Catatan Pengantar :
Tulisan kedua dari dua tulisan lama saya. Disertai ucapan tulus :
"Selamat Idul Fitri 1429H - Mohon Maaf Lahir dan Batin"
Wassalam.
Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar
*******
Sepenggal Doa Di Hari Fitri
---------------------------
Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga
akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang
bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah
pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya.
Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar
mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat
manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa
pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja
"saya") yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..
Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua),
baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru
terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak
kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia
tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling
miskin dan tidak punya apa-apa lagi.
Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya
mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka
itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.
Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat
cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah
tangannya mencekal telek lencung.... Uh! Dunia seperti gelap bin gulita...,
tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat
modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang.
Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall),
meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.
Mak deg...! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya
kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah "apa-apa" yang menurut
Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja,
terus dan terus tiada henti.
Mak deg...! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola
pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya
apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa
punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita.
Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang
Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan
memikiri hal semacam itu.
***
Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena
candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal
namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang
sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata
ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam
non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan
nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam
kesalehan. Dalam lapar dan "pura-pura" miskin, dalam kebodohan dan "pura-pura"
tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang
berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal
sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan
Sang Pencipta.
Maka faktanya adalah, ketika kita sedang "apa-apa punya", ternyata kita sanggup
untuk "tidak punya apa-apa". Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih
singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati
dan ilmunya persis sama plek.
***
Duh, Gusti Allah....., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus
tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan
kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya.
Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana
emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana
parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesra-Mu dan mana teguran
keras-Mu.....
Duh, Gusti Allah....., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau
ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga
menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan.....). Semoga Engkau mengelompokkan kami
ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah
kesucian dan kemenangan.
Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta,
yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.
Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah
bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh
siapa-siapa.
Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang
dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini
negeri yang apa-apa punya.
Duh, Gusti Allah....., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja
dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan...... Amin.
PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin
Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar
http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com