Bapak Setio Hartanto Yth,
Seperti banyak diminta oleh anggota ML ini, saya juga mohon untuk dikirimi
FOTO dan DATA / SPESIFIKASI dari TANAMAN AJAIB yang Bapak tulis dalam
posting di ML ini.
Foto / data tersebut dapat Bapak kirimkan lewat japri atau ke ML. kebunku,
agar dapat diketahui dan dimanfaatkan orang banyak.
Semoga amal baik Bapak mendapat balasan berlipat ganda dari Alloh.
Salam hangat,
Abusaleh<[EMAIL PROTECTED]>
===========================================================
----- Original Message -----
From: Setio Hartanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kebunku <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, June 06, 2000 11:29 AM
Subject: [kebunku] TANAMAN AJAIB-1
> TANAMAN AJAIB
>
> Satu Lagi, Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker (1) Keladi Tikus, Ditemukan di
> Pekalongan
> Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya "keladi tikus".
> Ia
> terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif
> singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang
> profesor
> ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh dunia.
> Dilly Wibowo, SURABAYA
>
> Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
> memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
> "keladi
> tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang
> dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai
> penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25
> sampai
> 30 sentimeter ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar
> matahari
> langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs
> Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.
> Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.
> Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains
> Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia.
> Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu
> ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia baru,
> Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini
> pertama
> ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah.
>
> Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan
> harus
> dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat
> melalui
> operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk
> membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker
> tersebut.
> "Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan
> wig
> (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontok an rambut,
> selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan", jelas Patoppoi.
> Selama
> mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
> mencari
> pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai
> penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga
> saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar
> Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang
> berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat
> dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet
> They
> Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca
> sekilas,
> langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya
> malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia,"
> kenang Patoppoi sambil tersenyum.
>
> Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
> Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat
> Departemen
> Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut.
> Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di
> Pekalongan, Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka
> menemukan
> tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan
> mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk
> menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu. Selang beberapa
> hari,
> Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut
> memang
> benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk
> menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad
> bulat
> dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut
> sesuai
> dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat.
> Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran,
> Sidoarjo
> untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.
>
> "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di
> pinggir
> sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh
> liar
> di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. Selama
> mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan
> efek samping kemoterapi yang dijalani nya. Rambutnya berhenti rontok,
> kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya
> pun
> kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut,
> isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan
> negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,"
> kata Patoppoi.
>
> Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan
> pada isteri nya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah
> memberikan
> dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan
> mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung
> pengobatan
> dukungan tersebut dan menyarankan agar mengembangkan nya. Apalagi
> melihat
> keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi
> yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan
> sekali diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu hal,
> para
> dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan
> tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.
>
> Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
> isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr. Teo
> melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak
> terdapat
> di Jawa dan mengajak Dr.Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di
> Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka
> tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,"
> sambung
> Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan
> dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia,
> Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan
> berkonsentrasi
> dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.
>
> --------bersambung
>
>
>
>
> --
> To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
> Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]
>
--
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]