Berlebaran Di Rumah Sakit
-------------------------------------
Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih
sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta
keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga
adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai
Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya,
usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang
meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik.
Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo
Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari
biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng
petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat
tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan
masing-masing.
Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya
sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa
bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya
bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok
indah..... Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih
khidmat Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan
karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput
kopi.
***
Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak
malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika
hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan
Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun)
terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat
dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh
terasa nyeri.
Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya
wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh
(dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit.
Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah
beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa
sudah bablasss angine... Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti
biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja
mengalami serangan jantung yang sebenarnya “mematikan”.
Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter
langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini,
dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa
ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek "saya
tidak mau mengambil resiko", lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit
malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak
berankat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat
jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir
di situ tampak gagah dan sehat.
Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan
selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan
ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa
melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang
Idul Fitri.
Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya
masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit.
Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit
kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan
tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya.
Kala itu dokter mengatakan, kira-kira begini bunyinya : "Upaya medis yang
dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal
yang terburuk". Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa
berlebaran juga, meski di rumah sakit.
Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari
ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang
destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding
yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani.
Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya
adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang
lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang
lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih
berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya....
perlu di-mesakake.... dikasihani....., karena pembandingnya adalah yang lebih
baik dari kita.
Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada
orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih
gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa
betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah
cukup lama kita lupa bersyukur).
***
Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah
menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini
telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi
tetap khidmat.
Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga
meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor
ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai
rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di
tubuhnya..... Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam.....
Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H)
Yusuf Iskandar
http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com