Tukang jaga penitipan Sandal (Istiqlal)
---------------------------------------
Pernah mampir sholat atau ikut acara keagamaan di masjid Istiqlal Jakarta?
Barangkali jawabannya macem2, pernah, sering, atau tiap hari. Kebetulan saya
baru kali pertama numpang sholat dhuzur dimasjid tsb, setelah capek berpanas2
dari Monas.
Tiap kali lewat, yg terbayang adalah masjid yg megah, setiap sudut pasti
sarat dengan nuansa islami yg kental, apa lagi berhadapan langsung dengan
gereja. Semakin memperlihatkan akan 'Keislamannya'.
Saya masuk melalui pintu utara yg, maaf, yg bisa masuk hanya pejalan kaki,
gerbangnya diborgol pake rantai dan cor2-an. Kata pedagang siomay hanya dibuka
jika ada acara khusus. Saat melewati pelataran, ternyata tidak seperti yg saya
bayangkan, sepi banget alias nyenyet. Beda dengan dengan Masjid Baiturrahman
Semarang apalagi Al Muttaqien Kaliwungu, yg sangat welcome dengan tamu2, serta
penuh nuansa islami, diantaranya hampir disetiap sudut ada yg ngaji.
Sesampai di tempat penitipan sandal saya nanya dimana toiletnya, meskipun
ada tulisan 'toilet->', tapi maksud hati hanya ingin menyapa dan menemukan
toilet dengan cepat karena baru pertama kali. Jawaban yg saya terima hanya
'toilet disebelah sana..' datar2 aja. Bandingkan dengan masjid2 lain yg sungguh
dengan sangat sopan menunjukkan dengan 'oo.. toilet untuk pria sebelah sana,
lurus..lalu belok kiri, dst..'.
Akhirnya saya ikuti aja tanpa bertanya lebih lanjut krn udah kebelet.
setelah saya ikuti petunjuk arah, ternyata jauh bgt dan tidak ketemu juga
toiletnya, akhirnya ditahan aja. Setelah wudhu, sy naik ke lantai dua. Inilah
lantai utama tempat sholat.. hampir setengah lebih dari depan kebelakang,
berupa karpet merah.. Tapi kok sepi ya.. jarang bgt orang.. hanya beberapa
orang yg numpang sholat. Kalo di Baiturrahman Semarang kan suejuk di lantai
utama, di Istiqlal Lux. Mgkn saking luxnya, jadi sayang kalo buat tempat
kegiatan (semcm ngaji, majlis, atau kegiatan lain selain kegiatan resmi yg
harus pake proposal, manggil dai kondang dan masuk TV).
Habis sholat lalu turun ngambil sendal mau pulang. Saya kasih nomor kartu
penitipan. Dengan gaya yg gak enak si penjaga ambil nomor dari saya, dan saat
ngambil sendal dijatuhinlah sandal saya. Lalu dengan menunjuk2 kotak amal,
tanpa bilang misal 'Mas, tolong kotak infaknya diisi' atau gimana.
Wah2.. beginikah petugas2 masjid Istiqlal yg agung itu..Apa tiap
penitipan harus ngasih nomor dengan ongkos penitipan langsung. Bagaimana jika
habis sholat udah ngisi kotak infaq 100 juta, apa harus ngasih 'tip' ke
penitipan juga.. Semua kok kayak bisnis aja. Biasanya juga tiap yg nitip sandal
pasti masukin uang infak, tanpa disuruh. Apa karena saya pake kaos dan celana
panjang, bukan pake surban biar keliatan keislamannya.
Gimana itu pengkaderan BKM-nya, seperti gak ada keikhlasan dalam
menjalankan tugas..semoga hanya personal aja yg kyk gitu. Tapi itu semua hanya
pengalaman saya, yg mgkn saja berbeda dengan pengalaman rekan2 semua.
Kata teman saya, di Jakarta, islam dan dimasjid sudah dikuasai simbol2
tertentu. Yg sholat gak pake surban dan kain putih tidak sah, kafir. Mau ikut
acara semisal dzikir akbar gak pake pakaian serba putih, gak boleh ikut..
Berbagai majlis juga bermunculan, Masjlis Nurul Mustofa, Masjlis
Rasulullah dll, liat para pesertanya. Saat dijalan kayak pawai, gak pakai helm,
mau menang sendiri memenuhi jalan. diatas mobil sambil teriak2. Kayak jagoan.
Apa kalo kecelakaan terus meninggal lalu syahid?? Sangit iya.