dear om momod, numpang benwith dikit yah, smoga berkenan, trims.




sumber (http://edorusyanto.wordpress.com)


twitter: @edorusia





artikel lain









Mimpi Anak Jakarta



TAK ada lagi kemacetan lalu lintas (lalin) jalan di jam-jam sibuk menjadi mimpi
banyak warga Jakarta pada saat ini. Apalagi bagi orang seperti saya yang
puluhan tahun menetap di kota megapolitan tersebut.

Kemacetan kian runyam dengan meruyaknya kecelakaan lalu lintas jalan. Dua tahun
terakhir, rata-rata tiga orang tewas akibat kecelakaan. Belasan orang lainnya
terpuruk akibat luka berat atau ringan.

Hal yang memprihatinkan, penyebab utama kecelakaan adalah perilaku manusia
sebagai pengguna jalan. Tak aneh jika jargon yang beredar menyebutkan, setiap
kecelakaan senantiasa diawali pelanggaran peraturan lalu lintas.

Mengapa terjadi pelanggaran aturan lalin? Pasti berderet-deret alasannya. Mulai
dari terburu-buru hendak masuk kantor, sekolah, atau kuliah. Letih dan stress
akibat kemacetan lalin. Kejar uang setoran, tidak memahami aturan lalin, atau
karena tidak ada petugas yang mengawasi.

Lalu muncul lagi pertanyaan, kenapa mesti terburu-buru masuk kantor? Bangun
kesiangan? Dan seterusnya, dan seterusnya. Hingga pada suatu akhir, manusia
ingin menjalani hidup penuh kenyamanan.





Transportasi Nyaman

Salah satu mimpi sebagai warga Jakarta adalah terwujudnya transportasi umum
massal yang aman, nyaman, dan terjangkau. Makna terjangkau penekanannya pada
dua aspek yakni secara finansial dan pengaksesan.

Transportasi
seperti itu kerap diyakini mampu mendukung mobilitas warga Jakarta dan
sekitarnya. Transportasi seperti itu juga bisa memangkas peredaran kendaraan
pribadi di jalan-jalan Jakarta yang jumlahnya hanya 7.650 km atau 0,26% dari
luas wilayah DKI Jakarta. Di sisi lain, pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01%
per tahun, bandingkan dengan pertumbuhan kendaraan pribadi yang bisa di atas
10%.

Transportasi
seperti apa yang bisa membuat nyaman, aman, dan terjangkau? Saat ini, di
Jakarta kita mengenal Trans Jakarta. Sebuah layanan bus yang memakai jalur
khusus, halte dan terminal khusus, serta para awaknya yang memperoleh gaji
bulanan. Sebuah fakta yang kontras dibandingkan bus umum lainnya. Bus Trans 
Jakarta
cukup nyaman dengan fasilitas air condition (AC), walau dalam kondisi
berdesak-desakan. 

Saat membuka-buka
data, saya menemukan dokumen Dinas Perhubungan DKI Jakarta tentang Pola
Transportasi Makro (PTM). Dua dari pola tersebut adalah monorail dan subway.
Hemmm....

Monorail memiliki
dua rute yakni, Mal Taman Anggrek (Jakarta Barat)-Kampung Melayu (Jakarta
Timur) dan Lingkar Dalam Kota. Sebagian dari fasilitas monorail yani seperti
tiang beton penyangga rel, sudah terbangun di berbagai titik Jakarta.

Sedangkan subway
yang memiliki rute Lebak Bulus (Jakarta Selatan) sampai Kota (Jakarta Pusat),
hingga kini belum terlihat denyutnya. Sudah barang tentu, kedua mega proyek
tersebut menelan dana triliunan rupiah. Serta bakal kompleks proses
pembangunannya. Karena itu butuh dukungan lintas instansi dan komponen
masyarakat serta yang paling penting, dukungan politik dari pemerintah.

Kedua moda
transportasi itu diharapkan mampu memangkas kemacetan lalin dan tentunya
diharapkan berimbas pada penurunan kecelakaan lalin jalan. Pertanyaannya, kapan 
keduanya terwujud?

Yah namanya juga
mimpi, kadang terlalu muluk dibandingkan kenyataan. Tapi, kalau mimpi saja 
sudah tidak berani,
bagaimana di dunia nyata? (edo rusyanto)



artikel lain


Kirim email ke