Terminum Air Keras
----------------------------

Seperti tersambar geledek rasanya ketika di Jogja tiba-tiba saya menerima kabar 
dari seberang sana yang mengabarkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang 
membantu survey nun jauh di Papua, terminum cairan asam klorida alias air 
keras. "Wuah..., modar...!".

Kabar pertama menyebutkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang asli Papua itu 
mengeluh sakit dan pamit pulang meninggalkan camp yang berada di atas bukit di 
tepian hutan. Belakangan dilaporkan bahwa kemarin tanpa sengaja dia meminum air 
di dalam botol akua yang ternyata berisi cairan asam klorida (HCl).

Apa benar sampai tertelan? Bagaimana kejadiannya? Bagaimana keadaannya 
sekarang? Pertanyaan itu silih berganti berkecamuk di pikiran saya, sebelum 
kabar yang lebih jelas menyusul kemudian.

Asumsi yang saya pikirkan kemudian, di tengah ketidakjelasan kabar awal itu 
adalah kemungkinan yang terburuk yang bisa terjadi, yaitu bahwa tenaga lokal 
itu benar-benar telah tertelan cairan asam klorida. Segera saya minta 
koordinator lapangan untuk turun dari camp, meninggalkan pekerjaannya, menyusul 
orang itu dan secepatnya membawanya ke rumah sakit. Agak sedikit melegakan 
ketika saya menerima pemberitahuan bahwa tindakan pertolongan pertama sudah 
dilakukan, yaitu dengan menyuruhnya minum air putih sebanyak-banyaknya, juga 
minum susu. Tapi tentu saja tidak cukup sebagai penolong, kecuali daripada 
tidak melakukan apa-apa.

Herannya, orang itu tidak mau dibawa ke rumah sakit. "Tidak apa-apa", katanya. 
Dia memilih untuk beristirahat di rumah saja. Saya jadi berpikir lagi. Kalau 
terminumnya kemarin, lalu esoknya masih sanggup berjalan turun gunung, berarti 
kondisinya tidak parah. Jangan-jangan (dan mudah-mudahan) memang belum sempat 
terminum, melainkan baru sampai di mulut lalu dimuntahkannya. Tidak sampai 
masuk ke tembolok, apalagi usus duabelas jari.

*** 

Larutan HCl yang kenampakannya jernih, tidak berwarna dan berbau tajam pada 
kepekatan tinggi ini memang menjadi salah satu pirantinya seorang geolog ketika 
mendeskripsi batuan, antara lain untuk mengidentifikasi adanya kandungan batuan 
karbonat. Ketika ditetesi dengan larutan HCl, batuan karbonat segera akan 
bereaksi seperti air mendidih, menimbulkan gelembung udara dan gas klorida.

Untuk kepraktisan di lapangan, biasanya larutan asam ini disimpan dalam botol 
plastik kecil seperti botol cuka yang runcing ujungnya, sehingga menggunakannya 
tinggal meneteskan dengan cara memencet botolnya. Cairan HCl yang sebenarnya 
sudah agak diencerkan yang dibawa oleh tim survey ini tersimpan di dalam botol 
bekas air mineral cap Aqua, rupanya kemudian diambil dan diminum oleh seorang 
tenaga lokal yang sedang kehausan. Ini pelajaran sangat penting tentang 
keselamatan kerja (safety) untuk tidak boleh terjadi lagi. 

Ketika dua hari kemudian saya menyusul ke Papua, segera saya lakukan safety 
talk dan investigasi singkat. Kesimpulannya, telah terjadi tindakan tidak aman 
(unsafe act) yang disengaja. Bukan oleh si penyimpan cairan asam, melainkan 
oleh teman-temannya si peminum cairan asam.

Apa pasal? Cairan air keras itu disimpan di dalam botol bekas air mineral yang 
label aslinya sudah dilepas dan sebagai gantinya diberi tulisan cukup jelas 
tentang isinya, lalu disimpan di dalam tas. Ketika tas sedang ditinggal 
pemiliknya, rupanya keberadaan botol itu terintip oleh salah seorang tenaga 
kerja yang sedang kehausan (tidak perlu naik pesawat murah-meriah untuk bisa 
kehausan.....). Botol itu kemudian diambil dan ditanyakan kepada temannya yang 
lain apakah air dalam botol itu air minum. Sialnya, temannya malah mengatakan 
bahwa kalau mau, ya diminum saja..... Dan guebleknya, kok ya diminum beneran. 
Ketika si peminum teriak-teriak kelocotan mulutnya, teman-temannya malah 
tertawa. Rasanya hanya ada satu kata yang pas untuk mengekspresikan kejadian 
itu...... "Oeddan...!".

Ketika saya tanyakan kepada tim survey, apa orang itu buta huruf sehingga tidak 
bisa membaca label tulisannya? Jawabnya : "Tidak, wong dia bisa kirim SMS..." 
(Aha..., ini cara baru untuk mendeteksi apakah seseorang itu buta huruf atau 
tidak. Lihat saja apa dia nenteng-nenteng ponsel dan berkirim SMS. Tapi jangan 
terkecoh ketika melihat orang menenteng HP dan ketika HP berdering kemudian 
diangkatnya, lalu katanya : "Haloo… ini SMS dari siapa….?"). 

*** 

Hari ketiga setelah kejadian saat saya sudah berada di Papua, dan saya tanyakan 
bagaimana kondisi orang itu sekarang? Dijawab bahwa orangnya tidak apa-apa. 
Hanya gigi-giginya ngilu semua dan tetap tidak mau diajak ke rumah sakit. Malah 
orang itu berkilah : "Tidak perlu ke rumah sakit, bapak…. Bisa sembuh kalau 
minum saguer.....!?!". Saguer adalah legen kelapa, sejenis minuman keras lokal. 
Maksudnya, ya nenggak minuman keras.

Yaa...., memang tidak beda jauh antara minuman keras dengan air keras. 
Sama-sama tentang cairan dan sama-sama tentang keras (Ugh, tobat tenan......!).

Jayapura, 21 Juli 2008
Yusuf Iskandar

NB :

Suatu ketika ada seorang Papua terkapar di pinggir jalan. Rupanya dia mabuk 
berat sejak semalam. Akhirnya dia tersadar dari mabuknya ketika hari sudah agak 
siang dan dikerumuni orang-orang yang kebetulan lewat di dekatnya. Kepalang 
malu dilihat orang, dia pun berteriak serak-serak lantang : "Apa kamu 
lihat-lihat.......! Kau pikir mabuk itu gampang kah? Saya mabuk sampai terkapar 
badan kotor-kotor....". Orang-orang yang berkerumun pun bubar jalan sambil 
tersenyum. 

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke