Mie Koba Yang Bertahan Turun-temurun
-------------------------------------
Berkendaraan dari kota Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka-Belitung,
kira-kira sejauh 55 km ke arah tenggara akan membawa kita ke kota Koba.
Perjalanan menuju Koba, ibukota kabupaten Bangka Tengah, lumayan enak dan
menyenangkan. Kondisi jalan secara umum bagus dan mulus, hanya pada menjelang
masuk kota lebar jalannya agak pas-pasan untuk papasan.
Sekitar 20 km sebelum Koba, rute perjalanan melintasi kawasan pantai utara
pulau Bangka dengan tebaran pohon kelapa menghiasi di sepanjang pandangan ke
arah kiri, khas pemandangan indah di pesisir. Sedang di sisi kanan jalan
umumnya adalah dataran terbuka dengan semak dan sedikit pepohonan tinggi.
Lima tahun yang lalu, sebelum pembentukan provinsi baru Bangka-Belitung, Koba
hanyalah kota kecamatan. Hingga kini populasinya tidak terlalu padat, hanya
dihuni oleh sekitar 50 ribu jiwa penduduknya. Karena itu kenampakan kota ini
relatif sepi, tidak hiruk maupun pikuk. Hanya saja saat saya melintas di kota
ini beberapa hari yang lalu, sepanjang jalan utamanya penuh dengan sampah dan
tampak sangat kotor. Maklum, karena sehari sebelumnya ada keramaian 17-an dan
kelihatannya terlambat dibersihkan. Mudah-mudahan terlambatnya tidak kebablasan
agar kota yang menjuluki dirinya "Bumi Selawang Segantang" itu tetap tampil
asri dan bersih.
Koba memang sedang berbenah, mengejar ketertinggalannya dengan kota-kota
kabupaten lainnya. Berbagai sektor sedang digarap oleh pemerintahnya, tak
terkecuali pariwisata. Cuma pemerintah daerah Koba sedang agak gusar menemukan
apa makanan khas Bangka Tengah. Sebab urusan makan-memakan ini seringkali
menjadi menu unggulan dalam menjual potensi daerah agar menarik dikunjungi.
Nampaknya pemerintah setempat tidak kurang akal. Di Koba ada warung mie kuah
yang cukup terkenal. Mie kuah ini memang agak berbeda dengan bakmie rebus yang
banyak dijumpai di daerah-daerah lain. Belakangan terbersitlah ide untuk
mengangkat mie kuah yang selama ini disebut sebagai mie koba, menyontek nama
warung "Mie Koba" yang ada di kota Koba, menjadi salah satu makanan unggulan
dari Bangka Tengah.
Kalau langkah ini berhasil, tentu merupakan langkah terobosan yang menarik.
Popularitas tidak selalu terkait dengan bawaan alamiah. Banyak contoh produk
jadi-jadian yang bisa populer karena kepiawaian dalam melakukan "packaging" dan
"branding", hingga akhirnya orang tidak perlu lagi mengingat dari mana asal bin
muasalnya melainkan seperti apa produk akhirnya.
***
Di salah satu sudut deretan warung-warung makan di Jl. Pos, kota Koba, ada
sebuah warung yang sangat sederhana. Saking sederhananya malah kemudian
cenderung berkesan kumuh dan seadanya. Nama warungnya "Mie Koba". Warung ini
sudah ada di sana sejak puluhan tahun lalu dan dikelola secara turun-temurun.
Namun warung ini banyak dikunjungi orang yang kebetulan atau bahkan sering
melintas di kota Koba. Hanya ada menu tunggal disediakan di warung ini, ya mie
koba itu. Satu jenis masakan mie kuah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Di daerah lain mie kuah jenis ini juga banyak dijumpai.
Agak berbeda dengan menu bakmi rebus yang juga berkuah, yang kalau kita pesan
baru akan diracikkan, direbus lalu disajikan dalam piring, dilengkapi dengan
asesori suwiran atau potongan daging ayam. Sedangkan mie kuah di Koba ini cara
penyajiannya mirip tukang bakso atau mie ayam. Bahan utama mie dan asesorinya
ditebar di atas piring lalu diguyur dengan kuah panas.
Barangkali racikan mie kuah "Mie Koba" ini memang agak berbeda. Mula-mula
seonggok tauge atau kecambah (istilah Jogjanya, thokolan) ditaruh di atas
piring, lalu mie kuning diletakkan di atasnya, setelah itu ditenggelamkan
dengan guyuran kuah panas, baru ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng.
Tanpa daging ayam, tanpa bakso, tanpa nasi. Ketika disajikan, maka dari aroma
uap panas kuahnya saja sudah mengundang selera.
Aromanya khas, karena kuahnya diramu dengan kayu manis dengan takaran yang pas.
Pada sruputan pertama kuahnya, seperti membangkitkan sensasi untuk jangan
terlambat dilanjutkan dengan sruputan kedua dan ketiga. Setelah panasnya agak
reda, baru disendok mienya. Lalu rasakan taugenya yang kemrenyes saat dikunyah.
Tidak perlu hingga 33 kali untuk mengunyahnya, keburu kuahnya dingin dan hilang
hoenaknya....
Sebuah sajian mie kuah yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya karena ada
tambahan ramuan kayu manis pada takaran yang pas yang membuat mie koba ini
terasa lain dari biasanya. Tapi juga aroma kayu manis ini yang membuat penikmat
mie koba enggan untuk nambah, sebab habis sepiring saja rasanya sudah kenyang,
nikmat dan puas. Sebuah takaran makan yang kiranya juga pas dengan takaran
kantong pembelinya.
Hanya yang agak mengherankan, kendati warung mie koba ini laris manis sejak
dahulu kala, tampilan warungnya ya tetap begita-begitu saja. Sangat sederhana
dan terkesan seadanya. Entahlah, barangkali memang di situlah letak
"keberuntungannya", sama seperti bangunan lama milik restoran seafood Mr. Asui
di Pangkal Pinang yang meski berkembang pesat dan berada di tepi jalan raya, ya
dibiarkan begitu saja apa adanya.
Tapi baiknya lupakan soal "keberuntungan", melainkan ingat saja bahwa kelezatan
yang tercipta dari keterampilan memasak mie kuah "Mie Koba" itulah yang menjadi
kunci kelanggengan usahanya yang hingga kini bagai tak lekang oleh panas dan
tak lapuk oleh hujan. Tetap banyak didatangi para penggemarnya.
Yogyakarta, 25 Agustus 2008
Yusuf Iskandar
http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com