Setelah minggu lalu angin puting beliung memporak porandakan sebagian dari 
gedung kampus UGM, dalam tiga bulan mendapatang badai tropis diperkirakan akan 
mengancam wilayah Kendal dan sekitarnya yang dapat mengakibatkan banjir.

Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/

===============================================================================
Dari Rilis UGM

Pakar bencana UGM, Dr Sudibyakto, menegaskan bahwa bencana angin
puting beliung yang menimpa kampus UGM pada jumat sore lalu memiliki
kecepatan sebesar 70 hingga 80 km/jam yang bersifat lokal. Dan
kemungkinan bencana ini akan berpotensi terjadi kembali dalam tiga
bulan ke depan. 


“Berdasarkan hasil pantauan dan hasil pengamatan citra satelit, maka
bulan November, Desember hingga Januari, kemungkinan besar bisa
terulang kembali,” kata Sudibyakto, kepada wartawan, Senin (10/11) di
Kampus UGM. 


Menurut dosen Geografi UGM ini,
munculnya angin putting beliung di UGM akibat pusat tekanan udara
rendah atau low pression. Perbedaan tekanan udara yang rendah di
sekitar kampus UGM dan tingkat pemanasan yang tidak sama antara wilayah
UGM dengan wilayah yang lain sehingga menyebabkan kampus UGM sebagai
pusat tekanan udara rendah. 


Sementara banyaknya lahan yang
rusak di kota-kota besar dan sedikinya daerah kawasan hijau menyebabkan
terjadinya perbedaan suhu udara tersebut. Perbedaan suhu tersebut
berkisar diantara dua sampai tiga derajat celcius. 


“Suhu yang lebih tinggi ini
akibat penggunaan lahan, polusi udara dan sebagainya maka daerah dengan
tekanan udara menjadi lebih rendah, maka angin akan bertiup di wilayah
tersebut. Selain putting beliung, bila terjadi hujan yang sifatnya
konvergen, maka akan menimbulkan banjir,” tambahnya. 


Sudibyakto menambahkan, ada
faktor lain selain faktor yang sifatnya lokal, yakni faktor munculnya
daerah konvergensi antar tropis, Inter Trophical Convergen Zone (ITCZ).
Daerah konvergensi ini muncul mengikuti peredaran matahari. Di bulan
November dan Desembar, posisi matahari berada di belahan bumi bagian
selatan, artinya bumi menerima radisasi matahari dalam jumlah yang
cukup besar. Radiasi ini akan mengakibatkan suhu meningkat, sehingga
suhu udara juga meningkat dan terjadinya tekanan udara rendah. 


“Gabungan dari faktor sifatnya
regional dengan faktor yang sifatnya lokal yang sangat berpotensi
menimbulkan angin putting beliung (thunder storm) dengan kecepatan
60-110 km per jam,” katanya. 


Dalam tiga bulan ke depan,
tambah Sudibyakto, potensi terjadi angin putting beliung dan badai
dampak dari badai tropis yang datang dari arah benua Asutralia cukup
besar. Beberapa daerah berpotensi terjadinya badai tropis yakni di
daerah pesisir utara pulau Jawa, yakni, Brebes, Tegal, Kendal,
Semarang, Bali dan Nusa Tenggara, sehingga berpotensi terkena banjir. 


Sementara daerah yang
kemungkinan berpotensi terkena ancaman angin puting beliung, terletak
di daerah yang terletak di antara daerah perbukitan. Di Yogyakarta,
disebutkan Sudibiyakto yang berpotensi terjadinya angin putting beliung
diantaranya daerah Gunung Kidul, Kulon Progo, daerah sekitar Gunung
Merapi, Klaten dan Boyolali. 


“Daerah yang terletak di
sekitar perbukitan ini rawan terhadap puting beliung akibat tekanan
angin yang menuruni daerah lembah sehingga berpotensi terjadinya
bencana puting beliung. 


Pada umumnya angin puting
beliung ini jelas Sudibiyakto bersifat merusak dengan kecepatan tinggi
dan berputar, sehingga kecepatan putaran angin tersebut akan mengangkat
apa yang ada di permukaan bumi.


      

Kirim email ke