Matur sembah nuwun, pak. Sejak pertengahan Ramadhan hingga Lebaran, sebenarnya saya bolak- balik Yogya-Semarang-Kendal pp (seperti bis). Tapi ya hanya sak nyuk- an saja, wong lagi ngurusi orang sakit. Jadi untuk teman-teman KOL yang lain, mohon maaf kalau saya tidak sempat berhalo-halo untuk acara nglontong opor dan ngobrol-ngobrol. Malah rencana semula kepingin wisata nguliner di seputaran Kendal juga gagal terlaksana.
Nuwun & salam, Yusuf --- In [email protected], kutilang dara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bertawakal saja MasYUS, dan ber serah diri pada SangPencipta, lebaran jalan terus-opor ayam n sambel pete juga siap di santap, sementara sang Bapak terbaring lemah maklum faktor usia, jadi kata pak Dokter ada juga benar nya, mekaten nJih Mas, salam dari Bangka., kepada Mas Mandor and Pak UPINÂ juga para Netter di KendalONLINE>Â mohon Maaf Lahir dan Bathin, SELAMET hari RAYA IDHUL FITRI. > > --- Pada Sen, 6/10/08, Yusuf Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Dari: Yusuf Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> > Topik: [kendal-online] Berlebaran Di Rumah Sakit > Kepada: "Kendal Online" <[email protected]> > Tanggal: Senin, 6 Oktober, 2008, 9:13 AM > > > > > > > Berlebaran Di Rumah Sakit > ------------ --------- --------- ------- > > Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya, usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik. > > Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan masing-masing. > > Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok indah..... Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih khidmat Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput kopi. > > *** > > Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun) terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh terasa nyeri. > > Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh (dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit. Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa sudah bablasss angine... Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja mengalami serangan jantung yang sebenarnya âmematikanâ. > > Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini, dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek "saya tidak mau mengambil resiko", lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak berankat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir di situ tampak gagah dan sehat. > > Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang Idul Fitri. > > Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit. > > Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya. Kala itu dokter mengatakan, kira- kira begini bunyinya : "Upaya medis yang dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal yang terburuk". Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa berlebaran juga, meski di rumah sakit. > > Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani. > > Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya.... perlu di- mesakake. ... dikasihani.. ..., karena pembandingnya adalah yang lebih baik dari kita. > > Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah cukup lama kita lupa bersyukur). > > *** > > Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi tetap khidmat. > > Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di tubuhnya.... . Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam..... > > Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H) > Yusuf Iskandar > > http://yiskandar. wordpress. com > http://madurejo. wordpress. com > > > > > > > > > > > > > > > > > ______________________________________________________________________ _____ > Nama baru untuk Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. > Cepat sebelum diambil orang lain! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ >

