doeloe, sekitar tahun 2000, di saat mulai mengenal apa itu test TOEFL
kumulai mengikuti test dengan hasil 357 dan 373 (angka pastinya agak lupa)
kemudian iseng ikut test lagi dengan menulis keterangan di form "sudah 
mengikuti test lebih dari 3 kali". Gubrak! hasil test 400 ! pas bener dengan 
syarat S2 di pasca UGM (ilmu pertanian).
 
nah, tahun 2008 ini, atas dorongan kuat dari pendamping kiriku, aku ikut kursus 
TEOFL di UGM lagi. hampir 2 bulan, tiap senin-jumat malam kursus bersama-sama 
peserta kursus lintas generasi (ada lulusan SMA, ada menjelang manula). Aa sich 
melototna ama yang 'sedang-sedang' aja. Apalagi mbak Gurunya ada yang cute....
 
Hasil test sudah jadi beberapa bulan lalu. Tapi untuk ngambil hasil di PP 
Bahasa UGM kok gak kunjung tiba. Bukan karena minggu ini Pekan Kedisiplinan 
Kampus. Tapi ndilalah harus muter kota hanya untuk nyari sil (karet) hand rem 
Mazda 626, ngambil honor nulis di redaksi KR Tugu, dan sekaligus mampirlah ke 
PPB UGM.
Wah yang jaga bagian sertifikasi cute pulak. Kali biar hasilnya gak diprotes 
ya...
Aku tengok hasilnya..... Gubrak ! bulet 450
"Wah, ini bisa S3 ya mbak, pas 450...", komentarku pake jurus coca-cola (SKSD = 
sok kenal sok dekat)
"Kayaknya sekarang ada aturan baru, Mas", jawab mbaknya sigap
"Maksudnya?", akunya penasaran
"Entah diberlakukan seragam se UGM atau tiap fakultas beda, tapi kayaknya ada 
yang mensyaratkan 550..", jawabnya lugas
Aku tersenyum pahit. Wah harus kursus lagi neh.
Kalo di UPN sih tinggal milih, kursus ama mbak Sari Virgawati, bu Nur, atau bu 
Rukmo
tapi jelas mereka gak mau ngursusi aku, lha kalo jadi murid akunya bakad 
bandel, ngeyelan tur IQ TOEFLnya gak mundak-mundak.... (bisa rumangsa ah ah....)
 
mending sertifikat ini buat syarat tambahan pencalonan karya siswa S3 ah. walau 
paling muda, tur masih lektor, sapa tahu "keberuntungan milik pemberani"
 
/me sisiran




      

Kirim email ke