Terkait soal latah mengatur barisan atau konvoy, bagi pria yang bekerja di BUMN 
itu, perlu ditegakkan disiplin diri para peserta konvoy. Sudah wajib penerapan 
prosedur standar berkonvoy yakni membentuk kepanitian dan petugas konvoy. Mulai 
dari yang memimpin (road captain) hingga petugas sapu bersih (sweeper) yang 
menjaga barisan dari belakang. Prosedur standar haru diikuti oleh seluruh 
peserta, termasuk oleh senior. 
Persiapan yang matang sebelum konvoy juga bakal membantu barisan menjadi lebih 
tertib. Perencanaan mencakup tujuan, rute, dan agenda apa yang akan dilakukan 
ketika tiba di tempat tujuan konvoy. Ia mengingatkan agar pengaturan waktu 
tidak terlalu mepet. Harus ada pengaturan jadwal istirahat yang cukup, terlebih 
jika menempuh perjalanan jauh hingga ratusan kilometer. Pemimpin rombongan juga 
diupayakan agar orang yang mampu membuat keputusan demi keamanan dan kenyamanan 
grup. Terkait perlu tidaknya memberi sinyal ketika di tikungan jalan. Syamsul 
menuturkan, setiap pengendara harus mampu membuat prediksi. Bisa saja 
mengurangi kecepatan, selanjutnya kembali ke kecepatan normal. Karena itu, 
dalam konvoy perlu dipertimbangkan keahlian berkendara (skill). Upaya 
menghindari accident ketika menemui tikungan terlebih yang berlubang, salah 
satunya adalah dengan memberi jarak di antara anggota konvoy. Upayakan 
konsentrasi tetap penuh terhadap jalan yang akan
 dilintasi, karena itu jangan memaksakan diri memberi sinyal tangan maupun kaki 
jika ternyata mengganggu konsentrasi berkendara yang justeru membahayakan diri. 
Sangat mutlak bagi tiap pengendara untuk mampu membaca kondisi sekitar. Ada 
baiknya sebelum bepergian mempelajari kondisi jalan yang bakal dilewati. Bikers 
juga harus mencaritahu tipikal pengguna jalan lainnya area itu dan mencermati 
rambu yang ada. Intinya, kata Syamsul, jaga jarak dalam konvoy dan kenali 
kondisi jalan.
Sharing dari Syamsul disimak secara antusias oleh peserta kopdarling. Waktu 
telah memasuki pukul 21.07 WIB. Gerimis masih saja turun. Bahkan ada indikasi 
bakal membesar.

Lampu Menyilaukan 
Sang moderator, Rio mempersilakan peserta kopdarling menyimpulkan sendiri 
sharing yang terlontar dalam forum malam itu. Sekaligus mengajak, para bikers 
yang hadir dari berbagai komunitas di antaranya adalah Pulsarian, Thunder 
Riders Community (TRC). AN TV Riders Club (ARC), Yamaha Vixion Club (YVC), dan 
Yamaha Jupiter Owners Club (YJOC), untuk kembali sharing.
Bikers dari Pulsarian melontarkan topik mengenai lampu bercahaya terang atau 
lampu high intensity discharge (HID). Lampu jenis itu, kini kita temui dalam 
beragam warna cahaya yakni putih, biru, dan ungu. Ironisnya, lampu tersebut 
cenderung menyilaukan mata pengendara lainnya. Sang bikers meminta input 
bagaimana menghadapi lampu yang menyilaukan mata tersebut. Topik itu ditimpali 
Meli dari Pulsarian. Menurut dia, pemakai lampu yang terang mestinya di barisan 
depan saat berkonvoy di malam hari. Sedangkan untuk mengatasi kebosanan 
berkonvoy yang bisa membuat ngantuk, Meli milih di posisi barisan belakang.
Nde Siswandhi menimpali, bahwa dirinya sangat membenci lampu HID yang 
menyilaukan mata. Ia menyarankan, agar bikers tidak memasang di sepeda 
motornya. Terkait soal mengatasi rasa kantuk, bagi pria lajang itu, kecepatan 
jangan melebih 70 kpj. Dan, road captain harus bisa membaca kondisi sehingga 
tahu kapan mempercepat atau memperlambat konvoy.
Anggota Pulsarian lainnya menimpali bahwa dirinya memakai lampu HID karena 
pernah terjatuh gara-gara lampu standar sepeda motornya tidak mampu menerangi 
jalan sehingga ia tidak melihat separator jalan di kala hujan.Dalam berkonvoy, 
ia minta ditempatkan di bagian belakang dan jaraknya tidak terlalu rapat. Ia 
mengaku, tidak ingin arogan dalam berkonvoy dan bukan bertujuan gaya-gayaan 
dalam memakai HID.
Suasana malam kian dingin ketika rintik gerimis kian membesar. Bro Eko dari RSA 
menimpali bahwa penggunaan lampu sebenarnya sudah diatur dalam peraturan 
pemerintah. Intinya, lampu tidak boleh menyilaukan pengguna jalan. Pria 
pengendara sepeda motor Yamaha RX King itu, mengajak para bikers menggunakan 
lampu standar yang dibuat oleh pabrikan sepeda motor. Sedangkan soal mengatasi 
rasa kantuk saat berkonvoy, intinya ia mengajak agar para bikers membuat 
manajemen yang efektif ketika memutuskan untuk berkonvoy. Salah satu solusi 
adalah, ketika kantuk menyerang, konvoy harus berhenti untuk beristirahat. 
Atau, jika kondisi jalan memungkinkan seperti kondisi jalan yang lurus, bisa 
saja menambah kecepatan sepeda motor. Terkait penggunaan lampu bagi kendaraan, 
PP No 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, telah mengaturnya dan 
melarang penggunaan lampu yang menyilaukan mata. Aturan itu termaktub dalam 
pasal 29 hingga 31 PP tersebut.

Terkait istirahat dalam mengatasi kantuk, Roki dari komunitas vespa Partisi 
juga punya pengalaman serupa. Ia membeberkan bagaimana menjadi pengawal konvoy 
touring kelompok sepeda motor Inuk Lady Bikers Club (ILBC). Menurut dia, tiap 
45 menit, konvoy berhenti untuk beristirahat mengingat dalam rombongan terdapat 
anggota yang belum memiliki pengalaman bepergian jauh menggunakan sepeda motor. 
Soal permen, termasuk permen karet, dinilai cukup membantu untuk menghalau rasa 
kantuk.
Di sela sharing, ketika jarum jam memasuki pukul 21.26 WIB, tiba-tiba rombongan 
ARC dan TRC.
Sontak, sang moderator, Rio, meminta peserta yang baru datang untuk 
memperkenalkan diri.
Kenmada, penasihat ARC langsung membuka dengan ucapan terimakasih atas 
kesempatan untuk bisa hadir dalam kopdarling RSA. Ia juga memperkenalkan 
rombongan yang dipimpinnya termasuk ketua baru ARC. Menurut dia, kelompoknya 
memang baru berdiri dan harus banyak belajar mengenai berkonvoy dan safety 
riding. ARC mengandalkan anggotanya yang telah aktif di komunitas di luar 
ARC.Kenmada melontarkan sejumlah pertanyaan yakni apakah diperbolehkan 
blocking? Dan penggunaan lampu strobo dan sirene.
Sebelum sharing mengenai hal itu, Zulham YVC 180 yang datang bersama YVC 182 
menyuarakan soal safety riding yang bersifat kejam. Menurut dia, YVC yang masih 
awam soal safety riding menerapkan sikap bahwa safety riding harus dimulai dari 
diri sendiri lalu orang lain. Terkait soal penggunaan sinyal bagi dia, harus 
dikomandoi oleh road captain sedangkan anggota konvoy sebisa mungkin 
menghindari lubang yang ada.
Rio yang sedari awal memoderatori kopdarling kali ini, rupanya tidak bisa 
memendam hasrat berbicara. Ia tergelitik soal perilaku blokir dan penggunaan 
sirene dan strobo oleh para bikers. Bahkan, Rio bertanya soal adanya anggota 
Pulsarian yang memperoleh izin menggunakan strobo dan sirene dari aparat di 
Yogyakarta. Menurut dia, hal itu bisa menjadi bahan diskusi di RSA maupun 
ketika berinteraksi dengan aparat berwenang. Soal blokir, kata pria yang juga 
aktif di komunitas roda empat daihatsu itu, aturannya sudah jelas yakni hanya 
bisa dilakukan oleh aparat yang berwenang. Masyarakat sipil tidak boleh. Salah 
satu solusi untuk menghindari penumpukan konvoy adalah dengan membuat 
pemberangkatan bertahap atau kelompok touring (klotur). 
Di sela sharing soal safety riding, bro Ikbal, TRC 325 mengundang para bikers 
untuk ikut turnamen futsal yang digelar dalam rangka hari jadi ke 4 TRC pada 
Maret 2009.  Ia yang mengaku salut melihat kekompakan bikers yang masih 
bertahan di tengah gerimis, mengundang 60-80 komunitas untuk berpartisipasi 
dalam lomba yang memperebutkan hadiah total Rp 6 juta. Komunitas atau klub yang 
ikut turnamen dikenai biaya Rp 125 ribu per tim. Satu kelompok hanya 
diperkenankan mengirim satu tim. 
Di penghujung sharing, bro Tasha dari YJOC menuturkan, soal lampu hazard dan 
flip flop setiap klub hendaknya mengimbau anggota tidak menggunakan lampu 
tersebut. YJOC, kata dia, menertibkan dengan mengiimbau kepada anggota agar 
melepas lampu tersebut.
Rio menegaskan, lampu hazard hanya diperkenankan untuk kendaraan roda empat 
atau lebih. Kecuali memang ada produk tertentu dari ATPM sepeda motor seperti 
pada produk Kymco.
Gerimis makin membesar ketika jarum jam memasuki 21.48 WIB. Sebelum pertemuan 
ditutup Rio, bro Edo membagikan buku karyanya kepada perwakilan klub atau 
komunitas yang hadir. Sepuluh buku yang dibawa bro Edo terasa kurang karena 
masih ada yang belum kebagian. (edo rusyanto)



      Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke