Sekali-sekali nekad pake judul bahasa inggris, walau isinya kagak hehe...
----------------------------------------
 
Kemarin siang, Heni, teman se angkatan beda jurusan plus teman kerja, yang jadi 
host rutin acara Warung Ide tiap Rabu pukul 15-16 di JogjaTV, menawarkan agar 
aku menjadi salah satu narasumber. Tiap tayang biasanya dua narasumber, 
kebetulan kemarin baru dapat satu. Biasanya narasumber menampilkan hasil kreasi 
riilnya, sedangkan aku sebenarnya kurang tepat karena lebih layak sebagai 
pelontar ide. Idenya seperti yang ditulis di media massa beberapa bulan lalu.
Lihat di : 
http://mkundarto.wordpress.com/2008/04/23/pemanasan-global-dan-pertanian-perkotaan/
 
Inilah pengalaman pertama bagiku, tampil di depan TV sebagai narasumber. Mental 
naik turun. Otak berpikir nanti bicara apa saja, lha wong aku blum layak jadi 
pakar. Hati mikir, etis gak yaa, ntar dilihat senior dianggap kewanen hehehe. 
Rasa pun berbisik, pakai baju apa yaaa...
 
Aku menuju ke kantor JogjaTV di jalan piyungan, menumpang APV-nya Heni. 
Host-nya nyetir, narasumber ngapalke naskah hahaha. Apik tenan. Kami ditemani 
seorang teman yang bersimpati mau menyaksikan. Siang kemarin sampai lupa makan 
siang, demi ngejar waktu. Pakaian yang terpilih adalah batik khas Balikpapan 
(motif hitam-hijau) pemberian dari teman kosku (baca: hasil tukar guling dengan 
baju tentaraku yang diberi mabes TNI ketika mbimbing KKN Latsitarda di Lampung 
2004). kok gak batik jogja atau tegal? banyak yang keseimpitan. ssttt... yang 
dipakai ini kata ibu-ibu, wangun lan cocok.
 
Sampai JogjaTV, kami ngobrol dulu dengan narasumber lain yang sudah 
datang. Ternyata mereka mau bicara Energi Alternatif dengan bahan umbi-umbian, 
akunya bicara penghijauan dan pertanian perkotaan. 
 
Kemudian kami masuk ke ruang siar 20 menit sebelum on air. Wah adem poll, AC 
nya mak nyuss. Sang produser menanyakan biodata. Aku tersedak ketika tanya 
sebagai apa. Mau ditulis pakar pertanian perkotaan, akunya berkelit, lha apalah 
daku ini. Lalu "pencetus pertanian perkotaan". Aku ralat lagi, akhirnya sepakat 
"salah satu pencetus pertanian perkotaan".
 
Aku masuk di sesi dua, pukul 15.30 WIB dengan skenario datang dan salaman 
dengan host. Lalu...... mulai tanya jawab. dag-dig-dug, suaraku agak lemah, 
tapi lama-lama naik dan on hehhe. Terus terang, yang bikin aku bingung adalah 
pandanganku harus ke kamera atau ke host yang mewawancaraiku. Akhirnya kucoba 
membuat variasi.
Alhamdulillah ada 3 penelpon dari khalayak. kupikir adalah teman-temanku, 
ternyata penelpon murni dari umum. Tapi kadang pertanyaan tidak semua dengan 
materi, misalnya menanyakan teknik budidaya sayuran dan tingkat penyerapan 
bahan pencemar di udara oleh tanaman hias. Modal nekad, kujelaskan yang makro 
saja. Khan intinya aku mengkritisi nasip pepohonan yang sering kalah dengan 
kabel listrik dan semen/aspal, serta perawatan yang kurang (siram-pupuk).
 
Alhamdulillah, sebagai narasumber pertama dapat minum aqua 600 ml dan ditraktir 
makan gratis hehehe. Transportasi pp gratis pula hehhe.
 
Pulang dari on air beberapa sms datang "masuk tipi ni yee...."
Teman kos juga menyapa "tadi siaran di tv ya pak?"
 
Senyum dech aku, 
Sayang, bapakku ning ndeso kendal lan bojoku di tegal gak iso nonton. hiks......


Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
(Survey, Pemetaan dan Evaluasi Sumberdaya Lahan)
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto.wordpress.com/
www.ilmutanah.info
 


      

Kirim email ke