UDARA dingin merambat pelan menyelusup tangan, kaki, dan wajah. Maklum, malam
itu, gerimis menerpa Jakarta. Perjalanan dari kantor di gedung Aryadutta
Suites, Jl Jend Sudirman ke Taman Surapati, Jakarta Pusat, meski tidak lebih
dari 10 kilometer, harus menemui beberapa genangan air di jalan beraspal.
Jakarta masih berlubang.
Sepeda motor ku pacu agak cepat selepas fly over Casablanca yang mengarah ke Jl
Mas Mansyur, persisnya ketika melintas di depan Hotel Le Meridien, di Jl Jend
Sudirman. Laju sepeda motor sebelum kawasan itu hanya bergerak rata-rata 40
kilometer per jam (kpj). Kepadatan lalulintas (lalin) mencapai puncaknya. Jumat
(30/1), pukul 20.01 WIB, menjadi pilihan para pencari nafkah di Jakarta, baik
warga Jakarta maupun para urban untuk meninggalkan kantor untuk kembali ke
temat tinggal mereka di Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek).
Di ujung Jl Jend Sudirman, persisnya di bundaran Hotel Indonesia, kepadatan
kendaraan mulai menumpuk, berbelok kanan menuju Jl Tanjung lalu ke Jl Teuku
Umar hingga akhirnya memasuki kawasan Taman Surapati. Taman yang dibangun tahun
1926 oleh penjajah Belanda itu terlihat temaram. Usai mencari pintu masuk ke
areal taman, akhirnya menemui trotoar yang diganjal paving block sehingga motor
bisa melewati trotoar taman yang bentuknya lebih tinggi sekitar 5 cm dari jalan
aspal.
Waktu memasuki pukul 20.20 WIB ketika rampung melepas helm, body protector di
siku dan kaki. Rintik gerimis masih mendera. Lampu taman temaram. Di sisi taman
tampak berjejer rapih terparkir puluhan sepeda motor Bajaj Pulsar. Ya. Malam
ini, merupakan acara kopi darat keliling (kopdarling) Road Safety Association
(RSA). Komunitas pengendara sepeda motor yang beranggotakan sekitar 70-an
klub/komunitas sepeda motor di Jabodetabek. RSA fokus peduli kepada
permasalahan keselamatan berkendara (safety riding) di jalan raya.
Kopdarling kali ini giliran Pulsarian, komunitas pengguna sepeda motor Pulsar,
untuk menjadi tuan rumah. Komunitas pengguna Pulsar 180 dan 200 cc itu,
didirikan pada 1 Maret 2007. Hingga kini, anggotanya sudah lebih dari 350
bikers.
Suasana di taman yang sebelumnya bernama Bisschoplein itu, layaknya taman-taman
kota. Di sudut-sudut bangku taman tampak pasangan muda-mudi yang asyik
bercengkerama, lalu para penjaja minuman ringan, rokok, dan permen asyik
mengais rezeki. Namun, Taman Surapati malam ini terasa ’sesak’ oleh bikers.
Walau, pada malam-malam tertentu di kawasan itu memang menjadi tempat kopdar
komunitas sepeda motor. Selain Pulsarian, ada juga komunitas pengguna sepeda
motor Kawasaki Ninja dan Honda Tiger yang mangkal di taman yang berhadapan
dengan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.
Malam terus berlalu. Jadwal kopdarling yang tercantum pukul 19.00 WIB, ternyata
belum dimulai sama sekali. Tampak anggota Pulsarian asyik berbincang-bincang.
Setelah celingukan mencari pengurus RSA, akhirnya melihat bro Ecko, Syamsul,
dan Sontul. Mereka juga sibuk sendiri dengan perbincangannya. Usai
bersalam-salaman ala bikers, ikut nimbrung dengan mereka. Rasa haus mendorong
untuk memanggil pedagang asongan. Usai meneguk air kemasan dan lenyapnya rasa
haus, sebatang rokok mulai dinyalakan. Sama dengan Ecko dan Syamsul.
Melanjutlah perbincangan ngalor-ngidul. Sekitar pukul 20.32 WIB berdatanganlah
pengurus RSA lainnya yakni Rio bersama nyonya, Eddy, Ridwan, Rieza, dan Boyke.
Di sela perbincangan tuan rumah menyajikan cemilan bolu, risol plus sambal dan
aqua gelas. Perbincangan masih kangen-kangenan. Misal soal rute menuju ke Taman
Surapati, masalah kerjaan kantor, hingga soal jual beli motor dan mobil.
Barulah ketika jam menunjukkan pukul 20.41 WIB, Nde Siswandhi, pengurus
Pulsarian membuka kopdarling. Lewat pengeras suara (toa), Nde mengucapkan rasa
terimakasih Pulsarian kepada RSA. Setelah sedikit menyinggung keberadaan RSA
yang peduli pada masalah safety riding, Ndee meminta perwakilan RSA membuka
kopdarling kali ini. Saya selaku salah satu bagian RSA didaulat menyampaikan
sepatah dua patah kata sebagai prolog. Meluncurlah ucapan terimakasih RSA
kepada Pulsarian yang berkenan menjadi lokasi kopdarling. Saya juga menyinggung
sedikit mengenai RSA yang terbuka bagi siapa saja untuk mendiskusikan masalah
safety riding. RSA merupakan komunitas nirlaba yang secara bergiliran keliling
ke tempat kopdar anggotanya. Perbincangan saat kopdarling bertemakan soal
safety riding. Sebelum di tempat Pulsarian, bulan sebelumnya kopdarling di
tempat Honda Riders on Internet (Hornet) di Bulungan, Jakarta Selatan.
Kebetulan saat itu, topik kopdarling salah satunya
adalah membahas program safety riding goes to school (SRGTS) yang digagas
Independent Bikers Club (IBC) menggandeng RSA.
Usai saya melontarkan kata pembuka, Rio selaku Dewan Pengarah RSA melanjutkan
dengan memperkenalkan siapa saja jajaran RSA yang hadir dalam kopdarling kali
ini.
Pola Berkendara Dalam Konvoy
Waktu sudah bergulir masuk pukul 20.46 WIB ketika Rio mulai membuka sharing
mengenai berkendara dalam kelompok (group ride) alias berkonvoy. Rio mengajak
sekitar 50-an bikers yang hadir malam itu, khususnya anggota Pulsarian untuk
sharing saat berkonvoy termasuk soal jatuh dari motor.
Setelah tunjuk-tunjukkan, siapa yang harus bicara, muncullah Pitung anggota
Pulsarian. Ia menceritakan soal pengalamannya touring bersama. Pitung
menuturkan soal perilaku latah ikut mengatur barisan konvoy. Sikap itu mencuat
dari anggota rombongan yang merasa cukup berpengalaman atau senior di komunitas
tersebut.Meski sesungguhnya sudah ada petugas yang ditentukan dalam konvoy.
Senior itu menjadi petugas seperti dalam membuka jalan dan blocking. Ironisnya,
petugas yang sudah ditunjuk kesulitan untuk mengingatkan sang senior agar
instruksi tidak overlapping. Pitung minta advise, bagaimana menghadapi hal
seperti itu.
Perbincangan mengalir. Yopie dari Pulsarian melanjutkan sharing. Ia meminta
input mengenai group riding yang sebenarnya agar peserta konvoy bisa saling
menghargai pengguna jalan.
Sharing ketiga dalam sessi pertama mencuat dari Boggy, anggota Pulsarian. Pria
yang berperawakan tinggi besar itu melontarkan soal bagaimana ketika berbelok
di tikungan dan menemui lubang, apakah perlu memberi sinyal atau tidak kepada
barisan di belakang kita? Bagaimana sebaiknya agar tidak membahayakan konvoy.
Suasana sharing yang mengasyikan kerap diselingi deru mesin sepeda motor dan
mobil yang melintas di kawasan jantung Jakarta itu.
Rio selaku moderator perbincangan meminta Syamsul dari RSA untuk berbagi
pengalaman. Syamsul yang juga pelopor safety riding di komunitas Honda Tiger
Mailing List (HTML) itu membuka sharing dengan ungkapan rasa senang bisa
bertemu komunitas Pulsarian. Pria berkacamata yang banyak memakan asam garam
soal safety riding itu, beranggapan jika berbicara mengenai teori dalam
pertemuan kali ini ibarat mengajari ikan berenang.
Bagi Syamsul yang populer dengan sebutan Allan itu, komunitas atau klub ketika
berkonvoy (group riding) sesungguhnya sedang melakukan praktik marketing bagi
kelompoknya. Masyarakat bisa menilai suatu kelompok saat berkonvoy dari atribut
yang dikenakan, seperti jaket atau stiker yang melekat di kendaraan. Di tengah
pergerakan masyarakat yang kian kritis, ketika melihat perilaku menyebalkan
dari iring-iringan kelompok sepeda motor bakal menyuarakan ketidaksukaannya
melalui media massa. Karena itu, bagi Syamsul, pelaku konvoy harus menjaga
citra. Saling menghargai di antara sesama pengguna jalan dan tidak arogan.
Pernyataan Syamsul diamini peserta kopdarling yang berseru setuju. (edo
rusyanto)
Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com