Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul
--------------------------------------------------- 
 
Belum lagi gerhana matahari cincin berlalu, anak-anak dan istri di depan 
televisi bersorak dan tertawa cekikikan. Ada apakah gerangan? Rupanya baru saja 
disiarkan berita tentang fatwa MUI bahwa rokok haram.
 
Kata anak laki-laki saya sambil cengengesan : ”Ha..ha..ha.., uang saku saya 
bakal nambah Rp 10.000,- per hari.....”.
 
Celetukan ibunya lain lagi, kedengaran lebih bijaksana : ”Yo wis, ganti ngemut 
permen Davos saja, semriwing......”.
 
Ya...ya.... Bukan soal rokoknya atau haramnya yang mengusik pikiran saya. 
Biarlah MUI berfatwa, perokok terus berlalu (tidak jadi mampir kios rokok, 
maksudnya). Melainkan sebutan permen Davos ibunya anak-anak tadi mengingatkan 
saya pada jenis permen jadul berbungkus warna biru tua yang rasa pedas 
semriwing-nya jadi ngangenin. Sensasi pedas mint-nya sangat khas dan tak 
tertandingi bahkan oleh aneka jenis perment rasa mint jaman sekarang.
 
Beberapa waktu yang lalu saya diherankan oleh sajian permen Davos di toko saya. 
Sempat saya pilang-piling (cermati) apakah memang benar ini permen yang sangat 
populer pada jaman saya kecil sekian puluh tahun yang lalu. Dan ternyata memang 
benar, bahwa itu adalah Davos permen jadul alias jaman dulu. Sepertinya sudah 
lama sekali saya tidak menjumpai permen ini.
 
Bungkusnya yang berwarna biru tua dengan tulisan warna putih terlihat begitu 
klasik. Sejak jaman dulu hingga sekarang tak juga berubah sedikitpun, baik 
warna, ukuran, desain bahkan rasanya. Kini permen produksi PT Slamet Langgeng, 
Purbalingga, Jateng, itu benar-benar langgeng memasuki usianya yang lebih 77 
tahun.
 
Setiap bungkus permen Davos seberat 25 gram berisi susunan 10 buah permen warna 
putih berukuran diameter 22 mm dan tebal 5 mm (sengaja saya ukur dengan 
penggaris agar lebih jelas deskripsinya), dengan tulisan Davos melintang di 
tengahnya. Bentuk dari setiap biji permennya sangat presisi dan terlihat rapi. 
Komposisinya tertulis : gula, stearic acid, dextrin, gelatin, menthol dan 
pepermint oil. Di bungkus luarnya tertulis : Extra Strong Permen. Karena itu 
saya ingat waktu kecil dulu kalau mengulum permen Davos cukup separoh saja, 
sebiji dibagi dua. Selain karena pedasnya juga karena ukurannya yang terlalu 
besar. Tapi semriwing enak...
 
Meski dalam perjalanannya PT Slamet Langgeng pernah mencoba memproduksi 
berbagai varian dari permen ini, namun tetap saja jenis Davos yang berbungkus 
biru ini yang paling banyak digemari. Pak Budi Handojo Hardi selaku pimpinan 
perusahaan heran, produknya laris manis saat musim panen tiba, terutama untuk 
wilayah kotanya. Lihat saja ketika musim panen tiba, para buruh tani di 
Purbalingga sambil memanen padi sambil ngemut permen Davos. Juga halnya ketika 
musim haji tiba, permintaan permen Davosnya meningkat. Barangkali untuk bekal 
mut-mutan di pesawat. Tapi permintaan pasar turun saat musim buah dan musim 
penghujan tiba. Begitulah, musim-musim yang telah ditandai oleh Pak Budi.       
 
Budi Handojo Hardi adalah generasi ketiga dari perusahaan produsen permen 
Davos. Perusahaan keluarga itu berdiri pertama kali pada tanggal 28 Desember 
1931 oleh kakek Budi Handojo, yaitu Siem Kie Djian. Begitu seterusnya 
perusahaan ini turun-temurun berganti-ganti pimpinan dari keluarga kakek Siem. 
Juga mengalami pasang surut sejak jaman Belanda, Jepang hingga pasca 
kemerdekaan, dan akhirnya sejak tahun 1985 dipegang oleh Budi Handojo.
 
Pemilihan nama PT Slamet Langgeng pun dilandasi oleh filosofi dan cita-cita 
yang sangat sederhana. Kata ”Slamet” dipilih karena perusahaan itu berada di 
kota Purbalingga yang terletak di kaki Gunung Slamet. Kata ”Langgeng” adalah 
harapan agar perusahaan ini tetap abadi. Sedangkan nama ”Davos” diambil dari 
nama sebuah kota kecil di Swiss yang berhawa sejuk, maka jadilah Davos dipilih 
sebagai merek permen rasa mentol yang pedas-pedas semriwing.
 
Meski peredaran produk permen Davos ini hanya di seputaran pedesaan Jateng, DIY 
dan sebagian Jabar, tetapi faktanya hingga kini produk permen Davos tetap eksis 
dan langgeng tak tertelan jaman. Padahal produk ini sejak dulu kala tidak 
pernah memasang iklan di media manapun. Hanya mengandalkan kekuatan promosi 
gethok tular (word of mouth) dan kepercayaan antar produsen, penjual dan 
konsumen.
 
Harganya relatif murah. Sebungkus permen Davos berisi sepuluh biji di toko saya 
(Madurejo Swalayan, kecamatan Prambanan, Sleman) dijual seharga Rp 900,- 
(sembilan ratus rupiah). Dijamin murah plus rada megap-megap kepedasan tapi 
semriwing enak dan tidak kering di tenggorokan.
 
Sejak saya jumpai permen Davos di toko saya, permen jadul ini sering nyisip di 
dalam ransel yang saya bawa kemana-mana. Minimal bisa untuk obat ngantuk 
seperti dulu pernah saya berikan kepada sopir taksi di Jakarta yang mengemudi 
sambil ngantuk, atau kalau kebetulan ikut pertemuan lalu terkantuk liyer-liyer. 
Meski ini permen jadul, tapi masih layak gaul terutama bagi generasi yang 
pernah mengalami kejayaan permen pedas ini sekian puluh tahun yang lalu dan 
bagi para buruh tani di pedesaan Jateng selatan.
 
Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar  
 
http://yiskandar.wordpress.comhttp://madurejo.wordpress.com


      

Kirim email ke