*Cara Menghukum Begal*





Dalam bahasa fiqih Begal dimaknai sebagai segerombolan orang yang saling
tolong menolong dan bantu membantu dalam melaksanakan maksud mereka,
mengganggu orang-orang di jalanan, merampas harta benda dan tidak
segan-segan membunuh. Demikianlah definisi qutthout thariq dalam at-Tadzhib
fi adillati matnil ghayah wat taqrib.






وهم قوم يجتمعون لهم منعة بأنفسهم يحمى بعضهم بعضا ويتناصرون على ما قصدوا
اليه ويتعاضدون عليه يترصدون الناس فى مكامن الطرق فاذا روأوهم برزوا قاصدين
أموالهم وربما أزهقوا نفوسهم






Keberadaan begal yang sangat meresahkan masyarakat dan mengganggu
ketentraman umat tidak dapat dimaafkan. Pembegalan, perampokan dan
kekerasan semacamnya merupakan dosa besar yang harus dihukum. Dengan jelas
al-Qur’an menerangkan hukuman bagi begal dalam al-Maidah 33:






Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan
Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau
disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau
dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu
penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang
besar.






Ibnu Abbas sebagaimana diterangkan Imam Syafi’i dalam al-Umm berpendapat
bahwa yang dimaksud dengan membuat kerusakan di bumi adalah berbuat sesuatu
di muka bumi yang dapat merusakkan kehidupan, seperti membunuh jiwa dan
merampok harta benda, atau menggaggu ketentraman masyarakat. Menurut ulama
modern termasuk dalam kategori perampok dan begal adalah koruptor,
pengemplang pajak negara dan juga pencuri kayu dihutan lindung. Karena
posisi mereka yang merusak stabilitas ekonomi negara dan semakin
menyengsarakan nasib bangsa.






Dalam rangka penerapan ayat al-Qur’an di atas, ulama fiqih mengklasifikasi
pembegal dalam empat bagian, sebagaimana diterangkan Abi Suja dalam Ghayat
wat Taqrib.






وقطاع الطريق على أربعة أقسام ان قتلوا ولم يأخذو المال قتلوا, فان قتلوا
وأخذو المال قتلوا وصلبوا وان اخذوا المال ولم يقتلوا تقطع ايديهم وارجلهم من
خلاف فان اخافوا السبيل ولم يأخذوا مالا ولم يقتلوا حبسوا وعزروا






Pembegal itu ada empat macam 1) apa bila begal itu membunuh tanpa mengambil
harta maka hukumannya dibunuh. 2) apabila begal itu membunuh dan mengambil
harta, maka hukumannya di bunuh dan disalib . 3) apabila begal itu hanya
mengambil harta (tidak membunuh) maka hukumannya dipotong tangan atau kaki
secara bersilangan (tangan kanan dan kaki kiri untuk pembegalan pertama,
dan tangan kiri kaki kanan untuk pembegalan kedua). Dan 4) apabila begal
itu hanya menakut-nakuti orang yang lewat tidak mengambil harta dan
membunuh maka hukumannya adalah dipenjara dan dita’zir.






Itulah beberapa macam hukuman untuk begal sesuai dengan kejahatan yang
dilakukannya. Oleh karenanya tidak dibenarkan menghukum bekal dengan cara
membakar. Karena hal itu sangat menyiksa dan bertentengan dengan
nilai-nilai kemanusiaan.






Hanya saja di Indonesia hukuman semacam ini hanya berlaku sebagai
pengetahuan yang bersifat teoritis dan tidak boleh dipraktikkan, karena
pemerintah sebagai pengatur kekuasaan memiliki undang-undang sendiri yang
wajib dipatuhi oleh segenap individu yang merasa sebagai warga negara
Indonesia. undang-undang yang mengatur tata kehidupan berbangsa demi
kemaslahatan bersama lahir-batin dunia dan akhirat. Sesuai dengan kaedah
fiqhiyyah yang berbunyi.






تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلىَ الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالمَصْلَحَةِ






“Kebijakan pemimpin (pemerintah) terhadap rakyatnya harus terkait dengan
kemaslahatan mereka” []






Sumber: NU Online






--
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke