Sdh serng lht iklannya,tp blm pernh mncoba...katnya sring dpke buat foto para model ya pak?
Yusuf Iskandar wrote: > Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta ------------ > --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ----- > Banyu mili , dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa > merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf > ’m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau > mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana > segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. > Nampaknya kesan itu pula yang hendak "dijual" oleh pemilik resto Banyu Mili > di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta. Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu > masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang > mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan > Godean Km > 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan > tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja > bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. > Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah > dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain > dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), > lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati > taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling. > Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau > mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah > meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi. > Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung > fokus ke menu makan yang disajikan melalui > dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah > tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung , > bingung juga ketika hendak memesan makanan. Sebuah kombinasi suasana hati > yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang > sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak > sekali, yaitu lapar tapi bingung... Sudah tahu sedang lapar dan kepingin > segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan > memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit. Jalan keluarnya, > percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu > udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu > cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan > kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, > sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau > menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu > yang brasa lebih dan lebih brasa …. Coba bayangkan... .. ( walah...., lha > saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya. ...). > Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya > terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya > mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan > menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis > madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, > kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor > udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja. Gurami bumbu cobek > sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring > dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng > setengah > matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya > hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya > begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang > sedang lapar...., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada > mubazir...). Meski bukan restoran spesial seafood , namun cara membumbui > kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng > dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat > sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang > agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski > masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya. > Walhasil, semuanya wes...ewes.. .ewes... bablasss tak bersisa. Tinggal kulit > udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal > harga secara umum memang > sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu > sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan > oleh para pencari makan. Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini > memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas > pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga > yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik > tersendiri. Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau > buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam > bukanya pukul 10.00 - 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu > sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 > - 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus > tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih. Yogyakarta, 26 Januari 2009 > (Tahun Baru Imlek 2560) Yusuf > Iskandar http://yiskandar. wordpress. com http://madurejo. wordpress. com >

