menurut pendapat saya, itu bukan tirani minoritas... namun kebesaran jiwa
mayoritas untuk kebaikan seluruh anak bangsa NKRI...

salam,
ananto



2013/6/23 Dedy Iskandar <[email protected]>

> **
>
>
> Tanggal 22 Juni bagi umat Islam di Indonesia adalah hari yang sangat
> bersejarah. Pada hari itu, sebuah gentlement agreement, perjanjian luhur
> yang dibuat oleh tokoh-tokoh nasional, berhasil merumuskan sebuah tonggak
> sejarah bagi cita-cita penegakan syariat Islam di Indonesia. Pada 22 Juni
> 1945, tokoh-tokoh nasional yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha
> Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), terdiri dari Soekarno, Mohammad
> Hatta, Mohammad Yamin, A.A Maramis, Haji Agus Salim, Abikoesno
> Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, dan KH Abdul Wahid Hasjim,
> menandatangani sebuah kesepakatan yang kemudian disebut dengan “Piagam
> Jakarta”.
> ** **
> Naskah Piagam Jakarta yang dilahirkan dari hasil konsensus bersama, dengan
> mencurahkan segala pikiran dan tenaga, kemudian menjadi Mukaddimah
> (Preambule) dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mukaddimah ini kemudian
> dibacakan oleh Soekarno pada sidang paripurna, 10 Juli 1945. Berikut isi
> Mukaddimah UUD 1945 itu:****
> ** **
> Pembukaan****
> ** **
> “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh
> sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak
> sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan
> kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia, dengan
> selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
> negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.****
> ** **
> Setelah membacakan Mukaddimah yang mendasari UUD 1945 hasil rumusan
> sidang, Soekarno mengatakan bahwa segenap pikiran para peserta sudah
> terpenuhi dengan baik. “Masuk di dalamnya ketuhanan, dan terutama sekali
> kewajiban umat Islam untuk menjalankan syariat Islam,” ujarnya sambil
> menyebut beberapa pikiran tentang nasionalisme, persatuan, kemanusiaan,
> kemerdekaan dan keadilan sosial. Karena itu, kata Seokarno, panitia sidang
> berkeyakinan bahwa inilah preambule yang bisa menghubungkan dan
> mempersatukan segenap aliran yang ada di kalangan anggota BPUPKI.****
> ** **
> Allahyarham Mohammad Natsir menyebut Piagam Jakarta sebagai tonggak
> sejarah tercapainya cita-cita Islam di bumi Indonesia. Umat Islam ketika
> itu menyambutnya dengan suka cita, karena harapan untuk bisa menjalankan
> syariat Islam yang diatur oleh negara akan bisa terlaksana. Tujuh kata
> dalam Piagam Jakarta, yaitu: “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
> bagi pemeluk-pemeluknya”, adalah hadiah terbesar bagi umat Islam yang
> memang memiliki cita-cita kemerdekaan dalam bingkai Islam.****
> ** **
> Jenderal Abdul Haris Nasution, dalam sebuah pidatonya mengatakan, “Dengan
> hikmah Piagam Jakarta itu pulalah, selamat sentosa menghantarkan rakyat
> Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
> berdaulat, adil, dan makmur,” ujarnya.  A.H Nasution adalah jenderal yang
> cukup disegani di kalangan angkatan darat, dan pelaku sejarah yang banyak
> berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional.****
> ** **
> Pada peringatan 18 tahun Piagam Jakarta, 22 Juni 1963 di Jakarta, Jenderal
> Nasution menceritakan latarbelakang perjalanan bagi terciptanya suatu
> kesepakatan nasional, gentlement agreement (perjanjian luhur), yang sesuai
> dengan cita-cita Islam. Jenderal Nasution mengatakan, Piagam Jakarta muncul
> di antaranya karena inisiatif para alim ulama yang mengirimkan surat berisi
> usulan tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang akan digunakan bagi
> Indonesia merdeka. Surat yang dikirim oleh para ulama, dan tercatat dalam
> arsip, ada sekitar 52 ribu surat dari seluruh Indonesia. Karena itu,
> Jenderal Nasution mengatakan, “Bagaimanapun juga, Piagam Jakarta banyak
> mendapat ilham daripada hikmah 52 ribu surat-surat dari alim ulama dan
> pemimpin-pemimpin Islam,” jelas Nasution yang sudah mendapat gelar Jenderal
> Besar dari pemerintah.****
> ** **
> Kalau kita melihat pada fakta sejarah, dimana santri dan kiai terlibat
> dalam front-front jihad untuk mengusir penjajah, maka bisa dipastikan bahwa
> 52 ribu isi surat yang dikirim oleh para alim ulama tersebut berisi
> aspirasi agar negara yang nantinya merdeka, berdiri tegak dengan cita-cita
> dasar penegakan syariat Islam. Apalagi, perjalanan hukum Islam di Nusantara
> bukan hal yang baru. Banyak hukum-hukum adat pada masa lalu, yang
> mengadopsi syariat  Islam.****
> ** **
> Setelah Soekarno membacakan Mukaddimah UUD 1945, yang di antaranya berisi,
> “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“,
> upaya-upaya untuk menghapus kata-kata tersebut terus berdatangan dari
> kelompok non-Muslim. Salah satunya dari tokoh Kristen asal Maluku,
> Latuharhary, yang menyatakan bahwa kalimat tersebut mengkhawatirkan bagi
> pemeluk agama lain. Kekhawatiran Latuharhary disampaikan hanya selang
> sehari setelah Soekarno membacakan Mukaddimah UUD 1945 tersebut. Soekarno
> kemudian mengingatkan pada anggota sidang bahwa Preambule (Mukaddimah) itu
> adalah suatu jerih payah antara golongan Islam dan kebangsaan. “Kalau
> kalimat itu tidak dimasukkan, tidak bisa diterima oleh kaum Islam,” kata
> Soekarno.****
> ** **
> Selain Latuharhary, seorang anggota Panitia Hukum Dasar yang menganut
> ajaran kebatinan, Wongsonagoro dan Hoesein Djadjadiningrat, juga memprotes
> soal kalimat yang memasukkan kewajiban syariat Islam tersebut. Mereka
> mengatakan, kalimat tersebut seolah-olah adalah paksaan dari negara bagi
> umat Islam untuk menjalankan syariat Islam. Protes mereka kemudian
> dipatahkan oleh Soekarno, dengan menegaskan, “Anak kalimat itu merupakan
> kompromi antara golongan Islam dan golongan kebangsaan, yang hanya didapat
> dengan susah payah.”****
> ** **
> Pada 15 Juli 1945, KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) mengusulkan agar
> presiden wajib beragama Islam. Usulan tersebut mendapat sambutan dari KH
> Masjkur, yang mengatakan, jika ada kewajiban menjalankan syariat Islam,
> maka presiden haruslah seorang Muslim. Usul ini awalnya ditolak oleh
> Soekarno, dengan alasan bisa merusak kesepakatan yang sudah ditandatangani
> pada 22 Juni tersebut.****
> ** **
> Penolakan oleh Soekarno membuat Abdul Kahar Muzakkir, salah seorang
> penandatangan Piagam Jakarta berang. Sambil menggebrak meja, ia mengatakan,
> “Supaya dari permulaan pernyataan Indonesia merdeka sampai kepada pasal di
> dalam Undang-Undang Dasar itu yang menyebut-nyebut agama Islam atau apa
> saja, dicoret sama sekali, jangan ada hal itu!” sindirnya.****
> ** **
> Selain Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo yang merupakan tokoh Muhammadiyah
> juga menyemprot Soekarno karena menolak usulan “presiden wajib beragama
> Islam”. Ki Bagus mengatakan, ”Saya berlindung kepada Allah dari setan yang
> merusak. Tuan-tuan, dengan pendek sudah kerapkali diterangkan di sini,
> bahwa Islam itu mengandung ideologi negara. Maka tidak bisa negara
> dipisahkan dari Islam. Jadi saya menyetujui usul Tuan Abdul Kahar Muzakkir
> tadi. Kalau ideologi Islam tidak diterima, tidak diterima! Jadi nyata
> negara ini tidak berdiri di atas Islam dan negara akan netral,” tegasnya.*
> ***
> ** **
> Perdebatan hari itu berlangsung buntu. Sampai keesokan harinya, Soekarno
> yang mengaku tak bisa tidur lantaran itu, meminta kepada kalangan Kristen
> untuk menerima usulan dari tokoh-tokoh Islam. ”Saya minta dengan rasa
> menangis, rasa menangis, supaya sukalah saudara-saudara (kalangan Kristen,
> pen) menjalankan offer ini kepada tanah air dan bangsa kita,” pinta
> Soekarno sambil mengatakan bahwa hal ini mungkin sangat berat bagi orang
> Kristen, karena mengorbankan keyakinan mereka. Kesepakatan akhirnya dicapai
> bulat. Diterima semua pihak. Usul agar presiden adalah orang Indonesia asli
> yang beragama Islam dan kewajiban menjalankan syariat Islam disepakati.***
> *
> ** **
> Namun, upaya menghapus keyakinan Islam dalam Mukaddimah UUD 1945 terus
> dilakukan. Kelompok Kristen nampaknya masih terus keberatan dengan naskah
> Piagam Jakarta. Mereka kasak-kusuk mencari dukungan, agar tujuh kata dalam
> Piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam, bisa
> dihapuskan. Mereka terus melakukan lobi-lobi politik, sampai-sampai tak ada
> satu pun dari mereka (kalangan Kristen) hadir di Jalan Pegangsaan 56,
> ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada 17 Agustus 1945,
> dibacakan. Banyak yang tak tahu, bahwa sebelum Soekarno membacakan naskah
> proklamasi, terlebih dulu dibacakan Piagam Jakarta. Naskah Piagam Jakarta
> dibacakan oleh Dr Moewardi.****
> ** **
> Tokoh-tokoh yang hadir ketika Proklamasi Republik Indonesia dibacakan,
> adalah: Mohammad Hatta, KH A Wahid Hasyim, Abikoesno Tjokrosoejoso,
> Soekarjo Wirjopranoto, Soetardjo Kartohadikoesoemo, Dr Radjiman
> Wedyoningrat, Soewirjo, Ny. Fatmawati, Ny. SK Trimurti, Abdul Kadir (PETA),
> Daan Jahja (PETA), Latif Hendraningrat (PETA), Dr. Sutjipto (PETA), Kemal
> Idris (PETA), Arifin Abdurrahman (PETA), Singgih (PETA), Dr Moewardi,
> Asmara Hadi, Soediro Soehoed Sastrokoesoemo, Djohar Noer, Soepeno, Soeroto
> (Pers), S.F Mendoer (Pers), Sjahrudin (Pers). Sekali lagi, tak ada dari
> kelompok Kristen yang hadir. Seharusnya, dalam suasana kemerdekaan dan
> untuk menunjukkan rasa persatuan, kalangan Kristen hadir dalam pembacaan
> naskah proklamasi tersebut. Apalagi, proklamasi itu disiarkan ke seluruh
> pelosok negeri, bahkan ke luar negeri.****
> ** **
> Belakangan diketahui, para aktivis Kristen tidak hadir karena sibuk
> kasak-kusuk melakukan konsolidasi dan lobi-lobi politik untuk meminta
> penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Berkat lobi-lobi politik
> kepada Mohammad Hatta dan pendekatan kepada tokoh-tokoh Islam yang dikenal
> tegas seperti Ki Bagus Hadikusumo, dan sedikit ancaman bahwa rakyat
> Indonesia Timur akan melepaskan diri jika kalimat dalam Piagam Jakarta itu
> tetap ada,  akhirnya kalimat “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
> bagi pemeluk-pemeluknya” dihapuskan. Penghapusan itu terjadi hanya selang
> sehari setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, yaitu pada 18 Agustus 1945.
> ****
> ** **
> Dalam hitungan kurang dari 15 menit seperti diceritakan oleh Hatta, tujuh
> kata dalam Piagam Jakarta dihapus. Setelah itu Hatta masuk ke dalam ruang
> sidang Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan membacakan empat
> perubahan dari hasil lobi tersebut. Berikut hasil perubahan kemudian
> disepakati sebagai preambule dan batang tubuh UUD1945 yang saat ini biasa
> disebut dengan UUD 45:****
> ** **
> Pertama, kata “Mukaddimah” yang berasal dari bahasa Arab, muqaddimah,
> diganti dengan kata “Pembukaan”.****
> ** **
> Kedua, anak kalimat Piagam Jakarta yang menjadi pembukaan UUD, diganti
> dengan, ”Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.****
> ** **
> Ketiga, kalimat yang menyebutkan presiden ialah orang Indonesia asli dan
> beragama Islam seperti tertulis dalam pasal 6 ayat 1, diganti dengan
> mencoret kata-kata “dan beragama Islam.”****
> ** **
> Keempat, terkait perubahan poin kedua, maka pasal 29 ayat 1 berbunyi,
> “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai ganti dari,
> “Negara berdasarkan atas Ketuhananan, dengan kewajiban menjalankan syariat
> Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”****
> ** **
> Kesepakatan yang dihasilkan dari hasil peras otak dan pengorbanan tenaga
> serta waktu dari para tokoh nasional, akhirnya bisa diubah hanya dalam
> tempo singkat, 15 menit. Padahal, Jakarta Charter atau Piagam Jakarta
> adalah keinginan mayoritas umat Islam, dan telah disepakati sebelumnya pada
> 22 Juni 1945 oleh perwakikan tokoh-tokoh nasional sebagai gentlement
> agreement. Inilah yang disebut dengan makar jahat kelompok sekular dalam
> menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Padahal, Piagam Jakarta inilah
> tonggak awal dari upaya menegakkan syariat Islam di Indonesia.****
> ** **
> Inilah musibah terbesar bagi umat Islam di negeri ini. Ketua Umum Masyumi,
> Prawoto Mangkusasmito, saat itu dengan sedih dan perih mengatakan, ”Piagam
> Jakarta yang diperdapat dengan susah payah, dengan memeras otak dan tenaga
> berhari-hari oleh tokoh-tokoh terkemuka bangsa ini, kemudian di dalam rapat
> ”Panitia Persiapan Kemerdekan” pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam beberapa
> menit saja dapat diubah? Apa, apa, apa sebabnya? Kekuatan apakah yang
> mendorong dari belakang hingga perubahan itu terjadi?”****
> ** **
> Tokoh Masyumi lainnya seperti KH M. Isa Anshari dan Mohammad Natsir juga
> merasakan keperihan serupa. Isa Anshari menyebut peristiwa itu sebagai
> kejadian yang mencolok mata, yang dirasakan seperti ”permainan sulap” dan
> “pat-gulipat politik” yang diliputi kabut rahasia. Sementara Natsir
> mengatakan, penghapusan tujuh kata tersebut sebagai ultimatum kelompok
> Kristen, yang tidak saja ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada
> bangsa Indonesia yang baru 24 jam diproklamirkan. Natsir menegaskan,
> peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 adalah peristiwa sejarah yang tak bisa
> dilupakan. ”Menyambut proklamasi tanggal 17 Agustus kita bertahmid.
> Menyambut hari besoknya, tanggal 18 Agustus, kita istighfar. Insya Allah
> umat Islam tidak akan lupa,” kata Natsir.****
> ** **
> Kisah di balik penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta adalah bukti
> dari tirani minoritas, yang menelikung sebuah kesepakatan luhur bangsa ini.
> Aksi telikung menelikung dan pat-gulipat politik, terus mereka lakukan
> sampai hari ini, ketika umat Islam berusaha memperjuangkan aspirasi
> penegakan syariat Islam. (AW/salam-online.com)****
> ** **
> Sumber: http://salam-online.com/****
>
>  
>



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke