
manusia-manusia Indonesia, yang sejak terbentuknya pemerintahan Gus Dur yang
pertama,  dijuluki sebagai �orang-orang Indonesia yang terhalang pulang�.
Selama bertahun-tahun mereka tidak bisa pulang. Tetapi, dimotifasi oleh
kepeduliannya dengan tanah air Indonesia,  mereka-mereka itu selama ini
melakukan pelbagai kegiatan yang mereka yakini berguna untuk kemajuan tanah
air dan bangsa kita.

Rumusan �orang-orang Indonesia yang terhalang pulang� itu,  adalah rumusan
Presiden Gus Dur dan Menkumdang Yusril Ihza Mahendra pada saat-saat Presiden
Gus Dur memulai kebijaksaan beliau yang hendak mengkoreksi kebijaksanaan
Orba terhadap orang-orang Indonesia yang ketika terjadi peristiwa G30S,
berada di luarnegri . Mereka-mereka itu oleh Orba dituduh terlibat atau
mendukung G30S, dsb, dan ditangkal pulang. Bahkan sampai-sampai ada yang
dicap sebagai �pengkhianat bangsa� segala. Sebagian besar dari mereka-mereka
itu, ketika itu menolak disuruh menandatangi pernyataan mengutuk G30S serta
menghujat Bung Karno, atas dasar pendirian bahwa mereka tidak mengerti dan
tidak tahu menahu mengenai peristiwa tsb. Sebagian lagi, jelas-jelas
dianggap pendukung atau simpa- tisan G30S, seenaknya dipastikan sebagai
anggota PKI, ataupun organisasi-organisasi masa yang dianggap berada di
bawah pengaruh PKI.  Sebagian besar dicurigai mengandung bahaya potensil
terhadap Orba, karena sikap dan pendirian mereka mendukung Presiden Sukarno.
Sebagian lagi, memang  dengan tegas dan terang-terangan mendukng Presiden
Sukarno dan menolak usaha Jendral Suharto c.s.yang dengan dalih menumpas
�G30S� dan memulihkan keamanan serta ketertiban, sedang sibuk-sibuknya
menyerimpung kebijaksanaan  serta menggembosi wewenang Presiden Sukarno,
dalam rangka merealisasi rencana �kup merangkak� yang dilakukannya terhadap
pemerintahan Presiden Sukarno.

Urut-urutan peristiwa ini perlu  sesewaktu disegarkan lagi dalam memori
bangsa kita , supaya tidak melupakannya serta menghapuskannya dari sejarah.
Maksudnya bukanlah untuk melakukan balas dendam atau semacam itu, tetapi
semata-mata  untuk mencegah agar tragedi semacam itu tidak terulang lagi.
Tujuan lainnya ialah supaya bersama-sama bisa menarik pelajaran daripadanya.
Apalagi dikala saat-saat  ini, di kalangan masyarakat Indonesia sedang
berlangsung diskusi dan seminar, mengenai tema apakah mantan jendral Suharto
bukan salah seorang  dalang dari peristiwa G30S yang berlangsung hampir 35
tahun yang lalu itu.

Soal-soal penting yang dibicarakan
Persetujuan Dubes Abdul Irsan dari KBRI atas prakarsa Stichting Azie Studies
untuk mengadakan pertemuan tsb, tidaklah kebetulan. Saya mengenal Dubes
Irsan  pribadi ketika dalam rangka kedatangan Menkumdang Yusril Ihza
Mehendra dan selanjutnya kunjungan Presiden Gus Dur, pada bulan Januari
y.l., saya untuk pertama kalinya, atas undangan datang  ke KBRI. Dubes Irsan
memang tidak sama dengan dubes yang sebelumnya. Teman-teman menjulukinya
sebagai dutabesar yang �merakyat� atau yang �populis�. Beliau adalah orang
yang terbuka, yang bersedia mendengar pendapat dari manapun datangnya.
Beliau menyatakan bahwa KBRI terbuka bagi setiap orang Indonesia. Yang
terlebih penting lagi ialah bahwa Dubes Irsan bersedia berdialog dengan
orang-orang Indonesia di luarengeri yang oleh Orba dianggap �tabu�.

Sikap yang ditunjukkan oleh  Dubes Abdul Irsan mendapat respek dari
teman-teman di Eropah, justru di saat proses reformasi dan ide umtuk
menciptakan syarat tercapainya  �kebenaran dan rekonsiliasi� tampak
tersendat-sendat dan nyaris gagal sebelum dimulai.

Bicara masalah KBRI yang tersebar di pelbagai negeri di dunia ini, terus
terang saja, dulu ketika saya masih melakukan kegiatan atas nama Organisasi
Setiakawan Rakyat Asia-Afrika yang bermarkas di Cairo, Mesir, dalam rangka
melakukan tugas ke berbagai negeri, saya  selalu menyempatkan diri untuk
mampir di KBRI kita di negeri-negeri tsb. Dengan menyesal saya melihat bahwa
para diplomat kita ketika itu <mudah-mudahan pada era reformasi ini sudah
banyak berubah>, lebih banyak bermentallitas seperti birokrat beneran,  yang
amat sedikit kepeduliannya dengan tugas mulyanya mewakili bangsa dan negara,
ketimbang perhatian mereka  yang begitu besar terhadap mobil, dan
barang-barang lux lainnya yang nantinya akan dibawanya pulang, atau mencari
jalan agar bisa lebih lama bertugas diluar negeri. Bisa dimengerti juga,
karena politik kepegawaian  pemerintah sedemikian rupa, sehingga gaji para
pegawai, termasuk para diplomat Kementerian Luarnegeri <juga
kementerian-kementerian dan kantor pemerintah lainnya>  itu amat tidak cukup
guna menghidupi diri dan keluarganya. Maka mereka lebih suka bertugas
diluarnegeri, bisa dapat gaji dalam matauang asing, dan bisa membawa pulang
�apa-apa� dari luarnegeri<tanpa pajak>, untuk kemudian dijual di Indonesia,
sekadar untuk nutupi ongkos hidup.

Kebetulan hari ini, kok terbaca berita bahwa Wapres Megawati
mengungkapkan,a.l. <Kompas, 17/9>, bahwa beliau ngomel pada Menteri
Luarnegeri Alwi Shihab tentang peranan kedutaan besar RI di luarnegeri.
Wapres mengatakan bahwa kendati sekarang Indonesia dilanda krisis dan banyak
diantara KBRI yang mengalami pengurangan, tapi KBRI sebagai ujung tombak di
luarnegeri  harus mampu memberi penjelasan tentang keadaan di Tanah Air.
Demikian Wapres Megawati.

Maka terasa  pentingnya sikap dari Dubes Irsan dan �his gang� yang dengan
semangat reformasi menyambut prakarsa Stichting Azie Studies dan teman-teman
lainnya tadi itu, untuk memanfaatkan potensi yang sekecil apapun di kalangan
masyarakat Indonesia di Belanda untuk diabdikan bagi Tanah Air dan bangsa.
Memanfaatkan potensi masyarakat bangsa sendiri, bagi KBRI sesungguhnya
adalah masalah yang elementer yang harus dilakukannya. Karena,
keterbatasannya sebagai suatu perwakilan diplomatik, ia  tidak mungkin bisa
dengan baik melakukan tugasnya tanpa bekerjasama dan berkordinasi dengan
masyarakat Indonesia yang punya kepedulian tinggi mengenai nasib Tanah Air.

Agenda Utama adalah Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Dalam diskusi yang berlangsung kemarin itu, Dubes Irsan menggarisbawahi
keperluan mendesak untuk bersamasama memandang ke depan, dengan semangat
rekonsiliasi memberikan segala apa yang bisa disumbangkan demi persatuan dan
keutuhan Indonesia. Beliau menganjurkan, dalam bersikap terhadap  sesama
bangsa Indonesia, janganlah melihat warna dasi yang dipakainya, stelan yang
bagaimana yang dikenakannya, topi apa yang diatas kepalanya, serta ideologi
dan politik apa yang dianutnya. Sisihkan perbedaan-perbedaan itu semua.
Pertama-tama perlakukanlah setiap warga Indonesia  sebagai sesama bangsa
sendiri, sebagai sesama warganegara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang
juga punya cita-cita bersama memelihara dan memperkokoh persatuan dan
kesatuan NKRI, serta bersamasama menanggulangi masalah-masalah di saat
negeri dan bangsa sedang menghadapi kesulitan dan krisis dewasa ini. Untuk
menjadikan Indonesia sebagai suatu nasion yang kuat dan makmur.

Dubes Irsan mengulurkan tangan kepada masyarakat Indonesia di Belanda untuk
bersamasama memikirkan apa saja yang bisa dilakukan bersama demi kepentingan
bersama. Tawaran ini mendapat sambutan hangat.

Saya khusus mengingatkan bahwa di Nederland ini ada pandangan yang dianut
oleh sementara fihak dikalangan pemerintah, Tweede Kamer, Eerste Kamer, pers
maupun kalangan cendekiawan, bahwa �Indonesie bestaat niet�, �Indonesia itu
tidak ada�. Yang ada adalah bangsa Jawa, bangsa Aceh, bangsa Minang, bangsa
Batak,  bangsa Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dll. Inti sarinya adalah
mempromosi separatisme. Disaat ini pandangan seperti itu amat negatif
dampaknya di kalangan masyrakat Belanda. Maka pas sekali uluran tangan KBRI
seperti yang diajukan oleh Dubes Irsan, untuk mengadakan kerjasama dan
kordinasi mengatasi masalah tsb.

Menanggapi apa yang dikemukakan Dubes agar kita memusatkan fikiran dan usaha
ke haridepan Indonesia, ketimbang tertahan oleh masa lampau yang bisa
mengarah kepada rasa dendam, Wakil Ketua SAS,  AS Munandar, menyatakan bahwa
masa lampau adalah sejarah, tentang mana perlu dilakukan studi serta
pemahaman yang jernih, untuk kemudian menarik pelajaran dari situ. Tanpa
pemahaman yang benar mengenai peristiwa-peristiwa dalam sejarah, maka
terdapat kekurangan serius dalam cara memandang ke masa depan. Belajar dari
pengalaman masa lampau justru untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di
masa lampau, untuk dengan baik memusatkan perhatian dan usaha untuk masa
depan. Mengenai hal ini akhirnya juga terdapat kesamaan pendapat .

Masih banyak masalah yang disinggung dalam pembicaraan siang kemarin itu,
seperti masalah reformasi, demokrasi, sikap terhadap tentara, dll. Namun
masalah tsb belum didalami, berhubung keterbatasan waktu. Dinyatakan harapan
bahwa dilain waktu dan kesempatan masalah-masalah tersebut bisa diangkat
kembali untuk jadi agenda dialog antara KBRI dan masyarakat Indonesia di
sini.

Akhirul ceritera, meskipun sedikit waktu yang tersedia siang itu, tukar
fikiran yang berlangsung, dengan  diselingi  humor dan gelak-tawa gembira,
telah mencapai kesatuan pemahaman mengenai masalah terpenting, yaitu
perlunya menomor satukan masalah persatuan dan kesatuan bangsa dan tanah
air, mengenai pentingnya mengusahakan sumbangan sekecil apapun yang bisa
kita berikan untuk itu, serta menindak lanjuti  kesatuan pemahaman ini dalam
langkah-langkah yang nyata.

Tidaklah dibesar-besarkan untuk menilai bahwa pertemuan weekend tsb adalah
suatu silaturahmi yang bermanfaat, positif dan punya harapan.

Langkah awal telah diayunkan. Semoga langkah-langkah selanjutnya bisa
diambil dalam waktu yangt tidak terlalu lama.

Insyaallah!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Sep 2000 jam 11:19:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke