bener Mas YUISKAN,...kalau saya ketika jaman mbiyen(thn.1963) kae mut2an ku yaitu tadi 'permen davos'<saya manggilnya DAPROS> dan permen klengkam ,itu loh yg bentuknya seperti kelereng ada yg warna abang, ijo.trus abang lurik2putih dan juga abang campur ijo<bangjo>, kemudian glali yg dibuat dari adonan gulamerah dlm wajan kecil trus kmdn dicetak dlm bentukan, misale : burung perkutut,dan kepala golekan <boneka> trus di ditiup hingga mekar trus mlembung sesuai dng cetakannya...,whaduhh saya bangga bangettt trus tak iming2ngake karo adek2ku. lha klo permen davos,saya masih terkenang ketika naek sepur klutuk <mbiyen kae di kota kendal dilewati sepur klutuk bentuknya lonjong ireng koyo areng ono crobonge kanggo metune abluk, abluk iku bahasa katrok alias ndeso,klo indonesia ne asap,dibelakangnya ada salah satu kompartement khusus utk naroh bahanbakar berupa areng sterngkel, <mungkin yg dimaksud skrang ini 'batubara'>,lha didalam gerbong sepur ada yg jualan asongan,orang tadi cara menjajakan nya juga semanak<familiar> banget : --monggo2 niki lho permen davros atis<dingin>rasane,permen saparela,kuwatji, kacangkulit cap roket dst. --rokok Rimboe <ketika itu rokok yg paling ngetop sak kendal> gempi rasane,rokok cap pompa,rokok cap sukun,rokok Komodor/Kansas/ESCORT/<kolo rumiyin dereng wonten rokok yg make 'filter'>ROKOK KLOBOT cap Buah Anggur, nek sing ngelu sirahe cekhot cekhot.. iki lho PPO<PakPungOil>,balsem cap Macan,balsem bingtang toedjoeh semriwing rasane...wonten maleh meniko, dom,bolah,jungkat,koco pengilon,silet <maksude:jarum,benang,sisir,kaca cermin.>,barang dagangan iku mau yg dijual utk kebutuhan wong lelungan,mbok menowo lali nggowo soko omah. Lha mengenai permen DAVOS' atau saya manggilnya permen dapros' regane srupiyah, telungsuku regane permen Saparela. Nek Davos wau meniko,bungkusane biru lan jerone ono grenjenge.juga permen Saprela itu tadi. ITU tadi Mas.., ketika saya naek sepur saking KENDAL ALOENALOEN nuju wonten ing tasiyun PegandonKalibodri, saya masih terkenang makai baju merk Casmilon kotak-kotak biru,celana pendek drill warna coklat tua,nganggo sandal karet bandol<ban bodol> rambut ku tak sisir belah pinggir <kados RAMBUTsisirane pak SBY>pakai minyak rambut<pomade> merk Tancho yg saya beli di Toko SUKRI ngajeng pasar Kendal,minyak rambut pomade Tancho meniko sangat ngetop waktu semanten,trus wonten maleh cap Lavender,Erasmic, yg setiap saat tak lupa tak rapiin pake jungkat,dan terkadang konco2 kae ngunek'ake aku 'gemagus' : - coba deloken kae anake wak kaji Maksum, gemagus!!! lha aku ethok ethok ra krungu tur mbudeg,trus saya ndenger kabar yang ngunek nguneake saya tadi sudah 'tilar donyo',Innalillahi. -Permen davos,permen klengkam,glali,bandos,es'cao,semua itu mengingatkan masa kecil di desa Soekodono-Kendal,baik ketika waktu di sekolah rakjat,ketika nonton wayang kulit,lihat arak2an agustusan,lihat tontonan lais di desa nJothang,Bulugede, ambyur ambyuran di semeter <bendungan irigasi> di desa Trompo,lomban di Bandengan,nonton barongan di Desa Ketapang,nonton ketoprak di desa DempelRejo, nonton dagelan Lekra di PutatGede,lihat Kentrung,Rempek di Ds. BodjongGede, maling Tebu di Dampalredjo, lihat atraksi jual Jamu BOPO BIJUNG di Koplak PasarPutat,trus lihat Doeng Pengilon di Ds.Magangan/Djatiredjo-trus mulihe muter lewat Puguh-Nggandon-Putjangredjo-Gubugsari-BojongGEDE-PutatGede-trus adus ambyur ambyuran neng kali cedak kretek protelon, .... baline babakbelur di ajar karo emak..whaduuuhh pahaku biru erem abuh kabeh.di cethot karo si'EMak. Memang leres Mas, permen Davos,permen Jadul, tapi kolo rumiyin ingkang namine 'gaul' kulo dereng 'ngertosz'....'Nuwun cekap semanten, salam kagem Pak'UPIN,MasJamal,dan para netter di KOL, MOGA SEMUANYA SEHAT WAL AFIAT tansah Rukun dan damai,diparingi rezeqi,dan Semoga saja putra putri sekaliyan panjenengan kedah di jaga kesehatannya,pendidikan di utamakan,agama dan budipekerti,hormat dumateng Bapak/Ibu dan utamanya kepada Ingkang Murbeng Dumadi GUSTI ALLAH. -Jangan seperti saya ketika itu :ndugal,mbeler,dan katrok hingga Sekolahan Rakjat saja ndak tamatttt...,ngaji mboten khatam.. duuhh nyeselll saiki di usia hampir suwidak sidji. asmoe'ie bin h.maksum asli Soekadono-Kec./Kab.Kendal. Jawa Tengah.
--- Pada Sen, 26/1/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> menulis: Dari: Yusuf Iskandar <[email protected]> Topik: [kendal-online] Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul Kepada: "Kendal Online" <[email protected]> Tanggal: Senin, 26 Januari, 2009, 10:57 AM Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul ------------ --------- --------- --------- --------- --- Belum lagi gerhana matahari cincin berlalu, anak-anak dan istri di depan televisi bersorak dan tertawa cekikikan. Ada apakah gerangan? Rupanya baru saja disiarkan berita tentang fatwa MUI bahwa rokok haram. Kata anak laki-laki saya sambil cengengesan : ”Ha..ha..ha.. , uang saku saya bakal nambah Rp 10.000,- per hari.....”. Celetukan ibunya lain lagi, kedengaran lebih bijaksana : ”Yo wis, ganti ngemut permen Davos saja, semriwing......”. Ya...ya.... Bukan soal rokoknya atau haramnya yang mengusik pikiran saya. Biarlah MUI berfatwa, perokok terus berlalu (tidak jadi mampir kios rokok, maksudnya). Melainkan sebutan permen Davos ibunya anak-anak tadi mengingatkan saya pada jenis permen jadul berbungkus warna biru tua yang rasa pedas semriwing-nya jadi ngangenin. Sensasi pedas mint-nya sangat khas dan tak tertandingi bahkan oleh aneka jenis perment rasa mint jaman sekarang. Beberapa waktu yang lalu saya diherankan oleh sajian permen Davos di toko saya. Sempat saya pilang-piling (cermati) apakah memang benar ini permen yang sangat populer pada jaman saya kecil sekian puluh tahun yang lalu. Dan ternyata memang benar, bahwa itu adalah Davos permen jadul alias jaman dulu. Sepertinya sudah lama sekali saya tidak menjumpai permen ini. Bungkusnya yang berwarna biru tua dengan tulisan warna putih terlihat begitu klasik. Sejak jaman dulu hingga sekarang tak juga berubah sedikitpun, baik warna, ukuran, desain bahkan rasanya. Kini permen produksi PT Slamet Langgeng, Purbalingga, Jateng, itu benar-benar langgeng memasuki usianya yang lebih 77 tahun. Setiap bungkus permen Davos seberat 25 gram berisi susunan 10 buah permen warna putih berukuran diameter 22 mm dan tebal 5 mm (sengaja saya ukur dengan penggaris agar lebih jelas deskripsinya) , dengan tulisan Davos melintang di tengahnya. Bentuk dari setiap biji permennya sangat presisi dan terlihat rapi. Komposisinya tertulis : gula, stearic acid, dextrin, gelatin, menthol dan pepermint oil. Di bungkus luarnya tertulis : Extra Strong Permen. Karena itu saya ingat waktu kecil dulu kalau mengulum permen Davos cukup separoh saja, sebiji dibagi dua. Selain karena pedasnya juga karena ukurannya yang terlalu besar. Tapi semriwing enak... Meski dalam perjalanannya PT Slamet Langgeng pernah mencoba memproduksi berbagai varian dari permen ini, namun tetap saja jenis Davos yang berbungkus biru ini yang paling banyak digemari. Pak Budi Handojo Hardi selaku pimpinan perusahaan heran, produknya laris manis saat musim panen tiba, terutama untuk wilayah kotanya. Lihat saja ketika musim panen tiba, para buruh tani di Purbalingga sambil memanen padi sambil ngemut permen Davos. Juga halnya ketika musim haji tiba, permintaan permen Davosnya meningkat. Barangkali untuk bekal mut-mutan di pesawat. Tapi permintaan pasar turun saat musim buah dan musim penghujan tiba. Begitulah, musim-musim yang telah ditandai oleh Pak Budi. Budi Handojo Hardi adalah generasi ketiga dari perusahaan produsen permen Davos. Perusahaan keluarga itu berdiri pertama kali pada tanggal 28 Desember 1931 oleh kakek Budi Handojo, yaitu Siem Kie Djian. Begitu seterusnya perusahaan ini turun-temurun berganti-ganti pimpinan dari keluarga kakek Siem. Juga mengalami pasang surut sejak jaman Belanda, Jepang hingga pasca kemerdekaan, dan akhirnya sejak tahun 1985 dipegang oleh Budi Handojo. Pemilihan nama PT Slamet Langgeng pun dilandasi oleh filosofi dan cita-cita yang sangat sederhana. Kata ”Slamet” dipilih karena perusahaan itu berada di kota Purbalingga yang terletak di kaki Gunung Slamet. Kata ”Langgeng” adalah harapan agar perusahaan ini tetap abadi. Sedangkan nama ”Davos” diambil dari nama sebuah kota kecil di Swiss yang berhawa sejuk, maka jadilah Davos dipilih sebagai merek permen rasa mentol yang pedas-pedas semriwing. Meski peredaran produk permen Davos ini hanya di seputaran pedesaan Jateng, DIY dan sebagian Jabar, tetapi faktanya hingga kini produk permen Davos tetap eksis dan langgeng tak tertelan jaman. Padahal produk ini sejak dulu kala tidak pernah memasang iklan di media manapun. Hanya mengandalkan kekuatan promosi gethok tular (word of mouth) dan kepercayaan antar produsen, penjual dan konsumen. Harganya relatif murah. Sebungkus permen Davos berisi sepuluh biji di toko saya (Madurejo Swalayan, kecamatan Prambanan, Sleman) dijual seharga Rp 900,- (sembilan ratus rupiah). Dijamin murah plus rada megap-megap kepedasan tapi semriwing enak dan tidak kering di tenggorokan. Sejak saya jumpai permen Davos di toko saya, permen jadul ini sering nyisip di dalam ransel yang saya bawa kemana-mana. Minimal bisa untuk obat ngantuk seperti dulu pernah saya berikan kepada sopir taksi di Jakarta yang mengemudi sambil ngantuk, atau kalau kebetulan ikut pertemuan lalu terkantuk liyer-liyer. Meski ini permen jadul, tapi masih layak gaul terutama bagi generasi yang pernah mengalami kejayaan permen pedas ini sekian puluh tahun yang lalu dan bagi para buruh tani di pedesaan Jateng selatan. Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560) Yusuf Iskandar http://yiskandar. wordpress. comhttp://madurejo. wordpress. com Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

