Mas Yusuf,
Jika demikian ceritanya dan demikian legowo sikap Mas Yusuf, saya mengucapkan 
selamat sudah mengalami kerampokan..
Setiap kejadian yang dihadapi saat berbisnis akan menjadi pengalaman yang 
berharga..

Dan tidak setiap orang pernah mengalaminya. Sangat sedikit..

Jadi selamat belajar meningkatkan dan mempertahankan bisnis.

Sukses untuk Mas Yusuf dan keluarga.
Wassalaam.

  ----- Original Message ----- 
  From: Yusuf Iskandar 
  Sent: Tuesday, January 06, 2009 1:08 PM
  Subject: [kendal-online] Ada Rampok Di Tokoku


  Ada Rampok Di Tokoku
  ---------------------

  Saat sedang tegang-tegangnya nonton film "The Day After Tomorrow" (kecuali 
setiap kali muncul iklan saya tinggal pergi) di Global TV tadi malam, sekitar 
jam 20:45 WIB ponsel istri saya berdering. Rupanya itu tilpun dari toko kami, 
"Madurejo Swalayan". Tumben, malam-malam ada tilpun dari toko. Lalu terdengar 
suara istri saya meninggi dengan nada terkejut.

  "Piye, mbak....? Ono opo mbak....? Ora jelas suaramu......?" (Bagaimana, ada 
apa, suaranya tidak jelas....). Hanya terdengar suara tangisan seorang pegawai 
toko kami di seberang sana, di desa Madurejo yang berjarak sekitar 15 km dari 
rumah.

  Kemudian seorang laki-laki megambil alih gagang tilpun, lalu katanya : "Ibu 
segera ke toko, ada perampokan....". Dan, sambungan tilpun pun lalu terputus. 
Begitu laporan istri saya tergopoh-gopoh sambil masih mengacung-acungkan 
ponselnya, segera setelah menerima tilpun.

  Mendengar ekspresi nada suara istri saat pertama kali menerima tilpun, saya 
sudah menduga bahwa sesuatu sedang terjadi di toko saya. Herannya, saya kok ya 
tetap asyik saja nonton TV sama anak laki-laki saya, sambil menunggu laporan 
istri itu. Sepertinya tayangan film TV malah lebih menegangkan.

  Kata istri saya dengan nada suara tegang : "Mas, segera ke toko sekarang, ada 
rampok".
  Saya pun menjawab santai : "Ya, suruh nunggu....." (maksudnya pegawai toko 
yang saya suruh menunggu saya datang, bukan rampoknya....).

  Saya mulai beraksi (menggantikan aksi film TV yang saya tinggal). Pengawas 
dan pegawai toko tidak berhasil saya hubungi ke HP-nya. Lalu buru-buru saya 
coba menghubungi tetangga toko saya, dengan maksud untuk minta tolong menengok 
apa yang terjadi di sana sementara saya dalam perjalanan 30 menit dari rumah 
menuju toko. 

  (Ya.., ya.., tetangga adalah mahluk yang sering kita kesampingkan pada saat 
dunia sedang aman dan damai, tapi tiba-tiba menjadi sangat penting peranannya 
ketika terjadi keadaan darurat. Kalau kemudian dunia kembali aman dan damai, ya 
lupa lagi sama tetangga. Ugh...! Kasihan deh, jadi tetangga. Untungnya, saya 
tidak tergolong sebagai mahluk yang abai terhadap tetangga).

  Ee, lha kok ndilalah....., no HP yang saya hubungi nyasar ke seorang teman 
lama yang kebetulan namanya sama dengan nama tetangga toko yang mau saya 
hubungi. Maksud hati mau bicara to the point, apa daya pembicaraan dengan teman 
lama saya itu malah susah untuk diputus. Bagi teman saya itu : "Kebetulan sudah 
lama tidak ketemu mas Yusuf...". Weleh...., malah jadi kangen-kangenan. Lha 
saya sedang buru-buru dan rada sentress, je... 

  Setelah pembicaraan kangen-kangenan dengan teman lama berhasil diselesaikan 
dengan baik, saya lalu berubah pikiran untuk menghubungi petugas keamanan desa 
Madurejo, yang juga tetangga toko saya. Langsung saja saya minta beliau untuk 
menuju TKP dan minta tolong melakukan apa-apa yang perlu dilakukan sebelum saya 
tiba di sana.

  *** 

  Sekitar jam 21:30 saya tiba di toko bersama istri dan kedua anak saya yang 
kepingin tahu apa yang terjadi di toko. Toko sudah ditutup, tapi di depan toko 
masih ramai orang, di antaranya beberapa petugas polisi dari Polsek Prambanan. 
Istri saya segera menemui pegawai-pegawai toko yang masih shock, sedangkan saya 
langsung menuju TKP ditemani oleh petugas kepolisian dan seorang tetangga saya. 
Kronologi peristiwa perampokan justru saya dengar dari kedua orang yang 
menemani saya itu, sambil saya menginspeksi situasi meja kasir dimana 
perampokan terjadi, sambil saya men-jeprat-jepret-kan kamera, sambil saya 
berdialog. Sementara seorang pegawai kasir dan seorang temannya masih shock 
belum bisa banyak memberi keterangan.

  Menurut cerita sementara : Datanglah dua orang pemuda berboncengan naik 
sepeda motor, lalu masuk toko dan hendak membeli rokok. Seperti biasa, 
penjualan rokok dilayani kasir. Ketika sepertinya hendak membayar di kasir, 
tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kasir sambil menggertak agar uang di 
laci segera diserahkan. Laci kasir lalu ditarik dan di-oglek-oglek ternyata 
tidak bisa dibuka (kebetulan sistem komputer belum dalam posisi melakukan 
transaksi, jadi ya tidak bisa dibuka..... Agak bodoh juga rupanya rampok 
ini..., agaknya mereka masih perlu sedikit belajar tentang perkasiran.....).

  Karena tergesa-gesa sebelum diketahui orang lain, laci di bawah meja kasir 
dibuka, dan diraihlah sebundel uang cadangan yang ada di sana (tadi malam saya 
perkirakan jumlahnya sekitar satu koma tiga juta rupiah, tapi setelah tadi pagi 
dihitung ulang dari data komputer ternyata jumlanya "hanya" tujuh ratus tiga 
puluhan ribu rupiah). Barangkali merasa bahwa uang jarahannya tidak banyak, 
sang penyamun itu lalu meminta HP milik mbak kasir. Kemudian secepat kilat 
mereka kabur nggendring..... berboncengan sepeda motor menuju arah selatan, dan 
menghilang ditelan malam.

  Puji Tuhan walhamdulillah, sang penyamun gagal menggasak hasil penjualan toko 
saya sehari kemarin (kita sering tidak ngeh, rupanya ada juga kegagalan yang 
haus di-alhamdulillah-i...). Tapi... siwalan bener, mereka berhasil membuat 
shock dan menjatuhkan mental pegawai saya.

  Secara materi, kerugian yang ditimbulkan oleh aksi perampokan ini relatif 
tidak seberapa, kerusakan fasilitas toko tidak ada, korban juga tidak jatuh. 
Akan tetapi kerugian immaterial sungguh tidak kecil. Dua orang pegawai saya 
hampir pingsan, belum bisa diajak bicara hingga malam, hanya bisa menangis 
sesenggukan. Sekitar jam 10 malam, kedua pegawai saya itu saya antarkan pulang 
ke rumahnya di lereng perbukitan sebelah timur Madurejo. Saya serahkan kepada 
keluarganya yang ummnya sudah beristirahat malam dan terkejut mendapati anak 
perempuan mereka yang pulang dari kerja tidak seperti biasanya. Salah satunya 
harus berjalan dipapah sambil masih menangis gero-gero (meraung) dan seorang 
lagi malah harus dibopong (diangkat dengan kedua tangan) dan tidak bisa berucap 
apa-apa selain sesenggukan. Menjadi kewajiban saya untuk menjelaskan apa yang 
terjadi, meminta maaf dan berterima kasih kepada keluarganya. 

  Peristiwa perampokan tadi malam itu langsung ditangani oleh pihak kepolisian 
Sektor Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Meski untuk urusan pelaporan itu, tadi 
malam saya harus berada di kantor Polsek hingga jam 01:30 dini hari. Menemani 
pak polisi yang sedang bekerja agar baik jalannya....., mengisi beberapa lembar 
kertas berjudul Laporan Tuntas dan Laporan Polisi rangkap tiga berkarbon, 
menggunakan mesin ketik Brother yang sudah karatan dan tanpa kap atasnya. 
Diiringi bunyi cethak-cethok...pencetan jari tengah tangan kiri dan jari 
telunjuk tangan kanan, dan memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikannya. 

  Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dengan 
menjawab 17 pertanyaan (jadi ingat berita tentang pemeriksaan tersangka korupsi 
yang oleh koran selalu disebut jumlah pertanyaannya). Hal yang terakhir ini 
diketik dengan komputer, tapi tetap saja berjalan lambat karena nampaknya pak 
polisi juga sangat hati-hati dalam menyelesaikannya (maklum, BAP adalah dokumen 
hukum yang setiap kalimatnya menjadi sangat berarti ketika misalnya kasus itu 
naik ke proses peradilan). Saya harus memakluminya, meski untuk itu saya, istri 
dan anak-anak harus pulang sampai rumah jam 02:00 dini hari.

  *** 

  Perihal kerugian dari kejadian perampokan ini rasanya langsung bisa saya 
ikhlaskan. Eee..., barangkali kedua penyamun itu sedang butuh biaya pengobatan 
keluarganya (meski hati saya berprasangka juga, jangan-jangan malah buat 
bok-mabbok dan ler-teller....). Kini tinggal tugas saya dan istri untuk 
memulihkan moral dan semangat kerja pegawai saya yang sempat shock dan jatuh 
mentalnya akibat mengalami peristiwa perampokan (menurut istilah kepolisian 
disebut curat alias pencurian dengan pemberatan) yang bagi pegawai saya bisa 
berakibat sangat traumatis.

  Akhirnya, pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa saya harus bisa memetik 
pelajarannya. Lho? Embuh-lah..... Tapi yang saya yakini pasti adalah bahwa di 
dunia in tidak ada peristiwa yang kebetulan. Daun jatuh saja diurus dengan 
sangat cermat oleh Tuhan. Apalagi peristiwa perampokan yang melibatkan banyak 
pihak, pasti Tuhan punya "naskah" skenario yang sangat tebal. Mudah-mudahan 
saya mampu membaca dan memahaminya. 

  Madurejo - Sleman, 6 Januari 2009
  Yusuf Iskandar

  http://madurejo.wordpress.com
  http://yiskandar.wordpress.com



   *****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se- Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta
***************************************** 

*****************************************
Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
Banten dan DKI Jakarta.

Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
s/d 8.00 se- Jabodetabek, Banten, Karawang dan
Purwakarta
*****************************************

Kirim email ke