Ada
yang menarik dari kasus komplain terhadap pengendara Harley-Davidson dan moge
di Jalan Raya Cinere, Jaksel (OTOMOTIF No.42/XV). Yakni beberapa ungkapan kekesalan
Sarie Fabriane yang disampaikan lewat milis bersubject OOT: Gerombolan Harley
Davidson Makin Memuakkan dan Menjijikkan!
MENUTUPI
KELEMAHAN
Menariknya, dari e-mail yang mendapat tanggapan dari ratusan orang ini sang
korban mengemukakan "...masih sulit akal saya untuk menolerir aksi gagah2an
mereka yang mentang2 itu. Pikiran kotor saya hanya sempat mengira, mereka hanyalah
kumpulan begundal2 impoten yang mencari kompensasi dengan mengangkangi moge.
Sehingga tercapailah ilusi kegagahan diri!! ..."
Tentu
bukan untuk memanas-manasi agar kasus ini menghangat kembali. Sebab, ada pelajaran
berharga dari kasus tersebut yang bisa dijadikan sebuah renungan. Betulkah perilaku
kasar sebagai kompensasi dari kelemahan diri yang berusaha kita tutupi? Wah,
ini tentu mesti ditinjau dari sisi psikologi.
Menurut
Cicilia Yeti Prawasti Msi, pengajar Psikologi Sosial Universitas Indonesia ia
enggak mengiyakan jika perilaku tersebut dihakimi seperti itu. Sebab banyak
juga kelakuan kompensasi yang bernilai positif.
Namun
ia mengungkapkan kemungkinan tersebut bisa saja terjadi, hanya dengan persentase
yang sangat kecil. "Jadi kompensasi itu berupa aktualisasi diri. Yaitu
keinginan untuk mengatasi inferioritas atau perasaan rendah diri seseorang,"
tutur Yeti.
Inferioritas
itu memicu perasaan orang untuk jadi struggle atau berjuang mengatasi kelemahannya.
Jadi, kalau seseorang enggak hebat di satu hal, ia bisa hebat dalam hal lainnya.
"Contoh Napoleon. Orangnya kecil, tetapi ia memiliki strategi perang yang
bagus."
Sementara
itu, perilaku arogan perlu diselidiki terlebih dulu, apakah ada unsur inferioritas
yang terpendam. Jadi Yeti menilai lebih tepat kalau kasus tersebut bukan ditinjau
dari sisi kompensasi, melainkan dari sisi psikologi sosial. "Di dalam kelompok
terjadi deindividuasi. Maksudnya, identitas diri seseorang berkurang, melebur
dan digantikan identitas kelompok," beber dosen 39 tahun ini.
Di
dalam kelompok, seseorang cenderung tidak ada yang memperhatikan secara individual.
Sehingga ia berani melakukan hal-hal yang belum tentu dia berani lakukan saat
sendirian. "Apalagi dengan menggunakan pakaian dan motor gede, perasaannya
menjadi berubah," ulas Yeti.
Ia
lantas memberi satu contoh lagi. Seorang suster di rumah sakit bisa santai mondar-mandir
di kamar mayat tanpa perasaan takut. Padahal, jika tidak bertugas suster tersebut
diliputi perasaan jiper. "Begitu ia memakai pakaian, topi dan sepatu perawat,
otomatis ia merasa memiliki kewajiban yang diemban. Jadi ada peran yang ia mainkan,
yaitu enggak boleh jadi penakut."
Dengan
demikian, adanya perilaku kasar tidak semata-semata berarti kompensasi seseorang
untuk menutupi kelemahannya. Begitu juga dengan menekuni hobi seperti naik motor
gede, bisa jadi karena daya pikat bidang tersebut cukup besar.
Kalo
cuma biar kelihatan berani, pake baju suster aja deh! Iday