Mas Sentanu dan rekan-rekan,
Terimakasih atas informasinya. Saya juga tertarik dengan katuk tsb, tetapi
saya nggak tahu macam apa pohonnya ? Apakah ada di net yang ada gambarnya?
Regards:
Joko Sulistyono
> -----Original Message-----
> From: AIS Jabar [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, July 03, 2000 1:36 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [kebunku] Pagar hijau
>
> Ortu punya warisan rumah dengan kebun yang sudah ditata sejak dahulu kala
> (!933).
> Pagar hidup yang sudah terbukti bandel, tidak bala, dan terutama
> pangkasannya bisa dimakan atau di jual, adalah Kedondong Laut dan Katuk.
>
> Kendodong Laut memeiliki keistimewaan al. pucuk berwarna kuning lalu
> berubah
> menjadi hijau muda. Tumbuhnya relatif lambat sehingga tidak perlu sering
> di
> pangkas. Seperti kata bang Husni, daunnya biasa dikukus sebagai lalaban
> dan
> dipercaya oleh nenek saya agar supaya urine dan keringat menjadi wangi.
> Biasa disajikan untuk gadis yang akan naik pelaminan.
>
> Katuk relatif cepat tumbuh, tahan terhadap kemarau, enak dibuat sayur
> dengan
> bumbu kunci. Daun ini sudah sangat terbukti dapat memperbanyak susu bagi
> ibu
> yang sedang menyusui. Katuk cukup laris di pasaran, sejak saya ingat pagar
> tersebut dipanen 2 minggu sekali dan dijual di pasar untuk tambahan bonus
> tukang kebun. Jika rajin di panen pohonnya menjadi rapi seperti pohon teh,
> atau teh-tehan, atau anak nakal. Pohon ini sekarang banyak dikebunkan
> secara
> komersial di daerah Pagaden, Subang sebagai bahan baku industri larutan
> penyegar dan ektraks dalam kapsul untuk laktasasi ibu menyusui.
>
> Jika ingin punya pagar hidup yang cepat rimbun, tahan penyakit, saya
> rekomendasikan pohon Kejibeling dan Anak Nakal. Tetapi harus siap dengan
> resiko harus memangkas setiap minggu. Jika tidak, pagar hidup akan menjadi
> belukar hidup.
>
> Sentanu
>
--
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]