Mendadak Jadi Pranatacara
-------------------------------------

Pranatacara atau terkadang juga disebut pranata adicara adalah kosa kata dalam 
bahasa Jawa yang berarti pembawa acara atau MC. Mendadak jadi MC..... Siapa 
takut? Bagi sebagian dari kita, kiranya bukan menjadi sesuatu yang luar biasa 
kalau suatu saat mendadak ditunjuk menjadi pembawa acara atau MC. 

Sepanjang bisa berhalo-halo, ditambah sedikit wawasan, improvisasi plus bumbu 
cengengesan, kiranya sudah bisa menjadi MC. Begitulah biasanya yang kita alami. 
Mendadak ditunjuk jadi MC pada pertemuan kampung atau kantor, arisan, 
pengajian, syukuran, reuni, rapat, sunatan, halal-bihalal, pentas seni, 
perlombaan sampai kampanye bin coblosan pemilu. Enteng saja sebagian dari kita 
menjalankannya, termasuk pengalaman saya sepanjang hayat dikandung badan ini.

Namun ceritanya menjadi lain, ketika suatu kali seorang teman menilpun saya dan 
meminta saya menjadi MC pada acara lamaran anak perempuannya. Kenapa jadi beda? 
Karena MC yang dimaksud adalah pranatacara alias pranata adicara. 

Dimana bedanya? Pertama, ini adalah acara yang bagi sebagian kalangan dipandang 
mengandung ada bau-bau sakral. Kata lainnya, ada ketentuan tidak tertulis yang 
menengarai bahwa acara semacam ini harus berjalan mulus, khidmat dan jangan 
sampai ada kesalahan.

Kedua, di kalangan masyarakat Jawa acara semacam ini biasanya berlangsung dalam 
format suasana nJawani. Komunikasi dilangsungkan dalam bahasa Jawa halus, 
termasuk sambutan-sambutan, dsb. (kecuali bacaan kalam Ilahi.... ). Ini yang 
susah.... Bukan kalam Ilahinya, tapi justru ngomong Jawanya. Aneh rasanya, dan 
heran juga saya. Lha seprana-seprene bergaul dengan orang Jawa, sejak mbrojol 
ke dunia pun sudah nangis dan ngomong cara Jawa, disuruh jadi pranatacara kok 
sambat.... mengeluh susah.

Tapi ya begitulah. Akhirnya terpaksa syarat saya ajukan, ketika menjawab 
permintaan teman tadi. Saya bersedia jadi MC acara lamaran, asal menggunakan 
bahasa Indonesia. Kedengaran rada nasionalis sepertinya, tapi sebenarnya ya 
karena kesulitan ngomong bahasa Jawa halus alias kromo hinggil itu tadi.

Eh, lha kok teman saya setuju. Ya terpaksa secepat kilat kasak-kusuk cari 
referensi untuk bekal, minimal guna meminimalisir kalaupun nanti terjadi 
kesalahan. Alasannya ya seperti saya ceitakan di depan. Untuk acara-acara yang 
bersifat umum barangkali, sak-dek sak-nyet (seketika) saya siap. Tapi kalau 
acara lamaran dalam format Jawa, apalagi pernikahan, saya belum punya "fly 
watch".   

*** 

Tiba saatnya membawakan acara. Sang MC yang mendadak jadi pranatacara pun 
mengantarkan acara demi acara di depan tetamu undangan dengan menggunakan 
bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sementara para wakil keluarga yang 
menyampaikan sambutan pengantar, lamaran, penerimaan, dst. menggunakan bahasa 
Jawa kromo hinggil..... Sudah begitu, malah para wakil keluarga itu sebelum 
menyampaikan sambutannya pakai minta ijin segala kalau hendak bicara dalam 
bahasa Jawa. Entah ini bagian dari sopan-santun atau sindiran kepada 
pranatacara yang keukeuh berbahasa Indonesia.

Akhirnya, acara pun dapat berlangsung dengan aman dan terkendali, meskipun 
keringat sempat bercucuran membasahi baju batik baru (maklum, habis lebaran) 
yang saya kenakan tanpa rangkapan kaus singlet (karena memang tidak biasa dan 
tidak punya, kalau yang ini memang rodo ndeso…).  

Tapi tuan rumah dan para pihak yang terkait sempat sangat berterima kasih sama 
sang pranatacara. Pasalnya di akhir acara, sang pranatacara bahasa Indonesia 
ini, memberi bonus doa. Dalam draft susunan acara yang disodorkan si empunya 
hajat, tidak tertulis mata acara doa, akibatnya petugas pendoa pun tidak 
disiapkan. Tapi saya berinisiatif memimpin doa (sok alim ya biarin, wong berdoa 
itu baik, pikir saya…..). Lalu saya bacakan doa berbahasa Arab. Saya jamin ini 
bukan doa yang mengancam, meski saya yakin hanya sebagian kecil saja dari yang 
hadir tahu maksud dari doa yang saya lafalkan. Yang pasti ujungnya berbunyi : 
"Amin" (vokal i-nya agak panjang...).

Asyik juga mendadak jadi MC, eh… pranatacara acara lamaran dalam format Jawa. 
Belakangan terpikir, barangkali ada baiknya juga kalau sempat belajar tentang 
pranatacara yang full bahasa Jawa kromo hinggil...... Tapi syusyah je.....

Kendal, 15 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke