--- Pada Sen, 15/12/08, edi santosa <[email protected]> menulis:
Dari: edi santosa <[email protected]>
Topik: insan kendal berprestasi
Tanggal: Senin, 15 Desember, 2008, 9:16 PM
Untuk teman teman 82 ibu guru yang cantik Cahyati, Fauziyah Wijayanti,
Markamah, Endang Werdiningsih dan juga bapak guru yang guanteng Sujariadi yang
sekarang berprofesi sebagai Pahlawan tanda jasa, sabarlah dalam mendidik anak
anak. Jika ada anak yang datangnya sering terlambat, jangan selalu dimarahi
atau dipandang dengan sebelah mata, karena setiap anak memiliki potensi yang
ruaar biasa seperti teman kita yang ganteng raden mas Mudasir yang hobinya
datang terlambat waktu SMA, sumonggo dipun waos...... nuwun
Kabar UGM Online
Edisi 79/IV/31 Oktober 2008
Insan Berprestasi: Prof. Drs. Mudasir, M.Eng.,Ph.D.
Yogya, KU
Dulu tak pernah terbayangkan oleh Prof Drs Mudasir MEng PhD terpilih menjadi
pemenang ketiga dosen berprestasi nasional tahun 2008. Nyatanya? Bung Mudasir
meraihnya.
Memang prestasi itu tidak begitu saja diraih Bung Mudasir. Dia harus bersaing
lebih dulu dengan 15 finalis dosen lainnya selama tiga hari di Jakarta. Sebelum
itu, Bung Mudasir juga harus melewati seleksi awal dosen berprestasi yang
diikuti oleh 68 perguruan tinggi yang berasal dari 42 PTN dan 26 PTS.
Setelah melewati berbagai “ujian” akhirnya Depdiknas RI memilih Bung Mudasir
sebagai Dospres peringkat ketiga tingkat nasional. Depdiknas RI menilai bahwa
Bung Mudasir, kelahiran Kendal, JawaTengah, 19 Agustus 1963 telah memenuhi
beberapa kriteria penilaian dalam kegiatan seleksi dosen berprestasi.
Ketika Kabar UGM bertandang ke kantornya, di Laboratorium Kimia FMIPA, Bung
Mudasir terlihat sedang membimbing seorang mahasiswa menulis tesis. Tetapi, dia
tetap sigap menjawab pertanyaan yang diajukan Kabar UGM. Katanya, “Tentu saja
saya merasa bangga dengan terpilihnya saya. Saya merasa memperoleh apresiasi.
Apalagi selama ini di Indonesia sepertinya peneliti kurang mendapatkan
perhatian yang baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Dengan
penghargaan ini, saya lebih terdorong untuk bekerja lebih produktif lagi dalam
melahirkan karya, inovasi yang relevan bagi bangsa dan negara”.
***
Barangkali ada yang bertanya, apa sih yang membuat Bung Mudasir bisa terpilih
sebagai dosen berprestasi nasional? Menurut pengakuan Bung Mudasir, penilaian
tertinggi diraihnya berkat presentasi hasil penelitiannya.
Bung Mudasir menambahkan, ada beberapa unsur kriteria penilaian dalam memilih
dosen berprestasi tingkat nasional, meliputi: (i) kegiatan tridarma dalam tiga
tahun terakhir; (ii) kepribadian; dan (iii) presentasi hasil penelitian. Yang
terakhir ini berupa karya unggulan, baik di salah satu pendidikan, penelitian
dan pengajaran. “Masing-masing bobot penilaian berkas sekitar 40 persen,
kepribadian 20 persen sedangkan presentasi 40 persen,” katanya.
Diakui Bung Mudasir, untuk penilaian berkas bobot penilaian tambahan nilai
untuknya dirasakan paling kurang. Karena saat pengisian dan penyerahan berkas
tidak dilakukan secara maksimal. “Berkas diisi kurang maksimal, karena waktunya
sangat mepet waktu itu, sebab bersamaan jadwal keberangkatan ke Jepanag,
sehingga waktu yang kurang tiga hari saya baru diminta untuk mengirim berkas.
Berkas saya sebenarnya tidak serius saya garap, karena waktu yang sangat
sempit, sehingga mungkin dalam penilaian berkas saya tidak maksimal nilainya,”
imbuhnya.
Namun demikian, dalam presentasi hasil penelitian, kata Bung Mudasir, dirinya
paling banyak mendapat porsi penilaian. Hal tersebut diketahui Bung Mudasir
berdasarkan komentar rekan finalis dosen lainnya yang mengaku dalam presentasi
hasil penelitian dirinya yang paling baik di banding peserta
lainnya..“Presentasi saya waktu itu tetang memahami interaksi senyawa komplek
dengan DNA, satu langkah dalam pencarian senyawa anti kanker,” kata doktor
lulusan Keio University, Tokyo, Jepang ini.
Bung Mudasir pun menceritakan penelitiannya dengan antusias. Dalam pencarian
senyawa anti kanker ini, dia sudah melakukannya selama 10 tahun. Kini
penelitian tersebut sudah menuju ke arah interaksi hubungan senyawa dengan DNA.
Interaksinya cukup baik. Senyawa ini sangat penting untuk mendukung kemoterapi
pengobatan penyakit kanker.
“Perkembangan pengobatan kanker sampai saat ini lebih banyak menggunakan
kemoterapi. Selama ini kendalanya senyawa dalam kemoterapi itu tidak selektif.
Ia tidak hanya merubah sel-sel yang aktif saja, tapi juga merusak sel-sel
sehat. Dampaknya kita bisa melihat jika pasien sudah dikemoterapi biasanya
rambutnya akan menjadi rontok semua,” jelas Bung Mudasir.
Bung Mudasir mengaku bahwa penelitiannya ini tidak difokuskan ke arah
pengobatan kanker. Tetapi, penelitian itu sudah sampai ke taraf penyelidikan
senyawa-senyawa yang bisa berinteraksi dengan DNA. Salah satunya adalah yang
memiliki hubungan baik dengan DNA, yakni senyawa kompleks ligan campuran besi
untuk reaksi photocleavage DNA dan sintesis kompleks mixedligand nikel sebagaai
interkatalator DNA.
“Dalam penelitian saya, beberapa senyawa ini menunjukkan hasil yang baik
terjadap DNA,” kata Mudasir yang sudah memiliki 15 publikasi internasional
dalam jurnal internasional bergengsi
***
Diakui Bung Mudasir Sebagian waktunya dihabiskan untuk meneliti. Tidak heran
bila dirinya sering kali harus meninggalkan keluarganya demi kegiatan meneliti.
Namun demikian, keluarganya mendukung dan sudah menerima keadaan tersebut.
Sehingga saat Bung Mudasir harus tinggal lama di Jepang, anak-anaknya tidak
mengeluh.
“Tiap hari kerjaan saya hanya meneliti dan mengajar. Saya membagi waktu 60
persen di penelitian, mengajar 30 persen dan pengabdian sekitar 10 persen. Saya
memang lebih fokus ke penelitian,” tuturnya.
Ketertarikan Bung Mudasir meneliti, menurutnya, didorong oleh keingintahuan
dirinya terhadap banyak hal. Hal ini pula yang menjadikan penelitiannya ke arah
kanker karena selama ini belum ada penelitian obat kanker yang paripurna.
“Pengobatan yang paling paripurna untuk kanker itu kan belum ada. Untuk saat
ini, penyakit kanker dengan stadium yang sangat berat sekalipun pilihannya
tetap pada kemoterapi sebagai pilihan terakhir,” ucapnya.
***
Bung Mudasir dibesarkan dari lingkungan petani. Sejak kecil dia hidup dalam
suasana pedesaan. Suasana hijau persawahan saat itu dengan sungai yang bersih
membuatnya sering memandang bintang di malam hari. Hal itu pula yang
menjadikannya untuk bercita-cita menjadi ilmuwan. Bung Mudasir pun sempat
dijuluki “profesor” oleh temn sekolahnya melihat kesukaannya membaca buku di
perpustakaan sekolah di kala temen-teman sebayanya asyik bermain.
“Sejak kecil saya hidup dengan keluarga petani, keluarga biasa di Kendal. Saat
itu belum ada listrik, ketika malam terlihat banyak bintak benderang di langit.
Ketertarikan saya dimulai di sana. Saya banyak membaca buku perousatakaan SD,
terkait dengan buku ruang angkasa, sehingga mengilhami saya bercita-cita
menjadi ahli astronomi,” kata Bung Mudasir yang sempat melamar menjadi pilot.
Setelah meraih dosen berprestasi nasional ini, Bung Mudasir mengaku dirinya
tetap akan menghadapi tantangan ke depan untuk tetap eksis dalam menliti di
tengah minimnya fasilitas, dukungan kurang kondusif.
“Tapi bukan pula berarti dengan fasiltas yang minim kita berdiam diri dengan
kondisi yang minim ini terus. Namun tetap berusaha dan menjalin networking.
Banyak teman-teman peneliti yang menyalahkan fasilitas, iklim yang tidak
kondusif untuk tidak berbuat apa-apa. Prinsip saya apa yang bisa dikerjakan ya
dikerjakan. Kalau itu berguna untuk masyrakat ya syukur alhamdulillah. Namun
saya sedari awal tidak menargetkan dulu. Yang penting dilakukan, tentunya bukan
melakukan penelitian yang merusak,” katanya. (wawancara dan penulisan: Gusti
Grehenson; editing: Abrar)
( )
Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com