Jeda Perang
-----------

Ada perkembangan baru dari perang Israel vs. Hamas di Jalur Gaza, yaitu 
disepakatinya "perubahan jadwal" pada agenda harian perang, untuk tidak perang. 
Kedua belah pihak yang sedang bertikai sepakat  untuk menambah agenda harian 
berupa genjatan senjata alias jeda perang selama 3 jam (jam 13 s/d 16 waktu 
setempat) setiap harinya guna memberi kesempatan bagi misi kemanusiaan.

Dalam bayangan saya, begitu jam 1 teng...., para pejuang di kedua belah pihak 
akan segera meletakkan senjatanya dan melepas nafas panjang, lalu berhamburan 
ada yang melakukan upaya pertolongan pada pasukan yang cedera, menata kembali 
perlengkapan dan persenjataannya, mengatur strategi berikutnya, dsb. Bagi 
masyarakat sipil segera akan berhamburan menolong korban, menambah perbekalan 
dan kebutuhan hidup, memperbaiki kerusakan prasarana sebisanya, dsb. Hingga 
nanti kembali masuk lubang persembunyian menjelang jam 4 teng...., menunggu 21 
jam berikutnya untuk kembali bisa menghirup udara segar tak berbau mesiu.

Ikhwal jeda perang ini mengingatkan saya pada peristiwa perang suku di Papua 
(masyarakat setempat mengucapkannya dengan perang tuku, huruf 's' dilafalkan 
't'). Sekali waktu terjadi tawuran antar kampung di wilayah kabupaten Mimika, 
karena umumnya di tanah Papua beda kampung sudah beda suku, maka sebut saja 
perang suku.

Pagi hari, usai sarapan (dan sepertinya jarang yang mandi) perang segera 
dimulai, entah siapa yang mendahului. Tanpa bunyi dar-der-dor dan tanpa suara 
dentum senjata, melainkan teriakan hooooooo..... huuuuuuuuu..... dengan tombak 
dan panah beracun siap membidik sasaran tembak (meski tidak menggunakan senjata 
yang ditembakkan). Aura kemarahan demikian memuncak untuk saling melawan dan 
memusuhi antar kedua belah pihak yang saling berseteru, yang seringkali dipicu 
oleh sebab yang sepele.

Namun saat tiba waktunya istirahat ketika kedua belah pihak mulai lelah dan 
capek, begitu saja tiba-tiba keduan kelompok berhenti berperang. Ketika tiba 
waktunya makan siang, mereka akan berhenti untuk makan siang dulu. Pun jika 
tiba waktunya untuk minum kopi (sebut saja coffee break), kedua kelompok yang 
tadi saling berhadap-hadapan akan serentak berhenti mengambil jeda waktu untuk 
menjerang air, bikin kopi, merokok, makan pinang, merawat yang cedera, 
cengengesan, ejek-mengejek. Lengkingan huuuuuuu..... pun berubah menjadi 
cekikikan ha-ha-hi-hi...... Perang akan dilanjutkan kembali setelah itu, entah 
bagaimana aba-abanya.
 
Saat sore hari tiba, masing-masing pasukan akan balik-kanan-bubar-jalan dan 
pulang beristirahat agar esok badan kembali segar dan siap perang lagi. Tidak 
tahu kapan berakhirnya. Namun jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk 
membalas dendam akan terus membara, hingga akhirnya pemerintah terpaksa turun 
tangan mendamaikan mereka. Sementara di Jalur Gaza nun jauh di sana, entah 
pemerintah mana yang harus turun tangan. Wong tangan-tangan yang ada semua 
berada naik menggenggam kepentingannya masing-masing.
  
Meski perang suku di Papua terkesan primitif dengan memanfaatkan senjata 
tradisional seadanya, namun naluri kemanusiaan terbangun secara otomatis (yang 
mereka sendiri sebenarnya tidak paham benar naluri kemanusiaan itu jenis 
makanan apa). Yang mereka tahu adalah bahwa ada kebutuhan manusia (yang sedang 
berperang) yang tetap harus dipenuhi, lebih penting ketimbang perang itu 
sendiri. Karena itu perlu ada jeda perang yang tidak harus diatur dengan jam, 
melainkan sesuai naluri alamiah seiring berjalannya waktu dan hajat kebutuhan 
manusia pelakunya.
 
Indah sekali..... (Lho, perang kok indah? Setidak-tidaknya, tidak lebih 
nggegirisi atau mengerikan, dibanding yang terjadi di Jalur Gaza).

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar



      

Kirim email ke