Suatu Malam Di Mangga Besar
------------------------------------------

Namanya Nurul. Berparas manis imut-imut. Rambut lurus lepas sebahu. Postur 
tubuh kecil padat semampai. Mengaku umurnya 16 tahun. Setelah agak 
didorong-dorong oleh seorang perempuan setengah baya, akhirnya Nurul duduk di 
antara beberapa lelaki yang sudah lebih dahulu duduk di pinggir ruangan cukup 
luas yang di bagian tengahnya juga tertata beberapa set meja-kursi.

Di bawah cahaya remang-remang, dilatari suara musik jedak-jeduk, membuat 
siapapun yang mau bercakap-cakap harus bersuara agak berteriak. Tidak sepatah 
katapun diucapkan Nurul, melainkan hanya senyum yang dimanis-maniskan ditebar 
sebisanya. Sementara di bagian lain ruangan itu terlihat beberapa teman Nurul 
duduk manis di sofa panjang yang disorot lampu, seperti sedang menunggu tetamu. 
Beberapa teman Nurul lainnya malah sedang asyik bercengkerama dengan tamu 
lelaki lainnya. Tentu saja, sebagian besar para lelaki itu adalah tamu tak 
diundang dan tak dikenal sebelumnya.

Rupanya Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang grapyak, supel atau pintar 
bicara. Tidak menunjukkan sikap dimanja-manjakan atau dimesra-mesrakan, 
sebagaimana teman-temannya. Melihat Nurul yang sepertinya salah tingkah, lelaki 
yang duduk rapat di sebelah kanannya terpaksa membuka pembicaraan.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Nurul, muncullah banyak pengakuan. Pengakuan yang 
tidak perlu lagi diperdebatkan kejujuran atau kebenarannya. Tidak ada bedanya, 
karena bukan itu plot cerita fragmen satu babak malam itu. Nurul mengaku, 
berasal dari keluarga petani di Indramayu, anak sulung dari tiga bersaudara dan 
hanya tamatan SD. Nurul juga mengaku, belum setahun tinggal di Jakarta. Orang 
tuanya di desa tidak tahu apa yang dikerjakannya di Jakarta, kecuali sering 
menerima uang kiriman dari anak sulungnya yang mengadu peruntungan di Jakarta 
yang dulu pamitnya mencari pekerjaan.

"Tidak kepingin mencari pekerjaan lain?", tanya lelaki itu.

"Ya, kepingin sih. Tapi apa? Saya tidak punya ketrampilan lain", jawab Nurul. 
Lelaki itu hanya mengangguk-angguk. Bukan setuju, bukan juga tidak setuju, 
melainkan sekedar memberi kesan bahwa jawaban Nurul didengarnya. Jawaban Nurul 
adalah seperti layaknya jawaban keterpaksaan, jawaban orang yang merasa tidak 
punya pilihan. Kalaupun pilihan itu ada, maka itu pun dipilihnya karena merasa 
tidak bisa untuk tidak memilihnya.      

Perempuan setengah baya yang tadi menggandeng Nurul untuk didudukkan di sebelah 
kiri lelaki itu, dari tadi terus mencuri-curi pandang ke arah Nurul. Sebentar 
pergi mengatur teman-teman Nurul lainnya untuk menemui tamu tak diundang dan 
tak dikenal yang baru datang, sebentar kemudian berada tidak jauh dari Nurul.

Sesekali dengan menggunakan bahasa isyarat muka dan mimiknya, seperti memberi 
dorongan kepada Nurul agar lebih agresif. Seolah-olah berkata : "Cepat ajak ke 
kamar". Tapi sayang, Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang agresif dan 
memiliki rasa percaya diri tinggi. Dia tetap bergeming dengan senyum yang 
hambar dan terkesan dipaksakan. Bahkan Nurul cenderung kelewat sopan untuk 
ukuran pekerjaannya malam itu. Sementara teman-temannya enteng saja minta rokok 
kepada tamunya, Nurul baru menerimanya setelah ditawari. Itupun rokoknya diisap 
sekedar sebagai pantas-pantas saja.

Tubuh padatnya yang kecil imut-imut dibungkus celana jeans ketat yang dipadu 
dengan baju kaus warna hijau gelap berlengan cingkrang yang sama ketatnya, 
dengan bahan kausnya agak kurang panjang sehingga pinggangnya terlihat selebar 
2-3 cm. Jelas memperlihatkan postur tubuh dambaan kaum hawa, yang kalau saku 
belakang celananya disisipi HP suka tidak terasa. Tidak kalah dengan artis 
sinetron jadi-jadian di televisi. 

Duduknya yang merapat ke arah lelaki di sebelah kanannya membuat sentuhan 
lengannya begitu halus, dingin dan lembut. Setidak-tidaknya lengan Nurul 
tergolong lengan yang sering dipoles dengan aneka lotion yang sering ditawarkan 
iklan televisi. Juga bau parfumnya yang tidak sumegrak melainkan terkesan 
lembut biasa-biasa saja. Namun itu saja tentu tidak cukup menjadi senjata 
marketing bagi Nurul untuk menjual dagangannya (lha yang dijual itu ya 
apa.....). Lelaki mana tidak tergoda. Kalau saja Nurul mau sedikit belajar 
tentang ilmu kepribadian. Setidak-tidaknya ilmu ndableg untuk agak nakal, agak 
genit atau agak norak. 

Lama-lama perempuan setengah baya yang berdiri sekitar 3 meter di depan Nurul 
menjadi tidak sabar. Sambil agak mendekat, perempuan itu lalu berkata kepada 
sang lelaki. Meski suasana musik agak bising, tapi dari gerak bibirnya jelas 
terbaca : "Langsung saja ke kamar, mas", sambil menunjuk ke arah bilik-bilik 
kamar yang dimaksud.

***

Sang lelaki kemudian kembali memancing pembicaraan, langsung ke pokok persoalan 
bisnisnya : "Kalau saya ajak kamu ke kamar, berapa saya mesti bayar?".

"Sekitar Rp 350.000,-. Nanti bayarnya ke kasir", jawab Nurul polos dengan nada 
datar, sedikitpun tanpa ekspresi semangat perjuangan empat-lima agar 
dagangannya dibeli.

Eit.... (seperti kata Luna Maya dalam iklan operator ponsel di televisi), kok 
jadi seperti belanja di toko swalayan. Masuk toko, ambil barang sendiri lalu 
dimasukkan ke keranjang belanja, dibawa ke kasir dan bayar di sana. 
Keranjangnya ditinggal dan barangnya dibawa pulang. Bedanya hanya Nurulnya 
tidak bisa dibawa pulang, kecuali memang sedang merencanakan perang dunia 
ketiga.

"Tapi tidak semuanya saya terima. Paling-paling sekitar setengahnya. Terkadang 
ada tamu yang kasih tip lebih...", kata Nurul kemudian. Dan lelaki itu hanya 
bisa berkata : "Oooo......". Sudah pasti, yang setengah lagi adalah margin 
keuntungan toko dan pengelolanya. Namanya juga bisnis.

"Sudah dapat berapa tamu malam ini?", tanya lelaki itu lagi.
"Belum ada", jawab Nurul datar.

Ya, belum ada tamu atau sudah dapat lima tamu, sebenarnya tidak ada bedanya 
dalam konteks bisnis yang sedang berjalan malam itu. Meski begitu toh Nurul 
tetap perlu menerapkan sebuah trik bisnis dalam mempromosikan dirinya.  

Lama kelamaan lelaki itu tidak tega juga menyita waktu Nurul terlalu lama, 
sedang sebenarnya dia tidak berniat melakukan transaksi bisnis dengan Nurul. 
Hingga akhirnya lelaki itu berkata lembut penuh penyesalan : "Nurul, kalau saya 
mau ditinggalkan, enggak apa-apa. Saya hanya ingin duduk-duduk saja kok..... 
Terima kasih, ya".

Lalu Nurul pun segera berdiri dan pamit : "Iya, saya kesana dulu ya". Entah 
kesana mana, tidak lagi penting. Lelaki itu menyaksikan kepergian Nurul dengan 
penuh penyesalan. Dia merasa telah menyita waktu Nurul yang seharusnya bagi 
Nurul mungkin cukup berharga untuk menerima tamu lainnya yang lebih prospek. 
Tapi jelas Nurul tidak berani meninggalkan begitu saja tamu lelakinya itu, 
sebab kalau tamu lelaki itu sampai komplain, bakal menjadi mimpi buruk bagi 
Nurul.     

"Good luck, Rul. Semoga harimu lebih baik", kata lelaki itu dalam hati sambil 
agak melamun (melamun kok agak...), ngelangut, gusar, kasihan, dan setumpuk 
perasaan yag sukar dilukiskan. Sementara waktu di Mangga Besar menunjukkan 
sebentar lagi tengah malam, lelaki itu ingat anak perempuanya yang sebaya Nurul 
yang pada malam itu tentu sudah tidur di kamarnya di Jogja, karena besok pagi 
harus pergi ke sekolah......

***

"Tuhaaaaaaannnnnnn.....! Kami memang sudah merdeka. Tapi belum bagi Nurul dan 
teman-temannya.....”, teriak lelaki itu dalam hati. 

Dan, lelaki itu adalah seorang bekas buruh tambang yang sudah terlatih 
melakukan pekerjaan "controlled drilling and blasting". Karena itu, seperti 
tulisan yang sering muncul di televisi : "Jangan meniru adegan ini. Adegan ini 
dilakukan oleh orang yang sudah terlatih".

NB :
Merdeka adalah kalau seseorang itu merasa bebas dan ikhlas untuk memilih dan 
tidak memilih. Apa saja.......

Yogyakarta, 17 Agustus 2008
Yusuf Iskandar



      

Kirim email ke