samsul ulum
Tropical Forest Trust
wildlife specialist
kaliwungu city, kendal, central java
phone : 08128816933 or 085216274642
--- On Sun, 6/15/08, zulfa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: zulfa <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Fw: Raja Pengemis To: [EMAIL PROTECTED] Date: Sunday, June 15, 2008, 1:41 AM
----- Original Message -----
Sent: Friday, June 13, 2008 1:56 PM
Subject: Raja Pengemis
|
JAWAPOS Catatan Reporter: Ayo siapa yang
mau kaya silahkan jadi pengemis dari pada jadi
koruptor..

[ Kamis, 12 Juni
2008 ]
Bos Pengemis
Tinggal Nikmati Hidup
Cak To, begitu
dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai
pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya . Dari jalur
minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah,
dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.
---
Cak To tak mau
nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika
difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang
hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis,
hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya
.
Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih
menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan
atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke
kantong.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan
bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya
pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
Cak To sekarang juga sudah
punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas
400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun
dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang
sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota
Semarang .
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor
Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran
2004.
***
Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika
menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang
menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.
Meski
punya mobil yang kinclong,
penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya
kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan.
Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu
tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan
sekolah dasar.
Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa
Indonesia , pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan
selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli.
''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.
Cak To bercerita, hampir
seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat
bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun.
Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.
Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu
awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,' '
ungkapnya.
Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan' ',
awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya . Adik-adiknya
tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan.
Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di
kawasan Jembatan Merah.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi
pengemis di Surabaya . Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos
pengemis mulai terlihat.
Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari
meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan,
tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan.
''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya
bangga.
Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm,
Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya
menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria
berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet
(Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),''
tegasnya.
Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak
menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas
Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.
Kalau ada
keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang
hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
***
Cak To tergolong
pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia
dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara
berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
Makin lama, Cak
To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain.
Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak
To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah
enak,'' katanya.
Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To
mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung,
dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh
sebuah tape recorder dan TV
14 inci,'' kenangnya.
Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah
menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak
buah.
Cerita tentang ''keberhasilan' ' Cak To menyebar cepat di
kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya . ''Kasihan,
panen mereka gagal. Ya
sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.
Sebelum ke Surabaya , Cak
To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus
dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya
Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan
bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,''
tegasnya.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun
bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya
Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.
Agar tidak mencolok, ketika
berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To
dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping
untuk menarik iba dan uang recehan.
Hanya setahun mengemis,
kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi
menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan
sendiri-sendiri.
Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To
mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak
menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.
..
***
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus
bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang
mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak
mengemis setiap hari.
Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan
jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia
akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari,
yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
Menurut Cak To,
dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran
sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan
sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,''
ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan
sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga
tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu
kan ibadah. Mumpung kita
masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.
Sekarang, dengan hidup
yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal
saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To
akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... (ded/aza)
| Send
instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
|