Wa'alaikumsalam sensei 

Kebanggaan Profesor Dasir adalah kebanggaan kita semua, tidak hanya keluarga 
tentunya teman, tetangga, bahkan warga KOL yang hanya sekedar kenal didunia 
maya  dan belum tentu tahu wajah peni'mat indahnya bintang gemintang di langit.

Kapan berangkat ke Negeri Sakura lagi, Dasir-san
Berharap hasil penelitiannya dapat diaplikasikan ke pasien meski "masih
10 tahun lagi baru bisa diaplikasikan". saya termasuk yang menunggu, istriku 
nggak mau dikemotherapy karena dari bincang-bincang sesama penderita masih 
50:50, seperti kata Profersor Mudasir, "kemoterapi tidak hanya mematikan
sel-sel kanker, tapi juga merusak sel-sel yang sebenarnya sehat".

Teruslah berjuang Prof. sumbangsihmu ditunggu dan terus menjadi kebanggaan 
semua warga Kendal.  

doumo arigatou gozaimasu
kendil, kami suhartadi


--- Pada Sel, 16/12/08, M. Mudasir <[email protected]> menulis:
Dari: M. Mudasir <[email protected]>
Topik: Re: Address e-mail KENDAL'82
Tanggal: Selasa, 16 Desember, 2008, 4:51 PM

Ass. wr. wb.
Mas Kami, terimakasih dan sumonggo kalau mau diteruskan ke kendal on-line, dulu 
kayaknya sudah pernah diinformasikan ke KOL. Catatan untuk temen-teman, 
sebenarnya yang diceritakan di koranagak sedikit dilebih-lebihkan supaya layak 
muat, kenyataannya ya sebenarnya biasa-biasa saja kok. di bawah ini ada artikel 
senada yang dimuat di Koran Tempo Edisi 26 November 2008. Tidak bermaksud untuk 
pamer, sekedar berbagi pengalaman, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Bintang di Langit Mudasir
Menemukan senyawa untuk kemoterapi yang tidak merusak sel sehat penderita 
kanker.
Perjalanan hidup Prof Drs Mudasir M. Eng,
PhD, tampak sempurna. Gelar akademiknya lengkap, berderet. Belum lagi
predikat yang membanggakan: Dosen Berprestasi III Nasional 2008. Ia
juga harus selalu hidup di dua negara berbeda: Indonesia dan Jepang,
guna memenuhi kewajibannya sebagai peneliti. "Tentu saya bangga dan bersyukur 
atas semua itu. Tapi, jujur,
saya tak pernah membayangkan bisa seperti ini," kata Kepala
Laboratorium Kimia Analis di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Gadjah Mada ini, di ruang kerjanya kemarin.
Lelaki kelahiran Desa Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten
Kendal, Jawa Tengah, 19 Agustus 1963, ini tak pernah membayangkan
dirinya bisa menggenggam sederet prestasi seperti saat ini. Jangankan
gelar doktor dan profesor, "Ketika lulus SD saja saya nyaris tak
melanjutkan sekolah," katanya.
Sebagai sulung dari empat bersaudara, Mudasir nyaris tak bisa
meneruskan pendidikan. Hanya dengan tekad kuatlah ia bisa meneruskan
pendidikan. "Ayah meminta agar saya meneruskan ke madrasah, bukan
sekolah umum. Saya kemudian menawarkan jalan tengah. Pagi saya tetap
sekolah di madrasah seperti keinginan orang tua, sore hari saya sekolah
di SMP Islam di kota kecamatan," tuturnya.
Sejak kecil, Mudasir sebenarnya berangan-angan menjadi seorang
ilmuwan. Itu gara-gara ia sering menatap bintang-bintang di langit.
"Saat kecil, belum ada listrik di daerah saya. Satu-satunya hiburan ya
hanya memandangi bintang-bintang di langit. Saat itu saya sempat
berangan-angan ingin menjadi astronom," katanya.
Toh dengan fasilitas yang terbatas, Mudasir mampu menyelesaikan
pendidikan SMP dengan predikat pemegang peringkat pertama. Prestasi
itulah yang kemudian mengantarnya ke SMA I Kendal hingga lulus pada
1982. Kalaupun akhirnya Mudasir bisa meneruskan pendidikannya ke
perguruan tinggi, itu semata-mata karena ia diterima tanpa tes melalui
jalur Perintis 2. "Saya memilih jurusan kimia dan matematika di UGM karena
kebetulan di dua mata pelajaran itu nilai saya bagus," katanya. Mudasir
terpaksa mengubur cita-citanya menjadi astronom karena lamarannya ke
Astronomi ITB ditolak.
Gelar Sarjana Kimia ia peroleh pada 1987. Ia pun langsung
mendapat tawaran menjadi staf pengajar di fakultasnya. Gelar S-2 dan
S-3 bidang kimia diperolehnya di Keio University, Tokyo, Jepang,
masing-masing pada 1993 dan 1999. Sedangkan gelar profesor disandangnya
sejak Desember 2006.
Sepulang dari Keio University pada 1999, Mudasir sempat
mengalami frustrasi. Dua tahun proposal penelitiannya ke Direktorat
Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Riset Teknologi tak pernah tembus. Tak
pernah ada pihak yang mau membiayai usulan-usulan penelitiannya. "Saya
sempat frustrasi," katanya.
Mudasir akhirnya menemukan sumber persoalan. Ternyata usulan
penelitian harus disertai dengan aplikasinya. Masalahnya, aplikasi
penelitian Mudasir memang masih sangat jauh. "Waktu itu saya masih
terlalu lugu," katanya.
Kiatnya itu ternyata ampuh. Sejak 2001 hingga saat ini ia tak
pernah gagal memperoleh sponsor penelitian. Tidak hanya di Indonesia,
Mudasir bahkan secara rutin melakukan penelitian di Keio University,
Tokyo, Jepang. Juli, Agustus, dan September adalah saat-saat Mudasir
berada di Keio University, Jepang, untuk meneruskan penelitiannya.
Saat ini Mudasir tengah sibuk melakukan penelitian mencari
senyawa kimia yang dapat berfungsi sebagai antitumor dan antikanker.
Tumor atau kanker, kata Mudasir, pada dasarnya adalah perkembangan sel
yang tak terkontrol. Kelak, hasil penelitiannya itu akan bermanfaat
bagi kemoterapi yang aman dalam proses penyembuhan kanker.
Selama ini, menurut Mudasir, kemoterapi tidak hanya mematikan
sel-sel kanker, tapi juga merusak sel-sel yang sebenarnya sehat.
Kerusakan ini, salah satunya ditandai dengan rontoknya rambut penderita
kanker yang sedang menjalani proses kemoterapi. Kelak, penelitian yang
sedang dilakukan Mudasir ini akan menghasilkan sebuah senyawa khusus
untuk kemoterapi yang tidak merusak sel-sel sehat penderita kanker.
Ada tiga alasan yang diajukan Mudasir tentang mengapa
penelitian ini harus dilakukan di Keio University, Tokyo, Jepang.
Pertama, di Indonesia, masih susah mendapatkan ligan (senyawa
antikanker) sebagai bahan utama penelitiannya. Kedua, di Indonesia
belum ada spectrophotometer yang dilengkapi dengan kontrol suhu dan pengaduk 
sel yang sangat dibutuhkannya. 
Ketiga, akses literatur di Indonesia tentang hal-hal yang
berkaitan dengan materi penelitiannya masih sangat sulit. "Di Keio
University, saya bisa dengan gampang mendapatkan literatur yang
dibutuhkan. Universitas telah melanggankan semua jurnal ilmiah yang
dibutuhkan," kata Mudasir.
Mudasir mengakui, babak akhir penelitiannya hingga bisa
diaplikasikan dalam proses kemoterapi masih cukup jauh. "Mungkin masih
10 tahun lagi baru bisa diaplikasikan. Itu pun saya tak bisa melakukan
penelitian sendiri, harus bekerja sama dengan ahli-ahli lain di bidang
farmasi, kedokteran, dan biologi," paparnya.
Meski perjalanannya masih jauh, penelitian itulah yang
mengantar Mudasir meraih predikat Dosen Berprestasi III Nasional 2008.
Penghargaan bergengsi itu diterimanya dari Dirjen Dikti Depdiknas,
Fasli Djalal, pada Agustus 2008 lalu di Jakarta. "Tentu saja saya
bangga dan tersanjung dengan penghargaan ini karena selama ini peneliti
tak pernah mendapat pengakuan seperti itu," ujarnya.
Sebagai peneliti, Mudasir mengaku tak pernah membayangkan bakal
memperoleh penghargaan bergengsi seperti itu. Apalagi ia tak pernah
melamar untuk ikut seleksi pemilihan dosen berprestasi. "Saya disurati
UGM agar ikut pemilihan dosen berprestasi," katanya.
Anak Desa Nolokerto yang suka memandang bintang di langit itu kini telah 
menjadi peneliti kelas dunia. HERU CN
BIODATA:
Nama: Prof Drs Mudasir M. Eng., PhD

Kelahiran: Kendal, 19 Agustus 1963

Alamat: Sinduharho, Ngaglik, Sleman, DIY

Jabatan: Kepala Laboratorium Kimia Analis FMIPA UGM

Istri: Dhoriva Urwatul Wutsqa
Anak: 
 Hana Asyifa
 Rahmawati Aisyiah
 Muhammad Aulia Irsyad
Penghargaan: 
 Dosen Berprestasi III Nasional 2008
 Best International Publication Award, UGM, 2007 

 Mudasir 
Department of Chemistry
Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Gadjah Mada University, Sekip Utara
PO Box Bls 21, Yogyakarta 55281
Indonesia
HP:(+62)-811-251267 
Fax:(+62)-274-545188




      


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke