dear om momod, numpang benwith yah, smoga berkenan. trims




sumber; http://edorusyanto.wordpress.com

twitter: @edorusia





artikel lain





jika foto/ilustrasi tak terlihat silakan klik Kemana  Kesadaran Kita?




 


KECELAKAAN
lalu lintas jalan ditaksir bakal menempati posisi ketiga terbesar sebagai
penyebab kematian manusia pada 2020. Bahkan, terhadap anak-anak dan remaja,
kecelakaan lalu lintas jalan bakal menjadi perenggut jiwa nomor wahid pada 2015.
Jauh di atas HIV/AIDS, malaria, dan TBC.


Prediksi
Perserikatan Bangsa Bangsa di atas bakal terwujud dengan gamblang jika penduduk
bumi kehabisan kepedulian untuk melenyapkan kecelakaan lalu lintas jalan. 
Termasuk
di Indonesia yang angka kecelakaannya rata-rata per hari merenggut 36 jiwa
tewas sia-sia sepanjang 18 tahun terakhir. Benarkah perilaku hidup aman,
nyaman, dan selamat sudah terkikis dari nurani dan kesadaran kita?


Sabtu
siang, 10 Juli 2010, ketika bersepeda motor dari Cibubur, Jakarta menuju
Cibinong, Bogor, Jawa Barat, saya berulangkali berpapasan dengan angkutan umum
seperti minibus dan angkutan kota yang berzig-zag ria. Di Jl Raya Bogor yang
menghubungkan Jakarta-Bogor, angkutan umum zig-zag melaju dengan kecepatan
tinggi, melibas garis putih menyambung yang semestinya sebagai pemisah untuk
lalu lintas dari dua arah. Angkutan umum minibus yang sesak dengan penumpang
meminta prioritas dari pengguna jalan dari arah berlawanan. Pengguna jalan
seperti saya yang menggunakan sepeda motor, segera terbirit-birit menghindar
daripada mati konyol.


Entah
yang ada di benak pengemudi angkutan umum tersebut. Padahal, di pundaknya
bersandar nasib puluhan penumpang, bahkan bisa jadi puluhan nyawa pengguna
jalan yang lain. Kesadaran akan keselamatan sesama pengguna jalan seperti 
tergadaikan oleh
kepentingan materialisme sesaat. Boleh jadi, ketergesaan sang sopir karena
saling berebut calon penumpang, atau untuk mengejar waktu untuk tiba lebih dulu
di terminal tujuan, untuk selanjutnya mencari penumpang untuk tujuan
kebalikannya. Semakin banyak penumpang yang diangkut, semakin banyak rupiah
yang terkumpul. Namun, kenapa keselamatan terabaikan?


Perilaku serupa juga mencuat dari para
pengendara sepeda motor yang saya temui dalam perjalanan menuju perhelatan hari
jadi Yamaha Vixion Club (YVC) Bogor di kawasan Cibinong, Bogor. Para pengendara
sepeda motor meliuk-liuk, saling serobot, berlomba dengan kecepatan tinggi. Tak
jarang melibas garis putih menyambung. Karut marut lalu lintas jalan bak tak
ada henti.


Sehingga tak aneh, kecelakaan lalu lintas jalan
masih dianggap sambil lalu. Masih
kurang gereget untuk menganggap kecelakaan sebagai musuh bersama bangsa.
Padahal, dalam rentang 18 tahun terakhir, tak kurang dari 218 ribu jiwa mati
sia-sia di jalan raya. Belum lagi ratusan ribu jiwa yang mengalami cacat seumur
hidup atau luka-luka ringan. Bandingkan dengan mesin pembunuh lainnya, termasuk
bencana alam, tak ada yang menandingi. Tentu saja jangan dibandingkan dengan 
penyakit
jantung dan penyakit TBC.


Persoalan
kecelakaan jalan, khususnya yang menimpa pengendara sepeda motor, terkait erat
dengan kebiasaan hidup aman dan selamat. Maklum, data Kepolisian RI
menyebutkan, faktor utama pemicu kecelakaan adalah perilaku para pengendara. 
Bicara
soal perilaku kita bakal menjumpai minimnya kesadaran untuk hidup aman dan
selamat. Misalnya saja, tak jarang kita menjumpai pengendara motor pria yang
mengangkut penumpang lebih dari dua orang. Di satu motor terdapat, pengendara,
penumpang wanita dewasa, dan dua penumpang anak-anak atau balita. Ironisnya,
para penumpang tak dilengkapi perlindungan helm.


 


 


Membangun Kesadaran


 


Ada hal menarik saat saya berinteraksi dengan puluhan
bikers anggota YVC Bogor maupun bikers undangan yang hadir dalam syukuran tahun
kedua klub pengguna sepeda motor Yamaha Vixion tersebut. Seorang bikers
menanyakan soal ketidakadilan penindakan pemakaian atribut sirene dan strobo
antara bikers A dengan bikers B. 


Di
sini perenungan saya masuk ke ranah pentingnya para aparat penegak hukum
bertindak tegas, adil, dan konsisten. Tanpa ketiga unsur tersebut, rasanya bakal
memperburuk kondisi lalu lintas jalan kita. 


Dalam kondisi masyarakat yang kesadarannya belum
pulih mengenai keselamatan berlalu lintas jalan, peran para penegak hukum
tergolong vital. Tak perlu over acting,
cukup menjalankan sesuai amanat undang undang, bakal banyak membantu upaya
membangun kesadaran masyarakat. Sikap terlalu menyalahkan masyarakat pengguna
jalan, menyiratkan ketidakmampuan aparat dan pemerintah mengedukasi masyarakat
pengguna jalan.


Karena itu, langkah awal memasuki penindakan
adalah mengedukasi masyarakat secara massif dan berkesinambungan. Pemerintah
melalui organnya, termasuk badan usaha milik negara (BUMN) dan para penegak
hukum, sudah semestinya bahu membahu mendidik para pengguna jalan secara
kontinyu. Secara pararel, penegakkan hukum dirintis dengan memberi tauladan
kepada masyarakat.


Keharmonisan lalu lintas jalan menjadi simbol
keteraturan sosial masyarakat. Simbol denyut kehidupan masyarakat secara sosial
ekonomi. Ada mobilitas yang mendorong roda ekonomi. Ada mobilitas yang
memuluskan proses pencerdasan generasi bangsa.


Tanpa lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan
selamat, mustahil lahir struktur ekonomi masyarakat yang kuat. Sudah banyak
literatur yang menuangkan hasil penelitian tentang tingginya biaya ekonomi dan
sosial akibat kesemrawutan lalu lintas jalan. Termasuk kian menganganya lapisan
ozon di angkasa sana, serta kian bolongnya rongga perut bumi akibat bahan bakar
minyak (BBM) dari fosil yang terus disedot untuk memanjakan kendaraan berbasis
motor. 


Sekecil apapun kesadaran kita terkait pentingnya
keselamatan jalan, amat membantu menuju masyarakat yang sejahtera. Kesadaran 
kecil
namun berdampak besar perlu terus digelorakan, misal saja, berhenti di belakang
garis putih atau menyalakan lampu isyarat saat akan berbelok atau berputar
arah. Kalau tidak dari sekarang, mau kapan lagi? (edo rusyanto)





artikel lain

Kirim email ke