enak di baca dan enjoyyyy banget., thnk again and enjoy. --- On Mon, 8/18/08, Rahmat Sekopek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Rahmat Sekopek <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [kendal-online] Tukang jaga penitipan sandal (Istiqlal) To: "kendal-online" <[email protected]> Date: Monday, August 18, 2008, 11:47 PM Tukang jaga penitipan Sandal (Istiqlal) ------------ --------- --------- --------- Pernah mampir sholat atau ikut acara keagamaan di masjid Istiqlal Jakarta? Barangkali jawabannya macem2, pernah, sering, atau tiap hari. Kebetulan saya baru kali pertama numpang sholat dhuzur dimasjid tsb, setelah capek berpanas2 dari Monas. Tiap kali lewat, yg terbayang adalah masjid yg megah, setiap sudut pasti sarat dengan nuansa islami yg kental, apa lagi berhadapan langsung dengan gereja. Semakin memperlihatkan akan 'Keislamannya' . Saya masuk melalui pintu utara yg, maaf, yg bisa masuk hanya pejalan kaki, gerbangnya diborgol pake rantai dan cor2-an. Kata pedagang siomay hanya dibuka jika ada acara khusus. Saat melewati pelataran, ternyata tidak seperti yg saya bayangkan, sepi banget alias nyenyet. Beda dengan dengan Masjid Baiturrahman Semarang apalagi Al Muttaqien Kaliwungu, yg sangat welcome dengan tamu2, serta penuh nuansa islami, diantaranya hampir disetiap sudut ada yg ngaji. Sesampai di tempat penitipan sandal saya nanya dimana toiletnya, meskipun ada tulisan 'toilet->', tapi maksud hati hanya ingin menyapa dan menemukan toilet dengan cepat karena baru pertama kali. Jawaban yg saya terima hanya 'toilet disebelah sana..' datar2 aja. Bandingkan dengan masjid2 lain yg sungguh dengan sangat sopan menunjukkan dengan 'oo.. toilet untuk pria sebelah sana, lurus..lalu belok kiri, dst..'. Akhirnya saya ikuti aja tanpa bertanya lebih lanjut krn udah kebelet. setelah saya ikuti petunjuk arah, ternyata jauh bgt dan tidak ketemu juga toiletnya, akhirnya ditahan aja. Setelah wudhu, sy naik ke lantai dua. Inilah lantai utama tempat sholat.. hampir setengah lebih dari depan kebelakang, berupa karpet merah.. Tapi kok sepi ya.. jarang bgt orang.. hanya beberapa orang yg numpang sholat. Kalo di Baiturrahman Semarang kan suejuk di lantai utama, di Istiqlal Lux. Mgkn saking luxnya, jadi sayang kalo buat tempat kegiatan (semcm ngaji, majlis, atau kegiatan lain selain kegiatan resmi yg harus pake proposal, manggil dai kondang dan masuk TV). Habis sholat lalu turun ngambil sendal mau pulang. Saya kasih nomor kartu penitipan. Dengan gaya yg gak enak si penjaga ambil nomor dari saya, dan saat ngambil sendal dijatuhinlah sandal saya. Lalu dengan menunjuk2 kotak amal, tanpa bilang misal 'Mas, tolong kotak infaknya diisi' atau gimana. Wah2.. beginikah petugas2 masjid Istiqlal yg agung itu..Apa tiap penitipan harus ngasih nomor dengan ongkos penitipan langsung. Bagaimana jika habis sholat udah ngisi kotak infaq 100 juta, apa harus ngasih 'tip' ke penitipan juga.. Semua kok kayak bisnis aja. Biasanya juga tiap yg nitip sandal pasti masukin uang infak, tanpa disuruh. Apa karena saya pake kaos dan celana panjang, bukan pake surban biar keliatan keislamannya. Gimana itu pengkaderan BKM-nya, seperti gak ada keikhlasan dalam menjalankan tugas..semoga hanya personal aja yg kyk gitu. Tapi itu semua hanya pengalaman saya, yg mgkn saja berbeda dengan pengalaman rekan2 semua. Kata teman saya, di Jakarta, islam dan dimasjid sudah dikuasai simbol2 tertentu. Yg sholat gak pake surban dan kain putih tidak sah, kafir. Mau ikut acara semisal dzikir akbar gak pake pakaian serba putih, gak boleh ikut.. Berbagai majlis juga bermunculan, Masjlis Nurul Mustofa, Masjlis Rasulullah dll, liat para pesertanya. Saat dijalan kayak pawai, gak pakai helm, mau menang sendiri memenuhi jalan. diatas mobil sambil teriak2. Kayak jagoan. Apa kalo kecelakaan terus meninggal lalu syahid?? Sangit iya.

