disadari atau tidak, ternyata kebiasaan lingkungan pekerjaan dan profesi akan 
mempengaruhi kebiasaan kita sehari-hari.
 
Terkadang, seorang ahli hukum sulit berkata ngalor-ngidul ngerumpi karena 
terbiasa dengan bahasa hukum yang lugas dan meyakinkan. Bisa jadi kosa kata 
yang disampaikan sering to the point. Sehingga bagi beberapa orang terkesan 
nyelekit (menyinggung perasaan).
 
Terkadang, seorang dosen yang terbiasa memberi ilmu pada orang lain, akan 
cenderung sulit menerima ajaran orang lain. Kadang pula dengan kebiasaan ucapan 
dan tulisan yang berdasarkan literatur, cenderung jadi takut membuat pernyataan 
tanpa dasar literatur atau meremehkan ucapan/tulisan yang sifatnya tanpa bukti 
yang jelas (baca: ngerumpi, nggosip, dll). 
 
Terkadang, seorang politikus akan memandang apapun dan siapapun akan menjadi 
komoditas politik, yang siap diolah, dipropaganda, untuk kepentingan tertentu. 
Konon, politikus pandai bermain muka. Celebritis bermain hati. Dosen bermain 
data. dll. dll.
 
Menengok pada karakter akademisi, birokrasi, LSM, militer, praktisi, dll. 
mempunyai karakter yang cenderung berbeda. Akademisi cenderung mengatakan 
apaadanya, hitam atau putih, yang kadang tanpa mempertimbangkan dampak 
sosial/politis. Birokrasi cenderung mengatakan yang 'aman' untuk menjaga 
institusiyang tetap berkesan baik di mata publik, sehingga dalam memberi 
sambutan mengatakan "kita sudah melakukan ini itu...." dan menyembuntikan yang 
belum dilakukan. LSM cenderung berseberangan dengan birokrasi, sehingga ada 
yang berfalsafah "rakyat selalu benar, pemerintah selalu salah". Habits militer 
adalah kedisiplinan dan kejuangan serta garis komando. Sehingga dalam ucapan 
sering lugas, tegas dan tanpa basa-basi. Namun makin tinggi pangkatnya, 
biasanya makin 'luwes'. Praktisi, seperti sebutannya, lebih suka cara dan jalan 
yang praktis, singkat, dengan hasil maksimal. Seperti pengusaha, mereka biasa 
'potong kompas' untuk lobi ke berbagai jajaran guna
 melancarkan bisnisnya.
 
Melongok habits mahasiswa di kegiatan kampus. Menwa cenderung menganut pola 
semi militer. KSR cenderung mencetak relawan kemanusiaan. Mapala cenderung 
manusia bebas tanpa kekangan dan daya tahan (survival) yang tinggi di berbagai 
medan. BEM cenderung mengadopsi gaya LSM. HMJ cenderung seperti organisasi 
ilmiah. dll.
 
Namun dalam realitas lapangan, satu orang sering punya lebih dari satu profesi. 
Ya Dosen, ya LSM. Ya Birokrasi, ya konsultan. Ya dosen, ya pengurus partai 
(politikus). Ya Militer, ya Dosen. Ya Pekerja, Ya Penulis. dan lain sebagainya.
Lucunya, profesi rangkap ini cenderung hanya 1 saja yang 'mendarah daging'. 
Sehingga walaupun sudah di habits yang berbeda, tapi masih berpenampilan di 
habits sebelumnya.
 
Aku jadi teringat seorang kyai yang kebiasaanya mengajarkan ilmu hakekat 
(filsafat), ketika ditanya bagaimana mendidik anaknya yang masih remaja.
"Biarkan saja, kalo dia memang akan menjadi baik, ya jadi baik"
Beda lagi dengan Kyai Ahli Syariat, yang cenderung melarang dan memerintah, 
karena kesemuanya selalu dikaitkan dengan pahala dan dosa.
 
Apakah ahli politik ngajarin anaknya demo? syukur bisa merobohkan pagar :p
Apakah dosen menyuruh anaknya rajin meneliti?
 
Apapun, habits kadang mempengaruhi perilaku
Namun lebih bijaknya mendengarkan nasehat simbah doeloe...
 
"Empan papan" (mampu menempatkan diri dengan baik)
 
Yogya, 8 Juli 2008 pukul 9.39 WIB
http://mkundarto.wordpress.com


      

Kirim email ke