Sudah 1 jam lebih aku masih duduk diatas sajadah ini… menarik nafas
dalam berkali-kali seraya tak henti memohon ampun atas semua yang
terjadi… Ya Allah… salahkah aku? Ingatan ku muncul kembali mengenang
jauh bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih sebagai bocah kecil
bernama Bayu. Aku mempunyai seorang adik sepupu yang beda usia kami
hanya  terpaut 4 tahun.. Sejak kecil aku telah mengenal Disti sepupu ku
ini seperti layaknya adik-adik sepupu ku yang lain..
Tapi Disti berbeda, bagi ku dia itu cantik… sejak dulu aku selalu
mengagumi nya. Akupun lebih senang bermain menghabiskan waktu dengan
Disti. Beranjak sekolah dasar, lingkungan tempat tinggal kami yang
selalu berdekatan membuat hampir setiap hari bertemu. Aku kerap
menemaninya kemana saja Disti pergi. Aku bangga walaupun kakak ku
sering meledek aku dengan sebutan “bodyguard” nya Disti kok ceking yah?
tapi aku tak peduli, aku sangat menjaga dan berusaha melindungi Disti
yang cantik dan polos ini dari siapapun. Mungkin karena aku yang tak
punya adik perempuan dan Disti juga tak punya kakak laki-laki membuat
insting pria ku muncul begitu saja. Ingin bertanggung jawab terhadap
Disti seolah aku ini adalah kakak kandungnya sendiri…
Kami selalu bersama, tertawa bercanda dan saling ledek… Disti
paling-paling mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu air mata bila tak mampu
lagi membalas candaanku.. kalau sudah begini, aku hanya bisa berhenti
bercanda dan minta maaf padanya… ahk, aku tak pernah kuat bila melihat
si cantik ini menangis.
Aku pun hanya bisa diam, saat Disti juga sudah mulai marah pada ku
untuk hal-hal kecil yang jadi kesalahan ku… bagiku menghilangkan
sticker club bola Manchester United yang dibeli disti pulang sekolah
bukan hal yang fatal. Namun bagi dirinya, itu adalah kesalahan besar!
Disti bisa berang dan mengamuk bila urusan bola, tim favorite nya ato
bahkan pemain bola jagoannya di usik-usik. Aku pun mesti pasrah nemenin
Disti nonton bola di stadion kota kami karena aku takut Disti bakalan
pulang babak belur kena lemparan nyasar para supporter yang emosian.
Semakin dewasa kami, aku menyaksikan Disti tumbuh mekar dan penuh
pesona layaknya seorang gadis yang menanti kumbang untuk mendekati
dirinya… sedangkan aku, gejolak remaja yang salah arah membuat aku
hilang dalam dunia ku sendiri… tenggelam, parah…
Disti pun tak mampu berbuat banyak kala aku terjerat shabu dan
ganja… aku dan pacar ku sejak SMP kami kerap menghabiskan malam dengan
cara yang salah. Wah, betapa “hebat” kelakuan ku saat itu… bangga
dengan dosa dan maksiat… hingga aku tak sadar, bahwa beberapa waktu
terakhir aku telah menjadi incaran polisi yang lagi gencar-gencar nya
mengawasi dunia narkoba. Aku tertangkap tangan, saat lagi pesta shabu
dan putaw bersama beberapa orang temen ku. Tuduhannya tak hanya semata
pemakai, tapi juga Bandar. Karena saat itu aku juga mencarikan putaw
buat temen-temen ku yang butuh..
Dinginnya sel penjara dan semua aroma malu saat di dalam sana serta
kesedihan orang tua ku terutama bunda ku membuat aku tak berani menatap
matanya yang berlinang saat menjengukku di tahanan. Aku sungguh tak
mampu menahan sakit nya akibat sakaw, tapi aku pun tak berdaya melihat
bunda mesti menebus hari-hari ku di penjara hingga 20 juta. Bukan duit
yang sedikit waktu itu…
Sejak aku lepas dari tahanan, aku bertekad untuk tobat dan mencari
jalan hidupku yang baru, lepas dari narkoba dan teman-teman ku. Setahun
lebih aku menghilang, masuk ke dalam sebuah dunia yang tak pernah aku
pikirkan selama itu mencari jati diri dan menyembuhkan ketergantungan
ku. Sesekali aku masih berkirim kabar dengan Disti..
Ketika aku telah merasa siap untuk kembali ke dunia ku yang sekarang
ini, akupun bersiap melanjutkan pendidikan kuliah ku dan menjadi
manusia yang baru. Ya, aku benar-benar “baru”…
Akupun masih pacaran dengan Novi, kekasih ku sejak SMP… namun
sekembalinya aku, Novi masihlah wanita cantik yang lekat dengan dunia
malam, having fun at the club dan alkohol… Subhanallah.. aku telah lama
meninggalkan dunia itu, namun Novi sepertinya belum bisa berhenti dari
dunia itu. Umur ku kini tak lagi ingusan, dengan bekal kemampuan ku
sekarang aku telah merasa siap untuk menikah, mengikuti sunnah Rasul.
Namun apa jadi nya bila rumah tangga ku nanti istri ku pulang malam,
sedikit mabuk bau alkohol ? aku telah mengingatkan tentang rencana ku
ini, tapi Novi selalu meminta waktu untuk berubah… setelah setahun
berlalu, akhirnya dengan berat hati aku mesti mengakhiri hubungan cinta
ku yang 9 tahun itu dengan Novi… prinsip kami sudah berbeda, meski
cinta itu tetap lah tak berubah. Sungguh berat, dan Novi mengerti
dengan pilihan ku untuk meninggalkan dirinya.
Aku selalu memohon pada Allah agar diberi petunjuk dan memberikan
aku segera wanita sholeha sebagai pendamping hidup ku. Dan Maha Kuasa
Allah atas segala sesuatunya, tak lama do’a ku terjawab sudah… Ustadz
yang selama ini menjadi guru mengaji ku, yang selalu membimbing aku
untuk tak lagi terjerat dunia hitam memberiku sebuah kabar.. apakah aku
bersedia menikah dengan seorang wanita pilihan sang Ustadz.. Aku
menjawab bersedia, karena aku yakin pilihan Ustadz ku ini pastilah
baik, insyaAllah sholeha… ketika aku bertanya, siapa gerangan calon
pendamping itu, sang Ustadz menjawab bahwa wanita itu adalah anak
kandungnya sendiri… Blaaassss…. Subhanallah… dada ku bergemuruh dengan
keikhlasan Ustadz untuk menikahkan anak nya dengan ku…
Selama di pesantren dulu, aku pernah mengetahui bahwa ada anak sang
Ustadz yang perempuan yang bernama Anisa. Tak lama kemudian proses
ta’aruf pun berlangsung, disanalah pertama kali aku melihatnya membuka
cadar di depan sang ayah. MasyaAllah, cantik sekali pipi Nisa bersemu
merah… aku tak mampu berlama-lama memandangnya karena kecantikan Nisa
yang selama ini tak pernah terlihat oleh siapapun selain keluarganya.
Akhirnya, tiga minggu yang lalu dilanjutkan pembicaraan untuk
menentukan tanggal menikah. Anisa yang mesti kembali lagi ke Kairo
melanjutkan study nya baru akan kembali sekitar 2 bulan, dan saat
itulah nanti aku bisa mengucap ijab Kabul untuk menikahi Anisa.
Air mata ku kini menetes…
Beberapa hari yang lalu, berita aku yang ingin menikah telah sampai
juga ke temen-temen… mereka saling dukung dan mengucapkan selamat atas
langkah yang sebentar lagi akan mempunyai status baru, suami. Salah
satu teman ku yang selama ini tau bahwa sejak dulu aku mengagumi disti
lebih dari sekedar saudara sepupu namun selalu berdalih bahwa hubungan
ini tak lebih sekedar kerabat bertanya dalam kesempatannya ke Disti
tentang rencana pernikahan ku.
Sampai lah temen ku bertanya pada Disti, bagaimana bila seandainya
aku melamar Disti… ternyata jawaban Disti sungguh di luar dugaan, Disti
mau bila aku melamar dirinya. Namun selama ini Disti menyadari bahwa
Novi yang cantik nya luar biasa aja bisa aku putuskan, tentu selama ini
Disti tau bagaimana “selera” ku terhadap wanita…
Segera saja temen ku itu mengabarkan hasil obrolannya dengan ku. Ya
Allah… akupun selama ini mengagumi Disti sebagai wanita yang sangat
baik… selama ini jangan kan tetangga sebelah rumah, aku pun diam-diam
menyukai Disti yang selama ini aku pendam karena tidak mungkin
mencintai adik sepupu ku sendiri. Aku selalu menahan diri membuang
pikiran ku jauh-jauh bila kekaguman ku timbul untuk Disti. Aku takut
mencintai Disti, yang sudah ku anggap adik ku sendiri.
Aku tak menyangka bahwa selama ini Disti juga telah memendam
perasaan yang sama selama bertahun-tahun.. Disti pun tak pernah
memberikan sinyal cinta nya sejak aku dengan senyuman penuh bangga
bercerita padanya bahwa siang itu aku telah jadian dengan Novi,
sepulang sekolah… dan Disti merasa bahwa hanya dia yang menaruh hati
padaku sedang aku tak peduli akan perasaannya.
Ya Allah, andaikan semua perasaan Disti aku ketahui tiga minggu yang
lalu mungkin tidak akan aku terima perjodohan dari Ustadz ku… Anisa
memang wanita yang baik, sholeha… seperti yang selama ini aku mohon
pada Allah… tapi Disti? Disti adalah gadis yang sejak kecil aku sudah
menaruh hati padanya… gadis yang sudah aku kenal betul bagaimana
dirinya…
Tadi malam aku akhirnya mendengar langsung dari Disti tentang
perasaannya pada ku. Aku tak kuasa mendengar kata-kata nya yang selama
ini tersimpan rapi dalam hati nya, sungguh menyesakkan dada…
Sayup-sayup kudengar adzan subuh berkumandang, astagfirullah…
ternyata aku sudah dari tadi di atas sajadah sejak tahajud ku berakhir…
aku segera bersiap berangkat ke mesjid, sambil tetap memohon untuk hati
ku yang benar-benar terbelah dan tak berdaya ini…2 bulan lagi aku akan
menikah dengan anisa, apakah benar-benar sudah terlambat untuk Disti
dan aku, ya Allah??
 
 
ps: ini sebuah kisah nyata yang terjadi namun atas berbagai
pertimbangan maka semua nama serta sebagian jalan cerita harus di
“edit” demi kenyamanan pihak-pihak yang terlibat di dalam nya…


      

Kirim email ke