Pengantar :
Saya temukan dua tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Di bawah ini
adalah satu di antaranya. Semoga masih ada setitik hikmah yang bisa dipetik.
Wassalam.
Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar
*******
Lebaran sebentar lagi
---------------------
Dengan berharap memperoleh lailatul-lebaran, maka berarti kita (yang muslim)
punya peluang untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebulan penuh, komplit
seisi-isinya yang tak terukur nilai ibadahnya. Ya kualitasnya, ya kuantitasnya.
Tidak ada hari-hari dimana khalayak ramai (orang muslim tentunya) berebut
memaksimalkan kuantitas ibadahnya, keculi di hari-hari Ramadhan. Tidak ada
hari-hari dimana orang ramai-ramai seperti potong padi di sawah berlomba meraih
kualitas ibadah sekuali-kualinya, selain di hari-hari Ramadhan.
Inilah hari-hari dimana malaikat Rakib (malaikat pencatata kebaikan) super
sibuk nyenthangi (memberi tanda centhang.....) pada kolom ibadah dengan kode :
bermutu tinggi (karena selama sebelas bulan sebelumnya ternyata mutu ibadahnya
rendah terus, bahkan tekor.....). Sejak kita tidur sampai bangun sampai tidur
lagi.....
Nyaris semua orang muslim sepakat (meski belum tentu menghayati), bahwa
Ramadhan adalah sebuah peluang. Peluang untuk meraih bonus, mengumpulkan angka
cum, menumpuk poin positif dan menutupi ketekoran. Tapi, lha wong namanya
peluang, jadi ya terserah bagi siapa saja yang mau menerkamnya atau
melepaskannya. Siapa cepat dia dapat? Bukan.....! Itu permainan gaya kita.
Inilah huebatnya Sang Maliki Yaumiddin (Yang menguasai hari pembalasan). Siapa
saja pasti dapat. Sebab kalaupun orang se-Sidoarjo, se-Aceh atau se-Jogja
semuanya cepat menangkap peluang, maka digaransi semua akan dapat balasannya
bersama-sama. Sebaliknya, taruhlah semua kelelat-kelelet menangkap peluang,
juga dijanjikan masih akan dapat hasilnya beramai-ramai. Horo... coba.....!
Tidak ada janji yang akan selalu ditepati melainkan janji-Nya. Kita saja yang
suka semaunya sendiri. Tidak mau menangkap peluang tapi nagih bonusnya
terus..... Bagita (bagi rata), katanya.
Lebaran sebentar lagi.
Tapi Ramadhan lebih sebentar lagi, lagi. Hari-hari indah selama sebulan datang
menjelang. "MARHABAN YA RAMADHAN", kata teman kecil saya, Sayid Bakar namanya.
"ASAUP NALUB HALITAMROH", kata spanduk yang memasangnya terbalik di sudut
perempatan kampung. Lha, yang disuruh menghormati bulan puasa itu siapa?
Wong puasa kok minta dihormati. Minta diistimewakan. Kalau begitu mah
keciiil..... (sambil menjentikkan seruas ujung jari kelingking). Kalau puasa
kok minta dihormati, ya anak sekolah Taman Nak-Kannak saja mampu. 'Gak ada
tantangan! Justru nilai kualitasnya terletak karena banyaknya tantangan, godaan
dan rayu-bujukan. Barangkali yang dimaksud sekedar tenggang rasa. Maksudnya :
"Awas, ada orang sedang merasa lapar, tenggang dia, jangan ganggu dia.....!".
Lebaran sebentar lagi.
Tapi hari-hari luar biasa sebentar lagi mau lewat. Karena hanya lewat, biasanya
tidak berlangsung lama. Meski sebenarnya lama atau sebentarnya tergantung pada
bagaimana cara menangkap yang mau lewat itu. Kalau dianggapnya sebagai
"aktifitas ngoyoworo", ya lebaran jadi luamaaa sekali...... Tapi kalau
dianggapnya sebagai sebuah rahmat dan nikmat, sungguh terlalu cepat dia
berlalu. Tahu-tahu sudah mau lebaran. Padahal rasanya belum banyak
detik-menit-jam-hari-minggu yang telah dialokasikan untuk menggapai rahmat dan
ampunan-Nya. Belum banyak waktu-waktu senggang digunakan untuk menutup nilai
tekor selama sebelas bulan sebelumnya.
Lebaran sebentar lagi.
Tapi tidak banyak orang yang ngeh bahwa sebulan sebelum lebaran adalah sebuah
peluang bisnis. Bisnis yang margin keuntungannya dijamin kekal bin abadi dunia
wal-akhirat. Bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi. Bisnis yang dijamin
memberikan Return on Investment ribuan bahkan jutaan persen. Nyaris dengan
modal bodong. Boro-boro bermodal sarung kumel plus kupluk bolong, tidak punya
dengkul pun bisa meraup yield jutaan persen. Itu kalau tahu "trik"-nya......
Namun sayang-sayang seribu kali sayang. "Trik" itu hanya bisa diperoleh kalau
seseorang mau mengaji (ini bahasa kampung saya). Bahasa moderennya adalah mau
melakukan kajian, mau belajar, mau berpikir, mau menyadari kebodohannya.
Lebaran sebentar lagi.
Tapi saya hanya bisa melamun, berimajinasi mewanti-wanti kepada anak-anak saya
(yang sialnya tidak pernah berhasil, sebab selalu ditanggapi sambil
cengengesan). Boro-boro kepada anak-anak orang lain atau orang tuanya.......,
anak sendiri saja syusyahnya bukan main.....
Cobalah nak........ Saat malam pertama Ramadhan tiba, tarik napas dalam-dalam,
resapi aliran udaranya. Nikmati bahwa itu adalah udara Ramadhan, yang setiap
molekulnya bernilai ibadah. Kalau kau tahu.....!
Hisap aromanya, agar aroma tubuhmu adalah aroma Ramadhan. Masukkan ke dalam
darah dan biarkan dia mengalir ke seluruh tubuh, agar tubuhmu adalah tubuh
Ramadhan. Gerakkan ke seluruh anggota badan, agar ayunan tangan dan langkahmu
adalah irama gerak Ramadhan. Rambatkan ke indera pandangan matamu, gerak
bibirmu, pendengaran telingamu dan sentuhan lembut kulitmu, agar getaran
inderamu adalah getaran Ramadhan.
Cobalah nak........, untuk melakukannya malam demi malam. Tidak usah dululah
melakukan yang lain-lain, melainkan menyatulah dengan aura Ramadhan. Agar nanti
di malam terakhir Ramadhan kalian tidak menyesal karena tahu-tahu esok lebaran
tiba. Dan kalian baru menyadari bahwa bulan super deal barusan berlalu..... Air
matamu akan menetes tak terbendung bagai lumpur panas. Namun (siapa tahu) itu
terlambat, karena tidak ada yang bisa menggaransi tahun depan akan berjumpa
kembali dengan Ramadhan
Lebaran sebentar lagi.
Hanya rasa ikhlas menyambut kedatangan Ramadhan yang akan membedakan apakah
lebaran benar-benar sebentar lagi atau masih lama. Rasa ikhlas yang
mengejawantah menjadi tetesan air mata saat bersujud keharibaan-Nya, di tengah
malam..... sunyi..... sepi..... sendiri.....
Rasa ikhlas yang diawali dengan kesadaran untuk saling memaafkan.
PS.
"Mohon maaf lahir dan batin"
Yogyakarta, 22 September 2006 (29 Sya’ban 1427H)
Yusuf Iskandar
http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com