Kita kadang geram banget manakala tahu ada orang yang secara sengaja maupun 
tidak telah mencemarkan nama baik institusi. Bahkan saking geramnya, ibarat 
pengadilan, kita langsung ACC untuk menjatuhkan hukuman mati (baca: pecat!).
Para pihak yang terlibat pun tergopoh-gopoh merapikan langkah masing-masing 
(baca: mengamankan jabatan atau status), agar tidak kena imbas. Mereka sering 
lupa, bahwa semua itu terjadi bisa saja karena sistem yang terlalu longgar, 
sehingga lubang ada di sana-sini. 
 
Namun kita seakan tidak tahu (baca: tidak mau tahu), bahwa roda manajemen di 
sebuah institusi banyak yang menjadi pahlawan, alias mengharumkan atau 
mengangkat nama institusi. Tapi apa yang didapat mereka itu? paling jauh hanya 
sebatas pujian dari pimpinan plus gosip asyik dari rekan-rekan kerja.
 
Pola manajemen di atas lebih tepat disebut Manajemen Kambing Hitam. Artinya, 
jika ada kesalahan, maka ramai-ramai mencari siapa yang perlu diberi sanksi. 
Tapi biasanya hanya satu orang, bukan sanksi terhadap sistem. Ibarat perang, 
jenderal gak pernah salah, yang salah ada komandan lapangan. Tuduhan pun mudah 
dilakukan, karena komandan tidak melaksanakan sesuai juklak dan juknis. Padahal 
sering terjadi, komandan hanya sekedar menerjemahkan kebijakan jendral ke 
tataran teknis, plus taruhan nyawa untuk menghadapi musuh.
 
Sanksi memang harus ditegakkan. Tetapi jangan sampai aturan tentang sanksi baru 
dibuat manakala ada fenomena yang dianggap pelanggaran (walau aturan yang ada 
belum ada legal formalnya). Sanksi juga jangan tebang pilih. Yang kena sanksi 
kebanyakan kawulo alit. Buat orang besar, sanksi akan datang dari hati 
nuraninya sendiri. Itupun kalau nyadar......
 
Adapun Bonus, agaknya jauh panggang dari api. Biasanya pahlawan itu hanya tepat 
disebut sebagai "relawan". Sebut saja mereka yang 'basah kuyup' di bagian 
promosi dan publikasi. Mungkin kesan baik dari pihak luar institusi akan 
bernuansa 'biasa' bagi manajemen intern. Namun apabila ada kesan tidak baik 
dari luar institusi, serta merta pimpinan akan melotot mencari siapa pelakunya 
plus sanksi akan dijatuhkan.
 
Fenomena di atas mirip dengan hukum yang berlaku di masyarakat, dimana sangat 
sulit membangun kesan baik, tetapi sangat mudah menciptakan kesan buruk. 
Berbuat baik belum tentu akan mendapat pujian, apalagi bonus. Tetapi berbuat 
buruk, pasti mendapat gunjingan dan sanksi sering menyusul di belakangnya...
 
Kata Kyai, berbuatlah dengan hati yang ikhlas...... serta mengharap balasanNYA
 
Kata Pegawai cerdik, sudahlah tidak usah neko-neko membuat ulah, diam aja akan 
lebih baik dibanding berbuat akan mengandung resiko salah. sekali salah, 
habislah karier ente....
 
Kata Pejabat karier, silahkan berbuat apa saja, yang penting jabatan saya aman 
dan... kebijakan yang saya berikan tergantung sistem yang berlaku (baca : 
nunggu petunjuk yang di atas)......
 
Kata Seorang Juri, jika anda berprestasi maka hadiah menanti. Jika anda 
melanggar aturan, anda akan dapat sangksi.
 
Tapi...... jarang banget Pimpinan yang memakai ilmu Juri, karena pimpinan punya 
"kebijakan" yang kadang obyektif, subyektif, ABS, atau pakai kaca mata kuda
 
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke