Membangunkan Sopir Ngantuk
----------------------------------------- 

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno-Hatta) naik taksi lalu meninggal 
tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : "Ke 
bandara, pak", dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, 
saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. 
Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti 
ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan 
gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi 
mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi 
lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan 
sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik 
sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) 
sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan 
juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak 
gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada 
apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk 
berat. "Wah, bahaya, nih", pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada 
memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab 
saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir 
mak thekluk....., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya 
mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti 
lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh.....

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya 
lakukan.

"Pak...", panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong 
deru kendaraannya cukup bising). "Bapak kelihatannya capek sekali...", kata 
saya.

"Iya pak, saya agak kurang tidur", jawab pak sopir. "Kurang tidur kok agak. Ya 
tetap saja tidurnya kurang", kata saya tapi dalam hati.

"Ngantuk ya pak?", tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya 
hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga...)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : "Iya pak, saya sendiri 
heran. Mungkin cobaan saya, ya.....", sampai di sini saya masih belum ngerti 
apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : "Kalau sedang tidak narik 
penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa 
penumpang rasanya sering sekali ngantuk".

"Waduh, gawat nih", kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi 
penumpang yang ditarik pak sopir je..... Ini kejujuran yang jelas tidak pada 
tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji 
(yang mau memuji ya siapa.....). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen 
"Davos". Permen "Davos" adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya 
berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat 
nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan 
heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, 
lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir 
menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen "Davos" 
bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, 
yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk 
seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha... Ini 
dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan 
ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya 
tidur.... Huh!).

Permen pedas cap "Davos" berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak 
sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam 
taksi. Obrolan yang makin asyik aja.... Apalagi kalau topiknya adalah kisah 
"kepahlawanan". Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman "perjuangan" 
episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang 
lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi 
koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, 
pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke 
detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi 
kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK 
karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut 
menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya 
menjadi tanggungjawabnya.   

*** 

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang 
membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang "menjinakkan" orang tua agar suka 
diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho.....).

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal 
bukan permen rasa sambal.... Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah 
kisah "kepahlawanan", "perjuangan", "semangat empat-lima", atau pokoknya yang 
sejenis itulah.

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya 
melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah "kepahlawanan" dari 
kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu 
sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen 
pedas.....

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke