ini kisahnya mas budi sendiri?
aku tidak mau mengupas tanpa tahu kepada siapa tulisan ini aku berikan hehehee 

--- On Mon, 11/3/08, Budi Yuwono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Budi Yuwono <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kendal-online] Apakah sudah terlambat???
To: "abdullah alkatiri" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ahmad mutaqin" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Cc: Mansyur Alkatiri" <[EMAIL PROTECTED]>, "yunita aryani" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "DUTA-BUDHI" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Yanto Mm" <[EMAIL PROTECTED]>, "m.cahyono" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "trisno.sumaedi" <[EMAIL PROTECTED]>, 
[email protected], "Hikmat.Ismiandito" <[EMAIL PROTECTED]>, "Andry 
Hardiyanto" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, November 3, 2008, 6:27 AM








Sudah 1 jam lebih aku masih duduk diatas sajadah ini… menarik nafas dalam 
berkali-kali seraya tak henti memohon ampun atas semua yang terjadi… Ya Allah… 
salahkah aku? Ingatan ku muncul kembali mengenang jauh bertahun-tahun yang 
lalu, saat aku masih sebagai bocah kecil bernama Bayu. Aku mempunyai seorang 
adik sepupu yang beda usia kami hanya  terpaut 4 tahun. Sejak kecil aku telah 
mengenal Disti sepupu ku ini seperti layaknya adik-adik sepupu ku yang lain..
Tapi Disti berbeda, bagi ku dia itu cantik… sejak dulu aku selalu mengagumi 
nya. Akupun lebih senang bermain menghabiskan waktu dengan Disti. Beranjak 
sekolah dasar, lingkungan tempat tinggal kami yang selalu berdekatan membuat 
hampir setiap hari bertemu. Aku kerap menemaninya kemana saja Disti pergi. Aku 
bangga walaupun kakak ku sering meledek aku dengan sebutan “bodyguard” nya 
Disti kok ceking yah? tapi aku tak peduli, aku sangat menjaga dan berusaha 
melindungi Disti yang cantik dan polos ini dari siapapun. Mungkin karena aku 
yang tak punya adik perempuan dan Disti juga tak punya kakak laki-laki membuat 
insting pria ku muncul begitu saja. Ingin bertanggung jawab terhadap Disti 
seolah aku ini adalah kakak kandungnya sendiri…
Kami selalu bersama, tertawa bercanda dan saling ledek… Disti paling-paling 
mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu air mata bila tak mampu lagi membalas 
candaanku.. kalau sudah begini, aku hanya bisa berhenti bercanda dan minta maaf 
padanya… ahk, aku tak pernah kuat bila melihat si cantik ini menangis.
Aku pun hanya bisa diam, saat Disti juga sudah mulai marah pada ku untuk 
hal-hal kecil yang jadi kesalahan ku… bagiku menghilangkan sticker club bola 
Manchester United yang dibeli disti pulang sekolah bukan hal yang fatal. Namun 
bagi dirinya, itu adalah kesalahan besar! Disti bisa berang dan mengamuk bila 
urusan bola, tim favorite nya ato bahkan pemain bola jagoannya di usik-usik. 
Aku pun mesti pasrah nemenin Disti nonton bola di stadion kota kami karena aku 
takut Disti bakalan pulang babak belur kena lemparan nyasar para supporter yang 
emosian.
Semakin dewasa kami, aku menyaksikan Disti tumbuh mekar dan penuh pesona 
layaknya seorang gadis yang menanti kumbang untuk mendekati dirinya… sedangkan 
aku, gejolak remaja yang salah arah membuat aku hilang dalam dunia ku sendiri… 
tenggelam, parah…
Disti pun tak mampu berbuat banyak kala aku terjerat shabu dan ganja… aku dan 
pacar ku sejak SMP kami kerap menghabiskan malam dengan cara yang salah. Wah, 
betapa “hebat” kelakuan ku saat itu… bangga dengan dosa dan maksiat… hingga aku 
tak sadar, bahwa beberapa waktu terakhir aku telah menjadi incaran polisi yang 
lagi gencar-gencar nya mengawasi dunia narkoba. Aku tertangkap tangan, saat 
lagi pesta shabu dan putaw bersama beberapa orang temen ku. Tuduhannya tak 
hanya semata pemakai, tapi juga Bandar. Karena saat itu aku juga mencarikan 
putaw buat temen-temen ku yang butuh.
Dinginnya sel penjara dan semua aroma malu saat di dalam sana serta kesedihan 
orang tua ku terutama bunda ku membuat aku tak berani menatap matanya yang 
berlinang saat menjengukku di tahanan. Aku sungguh tak mampu menahan sakit nya 
akibat sakaw, tapi aku pun tak berdaya melihat bunda mesti menebus hari-hari ku 
di penjara hingga 20 juta. Bukan duit yang sedikit waktu itu…
Sejak aku lepas dari tahanan, aku bertekad untuk tobat dan mencari jalan 
hidupku yang baru, lepas dari narkoba dan teman-teman ku. Setahun lebih aku 
menghilang, masuk ke dalam sebuah dunia yang tak pernah aku pikirkan selama itu 
mencari jati diri dan menyembuhkan ketergantungan ku. Sesekali aku masih 
berkirim kabar dengan Disti..
Ketika aku telah merasa siap untuk kembali ke dunia ku yang sekarang ini, 
akupun bersiap melanjutkan pendidikan kuliah ku dan menjadi manusia yang baru. 
Ya, aku benar-benar “baru”…
Akupun masih pacaran dengan Novi, kekasih ku sejak SMP… namun sekembalinya aku, 
Novi masihlah wanita cantik yang lekat dengan dunia malam, having fun at the 
club dan alkohol… Subhanallah. . aku telah lama meninggalkan dunia itu, namun 
Novi sepertinya belum bisa berhenti dari dunia itu. Umur ku kini tak lagi 
ingusan, dengan bekal kemampuan ku sekarang aku telah merasa siap untuk 
menikah, mengikuti sunnah Rasul. Namun apa jadi nya bila rumah tangga ku nanti 
istri ku pulang malam, sedikit mabuk bau alkohol ? aku telah mengingatkan 
tentang rencana ku ini, tapi Novi selalu meminta waktu untuk berubah… setelah 
setahun berlalu, akhirnya dengan berat hati aku mesti mengakhiri hubungan cinta 
ku yang 9 tahun itu dengan Novi… prinsip kami sudah berbeda, meski cinta itu 
tetap lah tak berubah. Sungguh berat, dan Novi mengerti dengan pilihan ku untuk 
meninggalkan dirinya.
Aku selalu memohon pada Allah agar diberi petunjuk dan memberikan aku segera 
wanita sholeha sebagai pendamping hidup ku. Dan Maha Kuasa Allah atas segala 
sesuatunya, tak lama do’a ku terjawab sudah… Ustadz yang selama ini menjadi 
guru mengaji ku, yang selalu membimbing aku untuk tak lagi terjerat dunia hitam 
memberiku sebuah kabar.. apakah aku bersedia menikah dengan seorang wanita 
pilihan sang Ustadz. Aku menjawab bersedia, karena aku yakin pilihan Ustadz ku 
ini pastilah baik, insyaAllah sholeha… ketika aku bertanya, siapa gerangan 
calon pendamping itu, sang Ustadz menjawab bahwa wanita itu adalah anak 
kandungnya sendiri… Blaaassss…. Subhanallah… dada ku bergemuruh dengan 
keikhlasan Ustadz untuk menikahkan anak nya dengan ku…
Selama di pesantren dulu, aku pernah mengetahui bahwa ada anak sang Ustadz yang 
perempuan yang bernama Anisa. Tak lama kemudian proses ta’aruf pun berlangsung, 
disanalah pertama kali aku melihatnya membuka cadar di depan sang ayah. 
MasyaAllah, cantik sekali pipi Nisa bersemu merah… aku tak mampu berlama-lama 
memandangnya karena kecantikan Nisa yang selama ini tak pernah terlihat oleh 
siapapun selain keluarganya.
Akhirnya, tiga minggu yang lalu dilanjutkan pembicaraan untuk menentukan 
tanggal menikah. Anisa yang mesti kembali lagi ke Kairo melanjutkan study nya 
baru akan kembali sekitar 2 bulan, dan saat itulah nanti aku bisa mengucap ijab 
Kabul untuk menikahi Anisa.
Air mata ku kini menetes…
Beberapa hari yang lalu, berita aku yang ingin menikah telah sampai juga ke 
temen-temen… mereka saling dukung dan mengucapkan selamat atas langkah yang 
sebentar lagi akan mempunyai status baru, suami. Salah satu teman ku yang 
selama ini tau bahwa sejak dulu aku mengagumi disti lebih dari sekedar saudara 
sepupu namun selalu berdalih bahwa hubungan ini tak lebih sekedar kerabat 
bertanya dalam kesempatannya ke Disti tentang rencana pernikahan ku.
Sampai lah temen ku bertanya pada Disti, bagaimana bila seandainya aku melamar 
Disti… ternyata jawaban Disti sungguh di luar dugaan, Disti mau bila aku 
melamar dirinya. Namun selama ini Disti menyadari bahwa Novi yang cantik nya 
luar biasa aja bisa aku putuskan, tentu selama ini Disti tau bagaimana “selera” 
ku terhadap wanita…
Segera saja temen ku itu mengabarkan hasil obrolannya dengan ku. Ya Allah… 
akupun selama ini mengagumi Disti sebagai wanita yang sangat baik… selama ini 
jangan kan tetangga sebelah rumah, aku pun diam-diam menyukai Disti yang selama 
ini aku pendam karena tidak mungkin mencintai adik sepupu ku sendiri. Aku 
selalu menahan diri membuang pikiran ku jauh-jauh bila kekaguman ku timbul 
untuk Disti. Aku takut mencintai Disti, yang sudah ku anggap adik ku sendiri.
Aku tak menyangka bahwa selama ini Disti juga telah memendam perasaan yang sama 
selama bertahun-tahun. . Disti pun tak pernah memberikan sinyal cinta nya sejak 
aku dengan senyuman penuh bangga bercerita padanya bahwa siang itu aku telah 
jadian dengan Novi, sepulang sekolah… dan Disti merasa bahwa hanya dia yang 
menaruh hati padaku sedang aku tak peduli akan perasaannya.
Ya Allah, andaikan semua perasaan Disti aku ketahui tiga minggu yang lalu 
mungkin tidak akan aku terima perjodohan dari Ustadz ku… Anisa memang wanita 
yang baik, sholeha… seperti yang selama ini aku mohon pada Allah… tapi Disti? 
Disti adalah gadis yang sejak kecil aku sudah menaruh hati padanya… gadis yang 
sudah aku kenal betul bagaimana dirinya…
Tadi malam aku akhirnya mendengar langsung dari Disti tentang perasaannya pada 
ku. Aku tak kuasa mendengar kata-kata nya yang selama ini tersimpan rapi dalam 
hati nya, sungguh menyesakkan dada…
Sayup-sayup kudengar adzan subuh berkumandang, astagfirullah… ternyata aku 
sudah dari tadi di atas sajadah sejak tahajud ku berakhir… aku segera bersiap 
berangkat ke mesjid, sambil tetap memohon untuk hati ku yang benar-benar 
terbelah dan tak berdaya ini…2 bulan lagi aku akan menikah dengan anisa, apakah 
benar-benar sudah terlambat untuk Disti dan aku, ya Allah??
 
 
ps: ini sebuah kisah nyata yang terjadi namun atas berbagai pertimbangan maka 
semua nama serta sebagian jalan cerita harus di “edit” demi kenyamanan 
pihak-pihak yang terlibat di dalam nya…
 














      

Kirim email ke