Mas Yusuf! Salute!

Kalau saya bisa meniru semangat wirausaha Mas Yusuf, rasanya sangat 
menyenangkan dan membanggakan.
Kuliah2 via email ini saja rasanya sudah membuka mata dan hati untuk berbuat. 
Membuka seluas-luasnya lapangan kerja.
Membuka sebanyak-banyaknya retail-retail business. Membangun sentra-sentra home 
industry. Menularkan pengalaman seluas-luasnya.

Dan Mas Yusuf telah memulainya dengan sangat berhasil.
Seandainya setiap orang Kendal atau seper seratus orang Kendal memiliki kemauan 
ini..
Atau setidaknya sudah ada yang mulai melakukan pembinaan kewirausahaan secara 
intensif didukung anggaran CSR dari swasta/BUMN + anggaran pemicu dari 
pemerintah.. Terintegrasi satu visi.. Insya Allaah... hasilnya penuh berkah..

Kapan bupatinya orang kendal-online ya..? Anggota DPRDnya juga dari 
Kendal-online. Partai boleh beda, visi untuk membangun Kendal harus sama.

Mari bersatu..
Karena bersatu membuat murah.. Bercerai bikin mahal..

Salam Hormat Mas Yusuf dkk! Salam Sukses!


  ----- Original Message ----- 
  From: Yusuf Iskandar 
  Sent: Tuesday, November 25, 2008 9:44 PM
  Subject: [kendal-online] Mendadak Jadi ”Guest Lecturer”


        Mendadak Jadi ”Guest Lecturer” 

        -------------------------------------- 

         

        Hari Sabtu yll. toko saya ”Madurejo Swalayan” kedatangan tamu istimewa. 
Saya anggap istimewa karena tidak biasanya saya dikeroyok rombongan tamu yang 
terdiri dari ibu-ibu dari desa Tlogo, Prambanan, Klaten, yang sedang site 
visit, melakukan kunjungan kerja atau studi banding. 

         

        Siapakah rombongan ibu-ibu ini? Mereka adalah kelompok ibu-ibu pelaku 
UKM (Usaha Kecil & Mikro) yang sedang dibina oleh lembaga ASB 
(Arbeiter-Samariter-Bund), sebuah kelompok LSM asal Jerman. Kelompok ibu-ibu 
ndeso ini adalah salah satu kelompok usaha kecil yang bergerak di bidang 
industri minuman herbal. Tapi jangan dikira bahwa ibu-ibu ndeso ini berarti 
ndeso pula pemikirannya. Mereka adalah orang-orang ndeso yang telah maju 
semangat entrepreneurship-nya. Setidak-tidaknya mereka adalah ibu-ibu yang 
tetap bersemangat menempa diri untuk belajar dan menekuni dunia kewirausahaan, 
lebih dari umumnya kaum ibu lainnya yang tinggal di desa. 

         

        Hal inilah yang membuat saya begitu bersemangat menyambut kedatangan 
mereka pagi itu. Saya sangat menghargai semangat kewirausahaan yang tumbuh 
dalam lingkungan ndeso mereka. Hingga saya pun tidak keberatan ketika pembina 
mereka dari ASB meminta saya untuk sekedar berbagi pengalaman tentang 
kewirausahaan, sekaligus memberikan sedikit kuliah motivasi kepada mereka. 
Terpaksa saya harus bergaya bak seorang motivator beneran. Kalaupun terlihat 
wagu (jelek atau tidak pas), maka akan termanipulasi oleh ke-ndeso-an mereka, 
sebab mereka pasti tidak punya pembanding. Dan....., saya berhasil! Berhasil 
menjadi jago (diantara 16 ibu-ibu) sebagai motivator kelas ndeso, 
maksudnya...... Yo wis ben...... 

         

        Apa ukuran keberhasilannya? Kuliah motivasi yang berlangsung kira-kira 
setengah jam sambil duduk lesehan di sebuah joglo di halaman belakang ”Madurejo 
Swalayan”, ternyata kemudian digayung-bersambuti oleh para ibu-ibu dengan 
cecaran aneka pertanyaan. Semuanya bisa saya jawab dengan meyakinkan dan 
memuaskan. Sekurang-kurangnya saya tidak mengarang jawaban, melainkan apa yang 
saya sampaikan adalah apa yang telah dan akan saya lakukan sebagai pemilik 
usaha ritel ”Madurejo Swalayan” yang berdiri di pinggir timur kota Jogja. 

         

        Hal yang membuat saya bangga adalah bahwa umumnya pertanyaan yang 
diajukan adalah pertanyaan kritis dan konstruktif untuk ukuran ibu-ibu ndeso, 
yaitu pertanyaan yang terkait dengan kiat-kiat berwirausaha, tidak hanya 
tentang bisnis ritel yang saya geluti melainkan juga bisnis secara keseluruhan. 
Mulai dari cara memilih jenis usaha, memilih lokasi usaha, memulai berusaha, 
menghadapi persaingan, masalah permodalan, pemasaran, promosi, filosofi 
berwirausaha, trik-trik bisnis (versi saya tentu saja), hingga akhirnya ada 
yang penasaran kemudian bertanya : 

         

        ”Nyuwun sewu, lha latar belakang pendidikan Bapak itu apa?”. Ketika 
saya jawab : ”pertambangan”, malah ibu-ibu itu tertawa (atau jangan-jangan 
malah mentertawakan). 

         

        ”Kok ora nyambung. Melenceng biyanget (saking bangetnya)...”, 
celetuknya. 

         

        Ya memang ngurusi bisnis itu tidak sama dengan ngurusi Indonesia yang 
harus sambung-menyambung menjadi satu. Siapa punya semangat dan mampu konsisten 
menjaga semangat wirausahanya, maka dia akan memetik hasilnya. Sebab mereka 
inilah orang-orang yang tahan banting, siap jatuh dan siap bangun di segala 
cuaca, tak kenal menyerah hingga memetik hasilnya. 

         

        Di akhir acara, ujung-ujungnya adalah pertanyaan apakah ada kesempatan 
bagi mereka untuk titip jual hasil usaha kelompoknya di toko saya. Jawaban saya 
singkat saja : ”Lha, monggo....., silakan.....”.   

         

        *** 

         

        Sejak beberapa hari sebelumnya, mereka para ibu-ibu ndeso ini di tengah 
kesibukan hariannya telah menyempatkan mengikuti Pelatihan Pengembangan Usaha 
(Business Development Training) yang diadakan di desa Tlogo oleh ASB. Di Jerman 
sendiri kelompok ASB ini sebenarnya sudah mulai berkiprah sebagai organisasi 
kesejahteraan sosial sejak tahun 1922 terutama dalam merespon terjadinya 
bencana alam dan konflik-konflik di luar negerinya Jerman. 

         

        Sejak tahun 2006 mulai masuk ke Indonesia, yaitu sejak terjadi bencana 
gempa bumi yang melanda wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggl 27 Mei 
2006. Desa Tlogo, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten (wilayah ini berbatasan 
dengan kecamatan yang juga bernama Prambanan, tapi masuk kabupaten Sleman) 
merupakan salah satu wilayah korban gempa yang masyarakatnya menerima bantuan 
dan binaan oleh lembaga-lembaga asing yang sejak bencana gempa banyak betebaran 
di Yogyakarta dan sekitarnya. 

         

        ASB adalah salah satu di antara LSM asing yang ada di sana, dan ibu-ibu 
tamu saya itu adalah salah satu kelompok binaannya. Sebagian dari ibu-ibu ndeso 
itu ada yang sehari-harinya ibu rumah tangga biasa, buka warung kecil, jual 
bakmi, bikin kue, usaha minuman herbal, dsb. Banyak hal menarik yang ditanyakan 
mereka dan banyak hal menarik pula dari ekspresi mereka atas jawaban saya, 
sehingga sering muncul celetukan-celetukan yang membuat ger-geran....  

         

        Sebelum tamu istimewa saya ini kembali menaiki bis yang membawa mereka 
untuk melanjutkan perjalanan studi bandingnya ke tempat lain, setelah 
berpamitan dan berfoto bersama di depan toko, salah seorang pembinanya 
menghampiri saya dan menyodorkan sebuah amplop. Jelas bukan amplop kosong, 
melainkan berisi lembaran-lembaran kertas berwarna biru bergambar Gusti Ngurah 
Rai. Sekedar tanda terima kasih sebagai ”guest lecturer”, begitu tertulis pada 
tanda terimanya. 

         

        Weleh..., rada kagok aku... Bukan menerima amplopnya, melainkan 
seprana-seprene melanglang buana menggeluti dunia pertambangan, ya baru kali 
ini saya disebut ”guest lecturer”, malah untuk urusan mbuka warung eceran..... 

         

        Lalu tentang amplop dan isinya sebagai rejeki tak terduga yang saya 
terima, kemudian saya bagikan kepada pegawai toko saya. Sekedar ingin menambah 
jumlah orang-orang yang menerima rejeki tak terduga pada hari itu..... 

         

        Yogyakarta, 25 Nopember 2008Yusuf Iskandar
       



   *****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta.
***************************************** 

*****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se- Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta
*****************************************

Kirim email ke