Sebelas tahun lebih jadi pegawai, namun masih anteng jadi anak kos, membuat hati ini gerah juga celingkukan ke kanan-kiri. Maunya sih dapat beli tanah plus rumah murah di lokasi strategis. Kalau boleh memilih, lokasi rumah bukan se-komplek dengan sesama sekantor. Hehe.. konon rawan kalau 'batuk' bisa kedengaran sampai pojok komplek. Kadang aku juga gak habis mengerti, mengapa rumah-rumah yang konon hanya untuk rumah dinas, tapi didiami oleh banyak pegawai biasa plus waktu sak bosen-e. Pernah juga aku merayu kepala Biro, "Pak, daripada rumahnya kosong tidak ditempati, biar aku tempati ya..?", hehe... gak boleh, katanya karena itu rumah dinas pejabat! Pernah juga terlintas pada orang-orang tertentu yang berwenang jadi panitia pengadaan rumah, tapi ironinya, yang dapat jatah rumah (pembeli kapling) adalah mereka yang sudah punya rumah! Sehingga masing-masing kini punya rumah bisa lebih dari 3 buah, 1 ditempati, lainnya.... "Buat investasi", dalih mereka. Sementara itu banyak pegawai selevelku yang belum beruntung punya rumah (baca: kreditan). Pikiranku sempat memelas, "Lha mbok yao rumah koleksinya itu dijual satu ke aku dengan harga konco.....". Mereka dengar keluhan ini gak yaaa...... Dilihat dari kemampuan (baca: ngutang di koperasi), harga rumah yang terjangkau antara 50-100 juta. Mungil yo ben, sing penting bisa berdiri di atas kamar sendiri hehehe... Beberapa hari lalu aku sempat dengar kabar dijualnya kapling rumah murah bersubsidi seharga 50-an juta. Bahkan aku diajak sales marketing untuk meninjau lokasi itu. Konon banyak pegawai tata usaha dah dapat kapling di sana. Aku sudah membayangkan lokasi yang lumayan, bahkan mau milih no depan yang harganya 60 jutaan. Aku lihat jarah di speedometer thunderku 15 Km dari kampus, ke arah berbah... Gleks... ternyata lokasi di pinggir sungai, bekas lokasi penambangan pasir. Sementara diatas tebing (beda tinggi 5-10 m) terdapat kandang ternak. Insting surveyor menuntunku mengecek kualitas air sungai. "Wah agak hijau, agak tercemar deh..." curigaku. Lalu kutanya ke salah satu rumah yang sudah berpenghuni. "Airnya gak layak minum, Mas. Hanya 1 rumah itu aja yang layak", sambil dia menunjuk 1 rumah diantara deretan puluhan rumah yang menghadap ke sungai. Sementara lokasi depan yang aku taksir itu ternyata berada di lereng tebing. Naluri ilmu konservasiku jalan.... bahaya erosi-longsor mengancam. Akhirnya aku pulang dengan lesu......... Kapaaaannnnn yaaaa.....................

