JANGANLAH MURTAD! oleh: Pdt. Peterus Pamudji, Ph.D. Nats: Ibrani 6:11-20 Issue yang sering kali ditanyakan seputar keselamatan adalah: “Apakah orang Kristen bisa Murtad?” Jawabannya pasti: BISA! Tetapi jika pertanyaan itu menjadi: “Apakah orang Kristen yang sudah diselamatkan (Sudah Lahir Baru) bisa Murtad?” Jawabannya menjadi: TIDAK BISA! Perbedaan ini menjadi tolok ukur untuk kita membahas nas yang sudah dibaca. Orang yang hanya sekadar Kristen dan belum lahir baru sebenarnya hanya sekadar seorang yang beragama, tetapi mereka yang telah sungguh-sungguh percaya – yaitu tidak hanya sekadar tahu, tetapi mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh. Banyak orang Kristen yang datang ke gereja tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Kristus. Sehingga banyak orang Kristen yang tidak berani bayar harga dan memikul salib. Mereka hanya hanyut dengan ‘euforia rohani’ (euphoria=kesenangan). Bahkan di luar sana ada banyak orang. Bahkan Hamba Tuhan yang tidak mengajarkan Injil dengan benar, sehingga orang Kristen hanya sekadar beragama Kristen. Ibrani 5:11-14 menjelaskan mengenai orang-orang yang ‘seperti itu’ (hanya mengejar euphoria rohani). Mereka selalu minum susu dan tidak mau makan makanan keras. Dan dalam Ibrani 6:1-8, penulis kitab Ibrani ingin memberikan peringatan kepada Jemaat agar tidak seperti itu. Bagian ini menjadi peringatan yang sangat keras, sehingga penulis memakai kata ‘sebab’ (Ibr. 6:4, yang sebaiknya diterjemahkan ‘jika’ atau ‘andaikan’) menjadi sebuah peringatan yang didasarkan dalam sebuah pengandaian. Artinya, jika mereka selalu ‘mengejar euphoria rohani’ maka kamu akan murtad. Dan yang murtad tidak akan dibaharui lagi (Ibr. 6:6). Maka penulis memperingatkan supaya jangan murtad. Tetapi itu bukan berarti ada orang yang sudah sungguh-sungguh lahir baru menjadi murtad. Maka, orang-orang yang sungguh-sungguh lahir baru akan selalu berpegang teguh pada pengharapan (Ibr. 6:9-20). Dan pengharapan itu berdasar pada janji Allah yang oleh penulis diberikan contoh tentang Abraham yang menanti dengan sabar janji Allah (Ibr. 6:15). Janji Allah yang terlihat mustahil bagi manusia kala itu, tetapi kemudian digenapi oleh Allah melalui sebuah mujizat. Maka dari contoh ini, jika kita berharap pada Allah, maka pengharapan itu bagaikan ‘sauh’/jangkar yang kuat (Ibr. 6:19). Maka apa pun yang terjadi dalam dunia dan sekitarnya, setiap orang yang sungguh-sungguh percaya tidak akan murtad. Mereka akan tetap berpegang pada Kristus. Mereka akan berani pikul salib dan bayar harga dalam mengikut Kristus. Jadi orang yang sudah sungguh-sungguh diselamatkan tidak akan murtad namun sebaliknya mereka akan berani bayar harga dan pikul salib dalam menjalani kehidupan iman mereka. Sumber: Ringkasan Khotbah Kebaktiandi Gereja Kristus Indonesia (GKI) Pregolan Bunder, Surabaya hari Minggu, 20 Mei 2012 http://www.gki-pregolan.org/front/index.php/ringkasan-kotbah/259-kotbah-20-mei-2012 "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

