Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?
---------------------------------------
Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro
Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara
Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini
penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin
pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya
tadi parkir kejauhan, pikir saya.
Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya
saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang
berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya
lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak
riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.
Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik
trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara
penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk
19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan
mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka
penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.
Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah
diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang
itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah,
semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk
di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.
Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai
nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing
737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak
sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk
sewatu check-in belum disesuaikan.
Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan
sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat
kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan
plesetan ala Jogja ("sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di
lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran...").
Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu
penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan
sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan
lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan
cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet...... (tidak ogah-ogahan atau
asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya,
melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab professional, apapun
profesinya.
Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang
biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada
halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas
keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : "karena alasan kurangnya
profesional petugas..........". Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak
kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip
ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru....., gitu...
Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa "Siapa" tidaklah
terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting
mengetahui "Kenapa" atau "Bagaimana", sebab dari sana biasanya akan lebih
obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu
"kurangnya profesional petugas.....", seperti pengakuan jujur awak pesawat.
Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini ilmu permintaan maaf ini sudah saya
hafal di luar kepala. Kalau bukan "karena alasan teknis", ya "karena alasan
operasional". Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah.
Masih ada alasan yang lain, yaitu "karena alasan kurangnya profesional". Sebuah
pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan
rasa tangungjawab).
Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya,
yaitu kedengaran agak malu-malu burung...... Pasalnya, seingat saya baru kali
itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan
tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya......
Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan
penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi
adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik
khilaf....
Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar
http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com