Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri
---------------------------------------------------------------
 
Ikan bandeng memang memiliki citarasa berbeda dibanding ikan lainnya. Namun 
untuk menikmatinya acapkali nyali si calon pemakan sudah ciut kalau ingat duri 
bandeng kelewat banyak termasuk duri-duri kecil yang seakan tersusun rapi 
menyelimuti sekujur tubuh ikan bandeng.
 
Makan bandeng presto atau yang juga dikenal sebagai bandeng berduri lunak 
adalah salah satu solusi menikmati bandeng tanpa takut terganggu duri. Namun 
pada bandeng presto yang dimasak pada temperatur tinggi itu duri-durinya masih 
tetap melekat di dalam dagingnya, hanya saja durinya menjadi lunak atau empuk 
ketika digigit atau dikunyah. 
 
Pilihan lain untuk menikmati bandeng adalah makan bandeng tanpa duri. 
Duri-durinya benar-benar dihilangkan sehingga dijamin si pemakan bandeng akan 
terbebas dari tertelan duri. Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan, saat 
enak-enaknya makan ikan tiba-tiba durinya tertelan dan tersangkut di 
tenggorokan. Selezat apapun masakan yang disajikan, segera buyar selera 
kenikmatannya. 
 
Peristiwa tertelan duri ikan, oleh orang Jawa disebut ke-lek-an ri, yang lebih 
berkesan dramatis ketimbang menyebut tertelan duri. Kalau orang Jawa mengatakan 
ke-lek-an ri, seolah menggambarkan telah terjadi sebuah tragedi yang sukar 
dilukiskan penderitaannya. Herannya, kebanyakan peristiwa ini dialami oleh 
anak-anak. Entah karena tenggorokan anak kecil masih berlubang sempit atau 
karena anak kecil biasanya belum mampu mengamalkan prosedur yang aman untuk 
makan ikan berduri.
 
Ingat masa kecil ketika mengalami ke-lek-an ri (tertelan duri)? Sedang 
enak-enaknya muluk (menjumput) nasi putih hangat yang di-ciprat-i kecap manis, 
tiba-tiba mak sek......, nafas serasa terhenti, dada sesak, gigi meringis 
menahan rasa sakit, mata agak melotot tertahan (karena malu dilihat orang) tapi 
titik air mata tak bisa ditahan juga, ketika sebatang duri kecil tertelan dan 
nyangkut di tenggorokan. Ugh.....! Diminumi banyak-banyak hanya membuat perut 
kembung saja, karena air minum hanya permisi lewat di tenggorokan.
 
Orang tua kita biasanya lalu menganjurkan : ”Nge-lek sego..., nge-lek sego...!” 
(menelan nasi). Kita pun disuruh makan nasi tapi tidak dikunyah dulu melainkan 
langsung ditelan saja. Tujuannya agar gerombolan butir nasi tadi rame-rame 
mendorong duri yang nyangkut di tenggorokan seperti para demonstran yang 
mendorong-dorong pintu pagar gedung DPR, sehingga duri akan terdorong masuk ke 
perut. Perkara di dalam perut kemudian duri nusuk-nusuk lagi ya itu urusan 
nanti.
 
Cilakanya, menelan nasi tanpa dikunyah adalah bukan pekerjaan mudah. Perlu 
energi ekstra untuk mampu melakukannya. Belum lagi kalau setelah rombongan nasi 
ditelan beberapa kali ternyata pertahanan duri di tenggorokan tak kunjung roboh 
juga. Akibatnya perut pun lalu merasa sudah kenyang sebelum makan. Ya, makan 
nasi putih thok itu tadi....
 
(Weleh...., lha saya ini mau cerita ikan bandeng bebas duri kok malah tentang 
keloloden ri..., tertelan duri).
 
***
 
Di kota Yogyakarta, salah satu pilihan menikmati ikan bandeng tanpa duri ada di 
Gama Candi Resto yang berlokasi di penghujung selatan Jl. P.Mangkubumi. 
Tepatnya di depan seberang timur stasiun Tugu, pas di pojokan jalan yang 
membelok ke kiri yang di pojokan jalannya terdapat tugu jam kota yang salah 
satu jamnya tanpa jarum (heran juga sama Pemkot Jogja ini, lha wong jam tanpa 
jarum kok ya nekat dipasang di tengah kota.....). 
 
Menempati sebagian ruangan di sisi sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi, 
restoran Gama Candi menyandang judul menu nasi uduk dan ikan bakar. Lokasinya 
memang sangat strategis, memandang ke arah selatan dari teras smoking-area 
resto ini terlihat bangunan hotel Garuda, kepadatan ujung utara Jl. Malioboro 
dan rangkaian kereta api (kalau pas ada kereta lewat, tentu saja)
 
Bandeng tanpa duri yang disebut sebagai bandeng tambak kropok adalah salah satu 
menu unggulannya. Selain bandeng, juga tersedia cumi-cumi, kerang, kepiting, 
udang, ikan jepang (shisamo), tahu goreng, sayuran, trancam (bukan terancam 
dengan sisipan huruf ’e’), ca baby buncis (yang ini hoenak tenan....), ca taoge 
ikan asin dan aneka sayuran lainnya serta jus. Ada pilihan nasi biasa dan nasi 
uduk.   
 
Bandeng tambak kropok (sampai sekarang saya juga tidak tahu kenapa disebut 
demikian), daging bandengnya memang benar-benar tak mengandung duri (entah 
siapa pula yang tekun nduduti..., mencabuti duri-duri kecil ikan bandeng ini 
hingga begitu bersih). Ikan bandeng ini disajikan di atas piring oval putih 
sebagai bandeng goreng yang sudah dibumbui gurih dipadu dengan guyuran sambal 
kecap manis bercampur irisan cabe dan bawang merah mentah. Dipotong dengan 
pisau di atas piringnya, lalu disendok atau atau digarpu atau bisa juga 
di-usek-usek dengan tangan ke sambal kecapnya, lalu dikunyah bebas saja tanpa 
khawatir ada duri yang nyisip, sebelum akhirnya ditelan. 
 
Sebaiknya dimakan saat dalam kondisi masih agak panas dan jangan lupa dengan 
sambal kecapnya. Bumbunya terasa seperti kurang merasuk ke dagingnya, karena 
itu cocolan ke sambal kecap akan membantu mengantarkan si pemakan pada 
kesimpulan : ”hoenakeee....”.. Meski suka akan bandeng, sebaiknya jangan 
tinggalkan untuk menikmati menu cumi-cumi, tahu goreng dan ca baby buncisnya.
 
Suasana tata ruang resto yang dirancang demikian rapi dan enak ditempati, 
dipadu dengan pelayanan yang bagus dan ramah, lalu akhirnya dibayar dengan 
harga yang sangat wajar, membuat penikmat masakan ikan-ikanan kiranya cukup 
merasa puas. Seporsi bandeng tambak kropok harganya Rp 35.000,- cukup untuk 2-3 
orang yang tidak sedang kemaruk baru sembuh dari sakit.  
 
Gama Candi Resto di Yogyakarta yang sudah berdiri setahunan terakhir ini masih 
seduluran dengan resto yang sama yang lebih dahulu ada di Semarang dan hingga 
kini masih diminati penggemarnya. Karena itu ada pilihan makan bandeng bebas 
duri ketika sedang berada di Yogya atau Semarang.   
 
Yogyakarta, 1 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar 
 
http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke