Seringkali pembangunan justru memangkas sesuatu yang sudah menjadi tradisi, sesuatu yang sudah menjadi identitas yang melekat pada warganya. Tradisi dianggap kuno. Yang dianggap kemajuan, modern, adalah bangunan-bangunan yang tinggi menjulang. Emangnya begitu ya, yang dinamakan kemajuan, pembangunan?
Beberapa waktu terakhir polemik seputar pembongkaran--istilah kerennya "revitalisasi'-- Pasar Johar menuai pro-kontra. Pemkot mendapat tentangan keras dari para pakar tentang konsep revitalisasi yang diajukan. Menurut mereka, revitalisasi idealnya tidak merusak ciri khas yang sudah melekat pasar Johar, sebagai pasar yang merakyat bagi warga Semarang dan sekitarnya.
Tapi rupanya revitalisasi di mata Pemkot adalah membongkar Pasar Johar yang dianggap kumuh dan membangunnya yang lebih mewah. Bangunan lama dibabat habis. Yang ini mah namanya perusakan, bukan revitalisasi yang pada dasarnya akan tetap mempertahankan konsep awal.
Untuk masalah Pasar Johar, menurut saya yang awam tentang persoalan itu, Pemkot berdosa besar jika merombak total konsep awal. Yang namanya revitalisasi adalah membenahi sesuatu yang kurang, sesuatu yang belum enak dibuat agar menjadi lebih nyaman.
Misalnya masalah kebersihan di Pasar Johar itu yang masih kurang. Nah, masalah ini yang mungkin bisa ditekankan. Selain itu juga masalah rob yang seringkali melanda kawasan kota lama itu, dipikirkan bagaimana agar ketika rob datang, pasar Johar bisa terbebas. Intinya bagaimana agar pasar rakyat itu bisa enak dipandang mata. Yang namanya rakyat kan tidak harus selalu identik dengan kumuh?
Ke persoalan yang dikemukakan oleh Mas Imron tentang Pudarnya Identitas Kota Kendal, saya juga kuatir jika Kendal ikut-ikutan Tren pembangunan yang ada di kota-kota besar. Pembangunan adalah gedung-gedung yang menjulang, pasar-pasar tradisional yang digantikan oleh Supermarket dan Mall. Dalam hal ini konsep pembangunan menganut paham kapitalis, yang menguntungkan yang diutamakan.
Rupanya sekolah, institusi pendidikan tak dianggap menguntungkan bagi pemerintah Kendal. Nggak Aneh memang, SMK 7 alias STM Pembangunan juga masih tarik-ulur dalam proses ruislag, entahlah apakah akan dijadikan bangunan untuk mall atau hotel. Saya turut prihatin atas raibnya sekolah Mas Imron itu.
Yach begitulah, namanya pembangunan. Untung anda masih beberapa tahun meninggalkan Kendal. Coba kalau seperti Ashabul Kahfi yang ketiduran sampai beratus-ratus tahun, sangat mungkin anda akan kehilangan Kota Kendal yang sebenarnya, bukan simbol lagi yang menjadi identitas. Sudah jadi seperti apa ya kira-kira.....
Salam,
Muhamad Sulhanudin
Wong asli Kendal, ndeso-ndeso yo doyan Ngeblog
http://hanyaudin.blogspot.com
--- In [email protected], "imron_m" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Minggu kemarin saya balik ke Kendal. Kebetulan sih sebenarnya, karena baru dari Bantul
> ngantar bantuan. Balik ke Jakarta-nya lewat Pantura. Pasti dong lewat kampung halaman.
> Pas malam nongkrong di Alun-alun, saya baru ngeh kalo bangunan SMP Negeri 1 sudah
> gak ada. Yaa bekas sekolahan saya sudah gak ada lagi.
> Tapi bukan alasan nostalgia itu yang membuat saya bertanya-tanya. Dari beberapa temen
> saya mendapat cerita bahwa bangunan SMPN1 dirubuhkan karena nantinya akan dibuat
> semacam bundaran di lokasi itu. Bahkan, bangunan bekas menara air nantinya juga bakal
> dirubuhkan.
> Kenapa akan dibuat bundaran? Kawan saya tadi mengutip release resmi dari Pemda,
> bahwa hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan Kendal selama ini hanya menjadi
> daerah perlintasan saja. Dengan adanya bundaran, mereka yang melintas di Kendal akan
> melambatkan laju kendaraan, atau bahkan mungkin berhenti. Sehingga, para pelintas itu
> bisa berbelanja atau sekedar melihat potensi Kendal.
> Saya gak habis pikir kenapa Pemda (kalau benar release resmi Pemda mengatakan itu)
> memiliki logika sederhana seperti itu. Mengapa demi tujuan mempromosikan Kendal,
> Pemda jadi sangat pragmatis dan parsial dalam menyusun strategi pembangunan? Dari sisi
> manajemen transportasi yang mengutamakan kelancaran, kenyamanan dan keamanan
> apakah hal ini tidak mengganggu. Dari manajemen pemasaran, kalo tujuannya untuk
> promosi, kok ya naif banget.
> Saya teringat temen lama, seorang temen yang mengasong di perlintasan kereta api
> Kaliwungu, pada periode 1990-an. Garong namanya. Nama aslinya saya lupa. Asalnya dari
> Karangsari (Atau Banyutowo sih?).
> Ia menuturkan, pendapatannya dari jualan asongan di lintasan kereta api Kaliwungu
> lumayan. Dan yang penting, lancar. Untung bersih bisa sampai Rp20.000,- sehari.
> Keuntungan sebesar itu bisa diraihnya berkat kejelian dia dan teman-teman pengasong
> membaca situasi dan memanfaatkan kondisi. Salah satu triknya, jika dagangan lagi sepi,
> garong dan temen-temennya iuran masing-masing Rp100,- Dari semua pengasong
> terkumpul uang sekitar Rp2.000,-. Uang tersebut kemudian diberikan kepada penjaga
> palang kereta. Imbalannya, palang kereta ditutup jauh sebelum kereta lewat.
> akibatnya jelas. Deretan kendaraan di jalur paling padat di Jawa itu menjadi lebih panjang.
> Ke timur sampai pertigaan kayu lapis. Ke barat sampai kecamatan. Bahkan lebih panjang.
> Dengan deretan panjang kendaraan, dan faktor psikologis kejenuhan karena macet,
> dagangan garong lebih banyak terjual. Wajar jika dia bisa ngantongin untung sampai
> Rp20.000,- sehari.
> Mungkin saya terlalu apatis sehingga menganalogikan dua logika dari periode berbeda
> dan dari kalangan yang nyata berbeda pula. Tapi, sekali lagi, jika release itu benar, saya
> kok jadi geleng-geleng kepala sendiri.
> Tentu rencana pembangunan bundaran itu harus terus dilakukan karena bangunan SMPN
> 1 sudah dirubuhkan. Bekas menara air bakal menunggu giliran. Dua bangunan itu sejauh
> ini sudah menjadi landmark kendal akan segera hilaang dan tinggal kenangan.
> Semuanya tidak perlu disesali. Bukankah pembangunan tidak bisa dibelenggu oleh
> kenangan atau nostalgia masa lalu sekalipun mengatasnamakan landmark yang harus
> dipertahankan? Kendal harus lebih maju. Kendal harus lebih dikenal. SMPN 1 dengan
> gedung barunya harus bisa melahirkan generasi Kendal yang terdidik, yang pada
> gilirannya bisa mengangkat Kota Kendal.
> Mungkin kita warga Kendal akan mempunyai landmark baru untuk menggambarkan kota
> kita: Kemacetan, melengkapi landmark lain yang masih ada: banjir!
>
__._,_.___
_____ http://www.Kendal-Online.Net _____
Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet
SPONSORED LINKS
| Bali indonesia hotel | Bali indonesia | Indonesia hotel |
| Bali indonesia vacation | Bali indonesia travel |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "kendal-online" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

